IPW : Anak Jenderal pun Harus Dihukum dan Dipecat!

JAKARTA (Realita)- Indonesia Police Watch (IPW) meminta Polri harus menindak tegas para pelaku yang diduga menyebabkan taruna Akademi Polisi (Akpol) tingkat dua, Brigadir Dua Taruna (Brigdatar) Mohammad Adam , meninggal dunia. Polri jangan ragu untuk menahan dan memecat para pelaku, meski merupakan anak jenderal sekalipun.

“IPW sangat menyesalkan kasus kematian Brigdatar Mohammad Adam, yang diduga akibat penganiayaan sesama taruna. Kasus ini menyisakan misteri panjang dan sekaligus menunjukkan, kekerasan masih menjadi bagian terselubung dalam sistem pendidikan di kepolisian,” ujar Ketua Presidium IPW, Neta S Pane, dalam keterangannya kepada Realita.co, Jumat (19/5).

Neta mengatakan, kasus kematian Mohammad Adam bagai teori gunung es bahwa kekerasan masih cukup kental bercokol di sistem pendidikan kepolisian. “Selama ini, IPW kerap mendapat laporan tentang adanya taruna yang melarikan diri atau kasus dugaan pelecehan seks,” ujarnya.

Akan tetapi setiap kali IPW memersoalkan, pejabat berwenang selalu membantahnya. Sementara, korban dan keluarganya selalu tutup mulut karena khawatir dikeluarkan dari Akpol apabila buka mulut.

Bahkan, tambah Neta S Pane, ada taruna yang sudah tidak kuat menjalani pendidikan di Akpol, tetapi keluarganya tetap memaksa bertahan. “Memang, jumlah kasus-kasus seperti itu tidak signifikan jumlahnya, tapi tetap mengganggu profesionalisme pendidikan di Akpol,” ujarnya.

Dengan adanya kasus kematian Mohammad Adam, IPW menilai Polri dan Akpol sudah saatnya membuka diri dan membuka secara transparan apa sesungguhnya yang terjadi di lingkungan Akpol.

“Para mantan Gubernur Akpol juga harus mau bicara jujur ke internal Polri tentang apa yang pernah terjadi di lingkungan Akpol, terutama yang menyangkut sikap perilaku para taruna, terutama lagi yang menyangkut sebagian anak-anak jenderal, sehingga bisa dilakukan pembenahan dan kasus kekerasan, seperti yang menyebabkan tewasnya Mohammad Adam, tidak terulang lagi,” harapnya.

Ia menambahkan, kasus Adam tentu akan berdampak pada sistem pendidikan Polri yang antikekerasan, dan bertujuan melahirkan polisi sipil, modern, profesional, proporsional dan tidak represif. Sebab itu, tandasnya, semua yang terlibat dalam kasus kematian Adam harus diusut tuntas secara transparan dan segera dipecat dari Akpol, meskipun yang bersangkutan merupakan  anak seorang jenderal maupun petinggi kepolisian.

Polda Jateng sendiri sudah memeriksa 35 orang dalam kasus ini. Dari jumlah itu, 14 orang di antaranya merupakan taruna tingkat tiga. “Hukum harus ditegakkan dan pola pembinaan di Akpol perlu dikontrol dengan ketat. Anak-anak jenderal jangan diberi keistimewaan. Bahkan yang bermasalah harus segera dipecat. Tujuannya agar pendidikan di Akpol benar benar tanpa kekerasan, tanpa pelecehan dan benar benar menghargai hak asasi manusia. Sehingga, Akpol bisa melahirkan kader-kader polisi sipil, modern, profesional dan anti kekerasan,” harapnya.

Sementara itu, Polda Jawa Tengah telah mengamankan sejumlah barang bukti yang diduga menjadi penyebab tewasnya Adam pada Kamis (18/5) dinihari seusai apel malam.

Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol Djarod Padakova, mengatakan barang bukti yang diamankan di antaranya kopel, tongkat plastik dengan panjang sekitar 20 Cm dan benda-benda lainnya.

Djarod mengatakan, dua barang bukti yang disita cukup penting dalam proses penyelidikan. Barang bukti berupa tongkat, misalnya, adalah berbahan dasar plastik. Namun bukti tongkat mirip seperti kayu.

Ia mengatakan penyidik telah memeriksa 35 orang taruna, dan dari jumlah itu 14 orang di antaranya merupakan kakak kelas atau taruna tingkat tiga.

Hingga kini belum diketahui, siapa yang menjadi tersangka dalam kasus kematian Adam tersebut. Berdasar hasil otopsi Tim Forensik RS Bhayangkara Polri di Semarang, menyebutkan kematian Adam akibat hantaman benda keras di bagian dada sehingga korban mengalami gagal napas. war