Jelang Ramadhan dan Lebaran, Stok Daging di Jatim Aman

BERITA TERKAIT

SURABAYA (Realita)-Stok daging di Jawa Timur menjelang puasa ramadhan dan hari raya lebaran dipastikan aman. Masyarakat tidak perlu khawatir, karena pasokan daging ke pasar tradisional dan modern akan tercukupi.

Kepala Dinas Peternakan Jatim, Rohayati, menyampaikan, menghadapi bulan Ramadan, stok daging dijamin aman. Untuk itu masyarakat tidak perlu khawatir akan kekurangan daging sapi.

Apalagi Disnak juga terus melakukan langkah inovasi untuk mewujudkan swasembada daging, salah satunya dengan kawin suntik atau inseminasi buatan."Ketersediaan dan kebutuhan daging sapi menghadapi bulan puasa dan Idul fitri di 2017 ini untuk stok bulan Mei," kata Rohayati.

Produksi lokal bulan Mei 7.484 ton, luar daerah 80 ton, atau total 8.319 ton daging sapi. Sedangkan kebutuhan konsumsi untuk wilayah Jatim 6.945 ton dan untuk memenuhi kebutuhan antar pulau/provinsi 385 ton. Maka total kebutuhan 7.330 daging sapi.
Sedangkan bulan Juni, pengadaan dari produksi lokal 27.664 ton, luar daerah 295 ton, total 28.948 ton daging sapi, kebutuhan konsumsi wilayah jatim, 25.671 ton dan untuk memenuhi kebutuhan antar pulau/provinsi 1.423 ton, total kebutuhan 27.094 ton.
Dari angka ketersediaan dan kebutuhan daging sapi ini, kemungkinan kenaikan harga menjelang Ramadan bisa dikendalikan, dikarenakan stok daging aman. 


"Jika stok daging kurang imbasnya harga akan meroket dan sulit dikendalikan, karena kebutuhan tinggi, tapi stok tidak ada," imbuhnya.

Dijelaskannya, pihaknya telah berhasil meningkatkan jumlah populasi sapi di Jawa Timur melalui program Upaya Khusus Percepatan Populasi Sapi dan Kerbau Bunting (UPSUS SIWAB).

MM mengatakan, program UPSUS SIWAB diharapkan mampu menambah jumlah populasi menjadi 1.146.716 ekor sedang untuk target kelahiran di Jatim yaitu 1,2 juta ekor. "Kita punya inseminator atau petugas suntik kehamilan sapi sebanyak 1.327 orang, PKB (Petugas Kebuntingan) 591 orang dan ATR (Asisten teknik reproduksi) 321 orang," kata tambahnya.
Menurut dia, program UPSUS SIWAB sebenarnya sudah berjalan sejak Januari lalu. Hanya saja, terhitung sejak April lebih diefektifkan lagi dan dikembangkan menjadi dua program. Yaitu, Inseminasi Buatan (IB) dan Intensifikasi Kawin Alam (Inka).
“Upaya ini dilakukan sebagai wujud komitmen pemerintah dalam mengejar swasembada sapi serta menjadikan Indonesia sebagai negara yang mandiri dalam pemenuhan kebutuhan pangan asal hewan dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak,” katanya.
Ternak UPSUS SIWAB, lanjut dia, telah dipersiapkan dari sisi reproduksi. Syarat sapi yang dipilih adalah sapi siap bunting dengan usia sekitar 2 tahun. "Di program ini, sapinya memang disiapkan terlebih dahulu. Jadi, ada pemeriksaan sistem reproduksi ternak dan diperiksa dengan baik. Setelah timbul hasrat minta kawin maka akan dilaksanakan IB. Selang 21 hari tidak birahi lagi, berarti bunting. Selanjutnya, antara 2-3 bulan di PKB. Kalau tidak bunting sampai 2-3 kali, maka akan di-ATR," katanya.pras