Divonis 17 Tahun Penjara, Kurir Narkoba Menangis

SURABAYA (Realita) - Muhammad Brahim Lutfi, kurir 1,3 Kg Sabu dan 3000 inek, hanya bisa menangis setelah hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, menjatuhui hukuman 17 tahun penjara, Selasa (6/12/2016).

Dalam amar putusan yang dibacakan oleh, ketua majelis hakim Rochmad perbuatan terdakwa dianggap tidak mendukung upaya pemerintah dalam memberantas peredaran narkotika.

"Menyatakan secara sah dan menyakinkan terdakwa telah melakukan tindak pidana melanggar pasal 114 ayat 2 jo pasal 132 ayat 1 UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, menjatuhui hukuman pidana selama 17 tahun penjara",ucap hakim Rocmad saat membacakan amar putusan di ruang Sari PN Surabaya.

Tak hanya hukuman badan, hakim juga menjatuhkan hukuman denda sebesar Rp 1 Miliar, subsider 6 bulan kurangan penjara.

"Jika tidak bisa membayar denda, maka terdakwa wajib menjalani kurungan selama 6 bulan ," terang hakim Rochmad.

Dalam pertimbangan yang meringankan, hakim menyatakan bahwa selama persidangan terdakwa telah mengakui perbuatannya dan terdakwa masih muda.

Adapu pertimbangan yang memberatkan, perbuatan terdakwa dianggap tidak mendukung upaya pemerintah dalam memberantas peredaran narkotika.

Vonis tersebut lebih ringan dari Jaksa Wilujeng, yang sebelumnya menuntut hukuman selama 20 tahun penjara denda 1 Miliar, subsider 1 tahun penjara.

Atas vonis tersebut, terdakwa yang didampingi kuasa hukumnya yakni Fariji dari LBH Lacak belum menyatakan sikap. "Kami pikir-pikir majelis hakim"ucap terdakwa kepada majelis hakim.

Untuk diketahui, perkara ini berawal dari penangkapan yang dilakukan petugas Badan Nasional Narkotika Provinsi (BNNP) Jatim terhadap para terdakwa di jalan Putat Gede IV Surabaya, pada 16 Juni 2016 silam.

Dari tangan para terdakwa, petugas berhasil mengamankan 10 plastik klip ukuran sedang masing-masing plastik berisikan sabu, dengan berat 103 gram per bungkusnya, jadi total sabu seberat 1,3 Kg.

Tak hanya itu, petugas juga berhasil mengamankan 1 bungkus plastik pil ekstasi warna hijau dengan logo ‘N’ berjumlah 2000 butir, serta 1 bungkus plastik pil ekstasi dengan logo ‘8’ berjumlah 1000 butir, jadi total ekstasi berjumlah 3000 butir.

Kepada petugas, Muhammad Brahim Lutfi menceritakan, barang-barang tersebut berasal dari Sutaji (DPO). Melalui obrolan via seluler, pada 13 Juni 2016 lalu, Muhammad mengaku hanya diperintah oleh Sutaji untuk menerima kiriman narkoba tersebut dari terdakwa Maheruddin Tanjung (berkas terpisah)

Menindak lanjuti perintah Sutaji, selanjutnya kedua terdakwa tersebut janjian untuk bertemu. Mereka akhirnya sepakat bertemu di jalan Putat Gede IV Surabaya, sebuah gang samping hotel Griya AVI, tempat terdakwa Maheruddin mengginap.

Paketan narkoba dengan isi sebagaimana disebutkan diatas, yang terbungkus kantong plastik warna hitam, akhirnya diserahkan terdakwa Maheruddin kepada terdakwa Mohammad Brahim.

Sesaat paketan narkoba tersebut berpindah tangan, keduanya akhirnya ditangkap petugas.

Sama halnya dengan terdakwa Muhammad Brahim Lutfi, dalam waktu dekat, jaksa pun juga bakal menyeret Maheruddin Tanjung (terdakwa berkas terpisah, red) ke meja hijau. Atas perbuatannya, oleh jaksa, kedua terdakwa dijerat pasal 114 ayat 2 jo pasal 132 ayat 1 UU RI nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.ys