Keroyok Dua Pendekar PSHT, Tiga Pemuda Resmi Tersangka

MOJOKERTO (Realita) - Setelah dilakukan penyelidikan hingga sepekan, Sat Reskrim Polres Mojokerto Kota akhirnya menetapkan tiga pelaku pengeroyokan terhadap dua warga Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Pengeroyokan itu sendiri terjadi saat bentrok yang pecah di perempatan Kupang, Kecamatan Jetis.

Ketiga tersangka masing-masing adalah Tri Arval David Santoso (25) warga Dusun/Desa Padangan Kecamatan Padangan Bojonegoro yang tinggal di Dusun Warugunung Lor, Desa Kupang, Kecamatan Jetis, dan Risa Indra Wahyudi (29) serta RMI (17), keduanya warga Desa Kupang Kecamatan Jetis.

"Penangkapan ketiga tersangka ini tak lepas dari penyelidikan dan keterangan dua korban, yakni Subandi (25) warga Desa Gunungan Kecamatan Dawarblandong, Akhson Sholahudin (25) warga Kesamben Lamongan, dan Hamim (17) warga Dawarblandong. Untuk Hamim hanya warga biasa dan bukan anggota atau warga PSHT," ungkap Kapolres Mojokerto Kota, AKBP Nyoman Budiarja, kepada wartawan, Kamis (27/10/2016).

Menurut Nyoman, penangkapan tiga pelaku pengeroyokan ini untuk membuktikan bahwa tak ada unsur perselisihan antar perguruan silat. "Para tersangka adalah warga biasa," tegasnya.

Seperti diketahui, pengeroyokan yang menimpa dua anggota PSHT dan satu warga biasa terjadi di kawasan simpang empat Kupang, Kecamatan Jetis pada Minggu (16/10) pagi. Mayoritas anggota PSHT dini hari itu, baru saja selesai mengikuti prosesi wisuda di Desa Wiyu, Pacet, mereka lantas berkonvoi di sekitar Kecamatan Jetis, dan melintas di perempatan Kupang.

Kedua korban yakni Subandi dan Akhson, saat itu mengendarai Honda Vario bernopol S 6404 LK dikeroyok tiga tersangka karena menganggap korban meresahkan warga. Akibat pengeroyokan itu, Kedua korban pun terluka.

Untuk korban yang bernama Hamim, waktu itu mengendarai sepeda motor Honda Supra X 125 bernopol S 2217 VF, Hamim dihadang warga karena dikira sebagai anggota PSHT. Kerena dihadang, Hamim berusaha kabur namun motor yang dikendarai menabrak rumah warga. Begitu jatuh, dia dikeroyok beberapa orang, termasuk RMI.

"Saat ini ada tiga tersangka. Namun kami masih mengembangkan kasus ini. Yang pasti, ketiga pelaku kami jerat pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan. Untuk ancaman pidananya maksimal 5 tahun 6 bulan penjara," tegas Kapolresta.

Dari pengakuan seorang tersangka, Tri Arval David, dia nekat menghajar para korban karena ketika konvoi, ada yang melempar batu ke arahnya. "Waktu itu saya sedang ngopi di warung. Namun ada yang melempar batu ke warung. Saya lalu emosi dan memukul mereka," pungkasnya. ujek