Bisnis Pitrad Esek-Esek di Petemon Barat Digerebek

SURABAYA (Realita) - Meskipun eks lokalisasi Dolly resmi ditutup Wali Kota Surabaya pada tahun 2014 lalu, namun, praktek prostitusi terselubung masih saja ada. Fakta hidupnya lagi esek esek pasca Dolly ditutup, terbukti setelah Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Surabaya, menggerebek sebuah bisnis esek esek berkedok pitrad. Pitrad itu berada di Jalan Petemon Barat, Surabaya.

Penggerebekan itu sendiri berlangsung Minggu (16/10/2016) dini hari kemarin. Pitrad yang digerebek tersebut bernama Pitrad Ibu Melati. Pitrad ini dikelola Sutilah (53), perempuan yang juga tercatat sebagai warga Petemon Barat Surabaya.

Wakasat Reskrim Polrestabes Surabaya Kompol Bayu Indra Wiguno mengungkapkan, sehari hari, jasa pitrad ini memiliki empat orang terapis atau pemijat. Nah, empat terapis ini, selain melayani pijat, juga dipekerjakan oleh Sutilah sebagai PSK jika ada tamu yang ingin melampiaskan nafsunya. "Baik hubungan layaknya suami istri atau hanya sekedar oral sex," katanya, Senin (17/10/2016).

Untuk tarifnya sendiri, Sutilah membandrol Rp100 ribu untuk pijat biasa. Dari tarif itu, terapis mendapat bagian 50 ribu. Sedangkan untuk layanan plus plus (esek esek), tergantung negosiasi antara pelanggan dengan terapis pitrad ibu melati ini. "Namun selama ini, tarifnya berkisar antara 150 ribu hingga 200," beber Kompol Bayu.

Penggerebekan itu dilakukan Unit PPA Polrestabes Surabaya usai mendapat informasi dari warga. Setelah dilakukan penyelidikan dan pengintaian, ternyata benar. Dari situlah, Unit PPA akhirnya menggerebek dan berhasil menangkap basah dua orang yang diduga sebagai terapis sekaligus PSK. Kedua perempuan ini tepergok di dalam kamar sedang melayani lelaki hidung belang. Sedangkan satu terapis sedang menunggu konsumen.

Untuk tiga terapis atau PSK itu sendiri diamankan dengan status menjadi saksi korban. Ketiga PSK itu antara lain Sh (37), Ht (53) dan Nf (27). Ketiganya berasal dari Surabaya. Sementara Sutilah sebagai pengelola pitrad, ditetapkan menjadi tersangka.

Dari penggerebekan tersebut Unit PPA Polrestabes Surabaya, juga berhasil mengamankan barang bukti antara lain uang tunai Rp830 ribu, buku tamu, cream, sarung dan sprai. Kini, untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, Sutilah dijerat dalam perkara tindak pidana mempermudah untuk melakukannya perbuatan cabul dan atau mengambil keuntungan dari pelacuran. Hal itu diatur dalam pasal 296 dan atau pasal 506 KUHP.zain