Kejagung Siapkan Kembali Eksekusi Mati Jilid IV

JAKARTA (Realita) - Kejaksaan Agung (Kejagung) tahun ini kembali merencanakan eksekusi mati terhadap para gembong narkoba, bahkan sudah mengantongi sejumlah nama terpidana.
“Nama-namanya ada, tapi justru kita lihat apakah semua haknya sudah diberikan atau belum?,” ungkapnya di Jakarta, Jumat (19/05).
Sebelum dimulainya eksekusi mati Kejagung melakukan pengecekan status calon terpidana mati yang bakal dieksekusi itu, agar nantinya tidak menjadi masalah setelah dieksekusi.
“Nanti ada yang protes lagi, ini kan (alasannya) belum mengajukan grasi, belum mengajukan PK,” tandasnya.
Ia menambahkan soal grasi menjadi kendala untuk pelaksanaan eksekusi mati mengingat pengajuannya bisa kapan saja dilakukan.
Karena itu, pihaknya akan meminta fatwa Mahkamah Agung untuk batasan pengajuan grasi. “Nggak bisa dibiarkan lepas tanpa ada pembatasan, karena kalau sudah seperti itu, menjadi tidak ada lagi kepastian hukum,” katanya.
Jaksa agung meminta wartawan untuk menanyakan kepada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum (JAM Pidum) Noor Rachmad mengenai nama-nama terpidana narkoba yang akan dieksekusi mati.
Sepanjang 2015-2016, Kejagung telah melaksanakan eksekusi terhadap 18 terpidana mati yang terbagi dalam tiga tahap atau jilid.
Jilid 1, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran (WN Australia anggota Bali Nine), Raheem Agbaje Salami, Sylvester Obiekwe Nwolise, Okwudili Oyatanze (WN Nigeria), Martin Anderson (Ghana), Rodrigo Galarte (Brasil) dan Zainal Abidin (Indonesia).
Jilid 2, sebanyak enam terpidana mati, yakni, Ang Kiem Soei (WN Belanda), Marco Archer (Brasil), Daniel Enemuo (Nigeria), Namaona Denis (Malawi), Rani Andriani (Indonesia) dan Tran Bich Hanh (Vietnam). Kesemuanya kasus narkoba.
Jilid 3, sebanyak empat terpidana mati, Freddy Budiman (WN Indonesia), Seck Osmane (Nigeria), Humprey Jefferson Ejike (Nigeria) dan Michael Titus Igweh (Nigeria). hrd