67 Orang Bayaran BNM Diamankan ke Polres Mojokerto

MOJOKERTO (Realita) - Kisruh yang terjadi di Desa Medali, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, Selasa (4/4/2017). Polres Mojokerto mengamankan 67 orang bayaran yang diduga kuat suruhan dari pabrik penggolahan karet PT Bumi Nusa Makmur (BNM).
Mayoritas orang bayaran itu mengaku tak tau menahu soal tujuan perekrutan untuk mendatangi posko warga Medali didekat pabrik karet. Puluhan orang suruhan yang terorganisir itu, mereka diangkut dua truk itu didatangkan untuk membongkar portal dan melakukan pengawalan truk muatan barang milik BNM.
Kedatangan orang bayaran itu tak membuahkan hasil, justru mereka mendapat perlawanan dari ribuan warga Medali dan sekitarnya. Kendati begitu, aksi main hakim tidak pecah. "Kami amankan ke sini (Polres) agar tidak menjadi amukan massa," kata AKP Airlangga Pharmady, Kapolsek Puri kepada wartawan di Polres Mojokerto selasa petang.
Kapolsek menegaskan pihaknya belum bisa memastikan apa tujuan kedatangan dari puluhan preman yang berasal dari beberapa wilayah tersebut. Selain karena masih dilakukan pendataan, penyidik juga masih melakukan pemeriksaan. "Yang pasti, ini bukan karyawan Pabrik. Tunggu hasil pemeriksaan saja," urainya.
Sementara itun Kepala Desa Medali Miftahuddin, membeberkan, puluhan orang bayaran itu datang dengan mengendarai dua truk. Dugaan kuat mereka dibayar dari pabrik karet. "Hasil introgasi kami, orang-orang ini kebanyakan di suruh perusahaan," ungkapnya.
Mifta menambahkan, sehari sebelum peristiwa ini terjadi, ada seseorang yang mengaku bernama Candra telepn ke nomor salah satu tokoh masyarakat. Dalam perbincangannya, penelpon merasa seolah-olah akan menggerakkan massa ke pabrik untuk melakukan pembongkaran portal dan pengawalan truk pengangkut limbah ke dalam pabrik. "Katanya, ayo di kerahno ae, wong podo menungsoe ae, (ayo dikerahkan saja, kan sama-sama manusianya)," ucap Mifta menirukan percakapan orang yang mengaku Candra.
Pihaknya mengaku tidak tau jelas apa yang dimaksud dalam kalimat tersebut. "Yang jelas setelah ada percakapan itu, sekarang ada kejadian seperti ini. Yang jelas, ini semua pasti ada kesengajaan atau by desain," kata Kades yang juga mantan aktifis PMII.
Sebelum terjadi kegaduhan, lanjut Mifta, puluhan orang bayaran mereka berada di dalam truk, sempat emosi dan melawan saat ditanya oleh warga yang menjaga portal pertama di akses menuju pabrik BNM tepat di Dusun Pohgurih, Desa Sumolawan, Puri secara baik-baik. "Bahkan ditemukan, juga ada yang membawa sajam," tegasnya.
Tak lama kemudian, 67 orang bayaran dievakuasi ke Polres Mojokerto untuk menghindari amukan massa yang kontra pabrik karet.. "Koordinator preman yang mengawal dua truk masuk, sekarang dia amankan warga di dalam balai desa dan diserahkan ke Polres. Tapi, yang jelas kita tidak akan anarkis," bebernya.
Kades menambahkan pihak perusahaan dan warga sebenarnya sudah besepakat hingga saat ini, warga meminta tidak ada aktifitas produksi setelah ada SK Bupati. Termasuk aktifitas keluar masukknya barang ke dalam pabrik. Apalagi sampai model menggerakkan massa masuk kepemukiman warga. "Perusahaan seakan tidak mempunyai etikat baik. Katanya menunggu proses di PTTUN, tapi kenyataan seperti ini," sesalnya.
Pantauan Realita.co, puluhan orang bayaran itu dikumpulkan di halaman depan gedung Sat Reskrim Polres Mojokerto. Dengan telanjang dada tanpa baju, mereka diinterogasi petugas. Hingga Selasa malam, massa bayaran dari rekrutmen pabrik karet, mereka dikumpulkan di Polres Mojokerto dan harus menulis surat pernyataan tidak mengulangi lagi mendukung pabrik karet.
Bahkan, 67 orang bayaran dari berbagai desa khususnya di utara sungai brantas itu, disaksikan kadesnya masing-masing saat ikrar serta membuat surat pernyataan tidak mengulangi lagi danjuga proses pemulangan para pelaku yang hendak diadu domba dengan warga. ujeck