Kota Tua Utara Surabaya Kondisinya Memprihatinkan

SURABAYA (Realita) “ Mendapat julukan sebagai Kota Pahlawan bagi Surabaya bukan tanpa alasan. Kota ini pernah menjadi saksi sejarah perjuangan arek-arek Suroboyo melawan penjajah. Tak heran jika kemudian banyak bangunan peninggalan penjajah yang tersebar di wilayah Surabaya. Terbanyak, di kawasan Surabaya Utara. Sayangnya, Pemkot Surabaya terkesan kurang memperhatikan kawasan yang mempunyai potensi besar untuk dijadikan Obyek Daya Tarik Wisata (ODTW) minta khusus.

Sadar akan potensi ini, Komunitas Pecinta Surabaya Rek Ayo Rek, gelar Sambang Kampung Lawas, kemarin (29/4) menunjukkan bangunan heritage di wilayah utara banyak yang kondisinya memprihatinkan. Melalui kemasan seminar travelling, para pemerhati dan mereka yang berkompeten menjelaskan kilas sejarah, kondisi serta rekomendasi atas bangunan yang ada.

Sesuai namanya, seminar travelling sambang kampung dilakukan dengan jalan kaki. Jembatan Merah yang menjadi salah satu ikon kota sekaligus simbol perjuangan Arek-Arek Suroboyo menjadi titik start bagi RAR dan sejumlah pakar.

Direktur Sjarikat Poesaka Surabaya Fredy H Istanto menjelaskan, wilayah Surabaya utara menjadi bagian pusat pemerintahan serta bisnis Surabaya tempo dulu. “Jembatan Merah yang persis di atas sungai Kalimas ini secara tidak langsung menjadi batas tegas tata ruang pada masa lalu. Dalam syair lagu Jembatan Merah menyebutkan berpagar gedung indah,” Fredy menjadi pembicara pertama seminar travelling.

Salah satu Dekan di Universitas Ciputra (UC) Surabaya ini merinci, gedung-gedung di Jalan Veteran dan Pahlawan yang dimaksud dalam syair lagu. Di jalan ini ada kantor gubernur, kantor imigrasi yang dulunya bernama Pabean. Pabean sendiri kini menjadi nama pasar. Tak jauh dari kawasan Jembatan Merah ada nama Jalan Bongkaran, yang dulunya memang menjadi pusat bongkar-muat. Tidak jauh dari Jembatan Merah, tepatnya di Jalan Karet dulunya terdapat masjid yang menjadi transit muslimin sebelum berangkat ke Tanah Suci Mekkah, menunaikan ibadah haji. Masjid ini menjadi cikal bakal asrama haji di Surabaya. Menjadi jujugan sementara karena masjid itu berada di tepi Kalimas, tempat sandarnya kapal. Ketika itu perjalanan haji menggunakan kapal laut.

Soal Jembatan Merah yang menjadi batas tegas tata ruang, Fredy sebagai pemerhati bangunan heritage lantas merinci. Menurutnya, sisi timur serta utara Jembatan Merah atau timur aliran sungai Kalimas merupakan wilayah bagi warga keturunan China, Melayu, Arab, Jawa dan Madura. Keberadaan bangunan berarsitek China membuat bagian timur Kalimas juga disebut Pecinan. Meski demikian, bangunan yang menguatkan kesan Arab dan Jawa juga ada.

Barat Jembatan Merah maupun Kalimas menjadi kawasan modern, yang dikuatkan keberadaan bangunan-bangunan model Eropa. Salah satunya gedung Internatio yang merupakan bank internasional pada masa lampau.

Selain kondisi bangunan yang memprihatinkan, kondisi jalannya hingga kini masih berupa tanah berbatu. Singkatnya, jalan macadam. Padahal ini bagian wilayah Kota Surabaya. Ini terlihat di ruas jalan yang oleh warga sekitar dinamakan Jalan Panggung Belakang.