Kreatif, Siswa SD Buat Cergam Sendiri

JAKARTA (Realita) - Sejak dikenalkan dengan program literasi pada pelatihan yang dikembangkan oleh USAID PRIORITAS, salah satu sekolah mitra Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) yakni MI Roudlotul Banat Sepanjang Sidoarjo dengan cepat mengimplementasikannya.

Kegiatan ini dikolaborasikan dengan kegiatan Buku Bacaan Berjenjang (B3) untuk Kelas Awal yang telah dilatihkan dan dihibahkan kepada sekolah ini. Untuk Kelas 1 dan 2, jadwal guru membacakan buku B3 adalah setiap Sabtu di Jam ke-5 dan 6. Sedangkan Kelas 3 dijadwalkan setiap Hari Rabu.

Lindawati, Guru MI Roudlotul Banat mengungkapkan, Buku B3 sangat membantunya mengajarkan siswa membaca dan siswa lebih bisa memahami isi buku. “Setelah mendapatkan pelatihan B3 dari USAID PRIORITAS bersama dengan bimbingan dosen UINSA kami menyusun jadwal pelajaran untuk kelas awal dan memasukkan kegiatan membaca Buku B3 dalam jadwal pelajaran untuk kelas 1, 2, dan 3,” ungkapnya. Sedangkan untuk Kelas 4, 5, dan 6 menurut Linda tetap ada kegiatan Literasi namun siswa lebih diarahkan pada membaca cerpen atau puisi.

Linda yang ditunjuk oleh sekolah khusus untuk menangani pembelajaran B3 ini mengungkapkan, siswa sangat antusias ketika memasuki jam pelajaran yang bertajuk Literasi ini. Mereka lebih cepat memahami isi buku dengan menggunakan Buku B3. Beberapa guru di kelas tinggi juga berkreasi dengan membuat buku besar buatan mereka sendiri dibantu beberapa siswa.

Linda yang mengajar di kelas awal dan kelas tinggi mengungkapkan, untuk kelas tinggi ia lebih mengarahkan agar siswanya mengembangkan tulisan menjadi sebuah cerita. “Buku-buku B3 gambarnya lucu-lucu dan menginspirasi siswa. Saya tunjukkan ke siswa kelas tinggi beberapa buku B3 dan mereka membacanya sampai selesai. Setelah itu mereka mulai berimajinasi membuat cerita bergambar (cergam) ala buku-buku B3,” ungkapnya sumringah.

Pada jam literasi di kelas tinggi, Linda membawa setumpuk buku B3 ke kelas tinggi. Siswa biasanya berebut untuk membacanya. Setelah selesai membaca, Linda membagikan kertas kepada siswa. Siswa diminta berimajinasi membuat sebuah cerita pendek, kemudian siswa tersebut menuangkannya ke dalam draf tulisan. Usai menemukan ide tulisan, barulah siswa membuat gambarnya di buku gambar yang dilengkapi dengan jalan cerita yang utuh. Mereka juga boleh berkolaborasi antar teman. Yang pandai membuat cerita namun tak pandai menggambar, bisa bergabung dengan temannya yang piawai menggambar. “Nanti pada sampul buku akan dituliskan nama penulis dan ilustratornya, sama seperti di buku B3,” ungkapnya.

Meskipun masih sangat sederhana, namun cerita bergambar yang dibuat oleh siswa sangat menarik. Liburanku Membuat Layang-layang karya Dasyha Azzura Albani Siswa kelas V, diilustratori oleh teman sebangkunya Patricia K. sedangkan cergam berjudul Naik Awan ditulis dan diilustratori oleh Ach. Afifuddin Kelas V. Liburanku Membuat Layang-layang bercerita tentang pengalaman pertama Dasyha membuat laying-layang bersama teman-temannya saat libur sekolah. “Senang dan bangga bisa membuat laying-layang sendiri, apalagi waktu diterbangkan bisa membumbung tinggi. Makanya saya tulis sebagai cergam karena saya selalu teringat kenangan itu,” ungkap Dasyha. Sedangkan cerita Naik Awan merupakan khayalan Afif seandainya dia bisa terbang naik awan keliling dunia. “Pasti menyenangkan ya, bisa jalan-jalan keliling dunia naik awan,” urainya gembira.

Linda sedang mengumpulkan karya-karya cergam anak. Yang terbaik akan ditulis ulang dan dibuat gambar yang lebih bagus serta dibukukan. “Cergam karya siswa ini akan menjadi kebanggaan untuk sekolah,” ungkap Linda bangga. dkd