Jual Teman Melalui Aplikasi Say-Hi, Gadis 19 Tahun Ditangkap

SURABAYA (Realita) - Indri hanya bisa menunduk sepanjang dirinya diperlihatkan di depan awak media. Suaranya pun lirih, saat menjawab sejumlah pertanyaan yang dilontarkan polisi. Di balik topeng putih yang dipakainya, gadis 19 tahun asal Tanjungkalang, Kecamatan Ngrogot, Kabupaten Nganjuk ini menceritakan prakteknya selama ini. Ya, Indri memang ditangkap, setelah dia terbukti menjual temannya sendiri di Surabaya.
Meski dengan terbatah, Indri pelan-pelan mulai menuturkan soal petualangannya menggunakan aplikasi Say-Hi. Sebab dalam aplikasi inilah, tepatnya 3 bulan terakhir, dia mulai menawarkan teman sekampungnya berinisial PO, yang juga masih berusia 19 tahun.
Bermodal foto diri PO, Indri mulai mencari pria hidung belang yang ingin melampiaskan nafsunya dengan 'meniduri' PO. Ternyata, foto PO cukup menggiurkan banyak lelaki. Sebab kata Indri, banyak pria yang penasaran dan kemudian nge-chatt dia di WA ataupun BBM. Banyaknya pria yang penasaran dengan tubuh PO, membuat Indri memasang tarif, yang bisa dikatakan lumayan mahal.
Bayangkan saja. Sekali kencan, tubuh PO dibandrol oleh Indri seharga Rp 1,5 Juta. Padahal, PO adalah gadis desa, yang masih satu kecamatan dengan Indri. "Selama tiga bulan saya ikuti chat di aplikasi itu (Say-Hi), baru 4 kali saya mendapat pelanggan. Setiap transaksi, saya mendapat bagian Rp 150-250 ribu saja," aku Indri saat di Mapolrestabes Surabaya.
Namun, praktek prostitusi online yang dijalankan Indri akhirnya terendus polisi. Adalah Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polrestabes Surabaya yang berhasil melacak praktek tersebut. Setelah sebulan dipantau, Selasa (27/12/2016) malam kemarin, Indri akhirnya ditangkap saat mengantarkan PO untuk melayani pelanggan di Hotel POP, Jalan Diponegoro,  Surabaya.
"Selain tersangka (Indri) dan korban (PO), kami juga menyita barang bukti berupa uang tunai sebesar Rp 1,5 juta, selembar bill yang dikeluarkan pihak hotel dan sebuah HP sebagai alat transaksi," jelas Kasatreskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Shinto Bina Gunawan Silitonga, Rabu (28/12/2016).
Shinto mengatakan, bahwa tersangka melakukan prakteknya itu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebab, tersangka dan korban memang keadaannya menganggur. Modusnya sendiri, masih kata Shinto. Ketika di aplikasi Say-Hi, tersangka mendapat pesanan, maka deal harga dilanjutkan ke WA atau BBM. Setelah deal, baru tersangka menentukan tempat kencan korban sesuai permintaan pelanggan.
Sementara itu, PO hanya bisa menangis tersedu saat temannya (Indri) dicecar pertanyaan oleh polisi. Gadis bertubuh montok ini bahkan memilih diam dan tidak menjawab pertanyaan sejumlah awak media yang saat itu ada di sana.
Mungkin PO tidak percaya bahwa Indri, temannya itu ditangkap dan bakal dihukum. Sebab, polisi akan menjerat Indri atas perkara mempermudah perbuatan cabul atau Pasal 2 UU Nomor 21 Tahun 2007 tentang PTPPO dan atau Pasal 296 KUHP.zain