Cabai Mahal, Pemerintah Diminta Impor

SURABAYA (Realita)- Harga komoditi cabai hingga memasuki minggu kedua Januari 2017 masih cukup tinggi. Meroketnya harga cabe dikarenakan cuaca dan serangan organisme pengganggu tanaman berupa jamur. Untuk bisa menyetabilkan harga cabai yang kini mencapai Rp 100 ribu per kg, Gubernur Jatim Soekarwo mengaku tak keberatan jika harus dipenuhi dari impor luar negeri.

“Memang produksi kita sedang terganggu. Ini bukan hanya Jawa Timur tapi seluruh Indonesia. Untuk bisa menyetabilkan harga cabai yang memang stoknya kurang maka bisa dipenuhi dari impor. Ini hal yang biasa kalau kelebihan kita akan ekspor tapi kalau kurang kita bisa impor,” kata Pakde Karwo sapaan akrab Soekarwo.

Ia menjelaskan, pihaknya tidak mengharamkan untuk memenuhi kebutuhan cabe harus impor.

“Kalau memang stok kita kurang ya bisa dipenuhi dari impor. Tapi ini kewenangan Mendag (Menteri Perdagangan, red). Ini bisa dilakukan sebagai solusi jangka pendek mengatasi lonjakan harga cabai. Paling tidak bisa turun sampai Rp 50 ribu per kg,” ungkapnya.

Sementara itu, untuk impor cabe dari luar provinsi, kata dia, sudah dilakukan dengan mendatangkan dari Gorontalo. Operasi stablisasi harga juga sudah dilakukan oleh Perum Bulog untuk bisa menurunkan harga cabai sejak Senin (9/1/2017) lalu.

 Namun hal itu dinilainya tetap belum bisa optimal karena gagal panen cabai ini skalanya nasional sehingga untuk memenuhi stok kebutuhan pasar saat ini harus dari impor luar negeri.

Sebagai bentuk solusi jangka panjang, pihaknya kini juga mulai melakukan riset untuk mengatasi hama jamur pada cabai. 

“Kalau hanya cuaca hujan cabe hanya kisut (mengkerut) tapi kalu sudah kena jamur batangnya bisa rontok. Ini harus dilakukan riset agar tidak sampai nanti terulang lagi, sehingga produksi tidak terganggu,” tuturnya.pras