AKBP Brotoseno Ditahan di Rutan Cipinang

JAKARTA (Realita)- Tersangka suap senilai Rp 2,9 milyar, AKBP Raden Brotoseno di tahan di Rumah tahanan Cipinang, Jakarta Timur oleh Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, usai menjalani pelimpahan tahap II dari Bareskrim Polri, Rabu (11/01/2017).
"Kemarin sudah tahap II dan dia (Brotoseno) dilimpahkan ke rutan Cipinang usai menjalani pemeriksaan," ungkap Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, Sarjono Turin ketika di temui di kantornya, Kamis (12/01/2017).
Sarjono juga menetapkan 5 Jaksa sebagai penuntut umum yakni Agustinus, Retno Wulandari, Sukmadi, Mifta dan Nasudin. "Ditahan selama 30 hari ke depan dan paling lama 2 minggu berkasnya dilimpahkan ke pengadilan" lanjut Sarjono.
Pada proses pemeriksaan Brotoseno telah menyesali perbuatannya dan tidak akan menghalangi proses hukum yang di jalaninya. "Dia koperatif, Insya Allah tidak mengajukan eksepsi, biar cepat selesai proses hukumnya," ungkapnya.
Selain AKBP Brotoseno turut dilimpahkan Kompol Dedi dan perantara Leksis. Mereka dijerat dengan Pasal 5 juncto Pasal 12 a UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah menjadi UU Nomor 20 Tahun 2001 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Dalam kasus korupsi cetak sawah belakangan penyidik Bareskrim intensif memeriksa Dahlan di Polda Jawa Timur. Dua kali diperiksa, terakhir pada Jumat (18/11/2016), Dahlan kembali diperiksa dalam kasus cetak sawah BUMN tahun 2012 di Kalimantan.
Dalam kasus ini penyidik telah menetapkan satu tersangka, yakni Dirut PT Sang Hyang Seri,Upik Rosalina yang saat itu menjabat sebagai Ketua tim kerja BUMN Peduli 2012. Penyidik menemukan adanya dugaan korupsi cetak sawah fiktif di Kabupaten Ketapang Kalbar tahun 2012 hingga 2014. Saat itu.  masing-masing BUMN diwajibkan untuk menyetorkan Rp15 miliar hingga Rp 100 miliar untuk proses cetak sawah.
Proyek cetak sawah itu merupakan proyek patungan dari dana Corporate Social Responsibility (CSR) sejumlah perusahaan BUMN yang nilainya mencapai Rp317 milar. Perusahaan itu antara lain Bank BNI, PT Askes, Pertamina, Pelindo, Hutama Karya, BRI, dan Perusahaan Gas Negara (PGN). Saat itu Dahlan Iskan sebagai Menteri BUMN. hrd