Dijanjikan Surprise, Leher SPG Royal Plaza Itu malah Digorok

SURABAYA (Realita) - Satreskrim Polrestabes Surabaya melakukan rekonstruksi ulang terhadap kasus pembunuhan seorang Sales Promotion Girl (SPG), Senin (9/1/2017) sore. Dalam rekonstruksi tersebut, kedua tersangka yakni Clint Dongan Hutabarat alias Clington (18) dan Satriadiel Sulwiedyardo alias Aldo (18) melakukan kurang lebih 36 adegan, untuk mengetahui peranan masing-masing tersangka yang membuat nyawa gadis 18 tahun itu melayang sebelum akhirnya ditemukan pada Kamis (22/12/2016) lalu, di Mangrove Wonorejo Surabaya.

Dalam 36 adegan yang dilakukan oleh keduanya, polisi semakin yakin jika pembunuhan terhadap gadis asal Jalan Ikan Kakap, Kalibader, Taman Sidoarjo itu memang dilakukan secara terencana. Hal itu dibuktikan dalam 18 adegan pertama. Adegan pertama dimulai dari tempat kost di Bungurasih kedua tersangka berjalan kaki menuju sebuah rusun Copta di jalan Menanggal Surabaya.
Di tengah perjalanan kedua tersangka yang mengenal korban, kemudian terbesit rencana untuk menghabisi nyawa korban, dan keduanya bersepakat untuk menghabisi korban pada malam itu juga, Minggu (18/12/2016) sekitar pukul 11.00 Wib. Sesampainya di Rusun Cipta, tersangka Clint menyuruh seorang saksi bernama Putra yang juga kenal korban, untuk mengambil parang milik Clint yang dititipkan olehnya.
Malam harinya sekitar pukul 21.30 Wib, tersangka Aldo juga sempat mengirimkan SMS kepada teman korban menggunakan handpone milik tersangka Clint untuk menjemput keduanya di kos-kosan kedua tersangka sepulang kerja nanti. Satu jam berselang, korban datang ke kos tersangka dan membonceng kedua tersangka untuk kemudian korban diarahkan menuju sebuah tempat yang saat itu masih belum terpikirkan oleh keduanya.
Sampai pada adegan ke sembilan belas hingga ke-31, pelaku pembunuhan sadis ini mengulang kembali adegan yang pernah dilakukannya terhadap Yayuk hingga tewas, dengan peran pengganti seorang petugas Unit Resmob Polrestabes Surabaya. Setelah berhasil menguasai Yayuk dengan berbagai macam tipu muslihat, kedua tersangka mengarahkan Yayuk di lokasi kejadian tepat dibantaran Sungai Kalimas, bawah Tol jalan Gunungsari Surabaya. Alasannya, Yayuk yang juga memiliki rasa suka terhadap tersangka Aldo percaya kepada tersangka Clint jika dirinya akan diberikan surprise atau kejutan oleh Aldo.
Sesampainya di tempat kejadian sekitar pukul 23.30 Wib, tersangka Clint memarkirkan motor Vario W-4302-WM milik korban yang berjarak sekitar sepuluh meter dari bantaran sungai Kalimas. Saat tersangka Aldo mengajak korban lebih dekat dengan bantaran sungai, tersangka Clint mengambil kemeja yang dipersiapkan untuk menutup mata korban. Lagi-lagi, karena tidak curiga dan menaruh hati kepada tersangka Aldo, korban mau menuruti perintah tersangka Aldo.
Sesaat setelah tersangka Aldo dan korban duduk di dekat bantaran sungai yang berjarak kurang lebih tiga meter, tersangka Clint kemudian memberikan kemeja kepada tersangka Aldo untuk menutup mata korban. Setelah korban tertutup matanya, tersangka Clint mengeluarkan senjata tajam yang diselipkan di pinggang bagian kirinya. Sedangkan tersangka Aldo, tetap duduk di belakang korban sambil menyuruh korban mendongakkan kepala ke atas.
Selanjutnya, tersangka Clint bertugas untuk menusuk leher bagian kiri korban sebanyak satu kali dan itu dilakukan dalam hitungan ketiga yang diaba-abai oleh tersangka Aldo. Korban yang masih hidup sontak berteriak, kemudian korban digeletakkan dan tersangka Clint kembali menusuk leher korban sebanyak dua kali dalam posisi diatas korban. Setelah memastikan korban sudah tak bernafas lagi, kedua tersangka mengambil tas milik korban sebelum menghanyutkan jasad Yayuk ke Sungai.
Kasatreskrim Polrestabes Surabaya AKBP Shinto Bina Gunawan Silitonga menuturkan, jika dalam rekonstruksi ulang kasus pembunuhan yang dilakukan oleh kedua orang tersangka ini untuk membuktikan peranan masing-masing keduanya.
"Rekonstruksi ini kami lakukan di tiga titik, mulai dari kos tersangka, rusun cipta, dan terakhir di bawah tol jalan Gunungsari yang langsung berbatasan dengan sungai. Dari sini kita dapat melihat, jika apa yang terjadi pada korban Yayuk dilakukan atas perencanaan keduanya," ujar Shinto, Senin (9/1/2017) di lokasi kejadian.
Shinto menambahkan jika apa yang dilakukan oleh kedua tersangka ini merupakan kejahatan yang sangat tidak berprikemanusiaan. "Bisa kita lihat dari adegan yang dilakukan keduanya, mereka dengan usia yang masih remaja secara tidak berprikemanusiaan menusukkan senjata tajam terhadap korban yang sedianya mereka kenal secara baik," imbuhnya.
Shinto mengatakan, rekonstruksi ini juga bertujuan untuk meyakinkan jaksa penuntut umum jika apa yang dilakukan oleh kedua orang tersangka ini merupakan pembunuhan secara berencana. "Ini juga kami lakukan agar jaksa penuntut umum dengan mudah menjatuhi hukuman kepada keduanya, mengingat apa yang telah mereka lakukan direncanakan secara matang," tandas Alumnus Akademi Kepolisian (Akpol) 1999 ini.zain