Ada Patung Marsinah di Nganjuk

NGANJUK (Realita) - Sebuah patung karakter pejuang buruh, Marsinah akhirnya di bangun. Patung berwarna emas berdiri di pinggir jalan Nganjuk-Madiun. Lokasi itu masuk Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk.

Rupa patung sosok perempuan, mengenakan kemeja, rok, dan sepatu kets. Posisinya tegak berdiri dengan tangan kiri mengepal ke udara.

Di hadapannya berdiri sebuah prasasti dari batu marmer. Pahlawan Buruh Marsinah. Begitu bunyi kalimat yang tertera. Ya, itu adalah patung Marsinah. Pejuang buruh yang diculik dan dibunuh 21 tahun silam.

Patung berdiri di atas landasan teratai. Sementara di belakangnya, di dalam rimbun belukar, tergeletak patung serupa. Patung yang tergeletak itu, menurut warga setempat, adalah patung Marsinah yang lama. Patung itu roboh ditabrak truk saat peringatan Hari Buruh Mei 2014.

“Sopirnya sangat bertanggung jawab. Dia membuatkan patung baru yang lebih bagus, yang ada saat ini,” ucap seorang warga yang enggan disebut namanya.

Jalan utama masuk Desa Nglundo, tepat di depan patung Marsinah berdiri juga diberi nama Jl Marsinah.

Warga memberikan nama itu untuk mengenang sekaligus menghormati perempuan yang telah berkorban nyawa untuk para buruh itu.

Sekitar 200 meter dari patung Marsinah, terhampar pemakaman umum Desa Nglundo. Di situlah jenazah Marsinah dimakamkan.

“Itu mas yang di tengah, yang ada cungkupnya (atap). Ada gambarnya juga kok,” ucap seorang kakek yang tengah mencari rumput, di jalan menuju makam.

Semua warga kerap menjadi penunjuk jalan para peziarah. Hanya ada dua makam yang ditandai cungkup di pekuburan itu, satu di antaranya makam Marsinah.

Gambar sketsa wajah Marsinah menjadi penanda. Beberapa spanduk juga terpasang di pagar makam, antara lain dari K-SBSI Korwil Jatim dan Federasi Kehutanan, Industri Umum, Perkayuan, Pertanian dan Perkebunan (F-HUKATAN SBSI).

Ada juga yang meninggalkan kertas karton berbentuk hati bertuliskan “We Love Marsinah”. Spanduk-spanduk itu ditinggalkan para buruh yang berziarah.

Kepala Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Muhammad Anshori mengakui bahwa perlahan-lahan nama Marsinah menjadi identik dengan desanya. Ketika orang menyebut Nglundo, maka yang ada di benak adalah Marsinah.

"Kami semua bangga punya pejuang buruh. Tapi, kami juga prihatin dengan misteri pembunuhnya. Harapan warga, kasus kematian Marsinah bisa dibongkar tuntas. Tapi, apa mungkin, kasusnya sudah lama dan berlarut-larut,” ucap Anshori.

Keprihatian paling besar datang dari keluarga Marsinah. Meski sudah merelakan kepergiannya, mereka tetap saja tidak bisa melupakan pelaku yang sampai kini tak tersentuh hukum.

Pak Ji dan Nyonya Sini, adalah paman dan bibi Marsinah. Di rumah mereka inilah, masa kecil sang pahlawan.

Menurut Ny Sini, pihak keluarga sangat berharap si pembunuh terungkap dan diadili. Pihak keluarga pun beberapa kali berjuang mewujudkan itu. “Tapi soal itu, tanya Marsini saja. Dia yang banyak tahu,” katanya. re