Langgar Perda, Anak Punk Diamankan

MOJOKERTO (Realita) - Lantaran kerap menganggu ketertiban umum khususnya di Traffic Light, 23 anak punk dan 5 Bonex digaruk anggota Satpol PP Kota Mojokerto, Kamis (20/4/2017). Untuk memberikan efek jera, aparat penegak perda ini memberikan hukuman bagi mereka yang diamankan untuk baris berbaris dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Dengan penampilan yang lusuh serta tubuhnya dipenuhi tato, mereka harus baris berbaris di halaman Satpol PP Kota Mojokerto. Dari 23 anak punk yang masih berusia ABG itu, terdapat 7 perempuan yang masih belia yang menjadi anak punk.
 
Petugas yang mengelar razia dadakan itu, berhasil menjaring 23 anak punk dari perempatan Gajah Mada, Mojopahit, Sekar Putih serta Terminal Kertajaya.
Heri Subagyo, salah satu Penyidik Satpol PP Kota Mojokerto menegaskan, razia yang digelar itu sebagai upaya untuk meminimalisir adanya gangguan ketertiban umum.
"Yang jelas razia ini menindaklanjuti himbauan pak Wali Kota tentang wajib belajar, kita tidak menginginkan di Kota Mojokerto bekeliaran anak usia sekolah yang seolah-olah kita tidak melakukan tindakan tegas," kata Heri kepada wartawan, usai memberikan pengarahan terhadap para Punker itu.
Dirinya menyebutkan, 23 anak punk itu Mayoritas dari luar Kota Mojokerto diantaranya dari Probolinggo, Pasuruan, Kediri dan Ponorogo. Menurutnya, pembinaan dan sanksi yang diterapkan itu, bertujuan agar mereka jera dan tidak mengulanginya lagi. Yakni dengan baris berbaris, menyanyikan lagu Indonesia Raya, membuat surat pernyataan dan mengucapkan tidak akan mengulangi lagi.
"Ini sesuai dengan Perda Nomor 12 Tahun 2015 tentang Penyelenggaran Ketertiban Umum. Mereka kita amankan dan diberikan pembinaan karena meminta di jalan, ada indikasi penjarahan di warung, minum-minum sehingga menimbulkan dampak negatif di masyarakat. Namun sampai saat ini, tidak ada laporan terkait kriminalitas," katanya.
Selain mengamankan 23 anak punk, lanjut Heri, pihaknya juga menyita sejumlah barang bukti seperti senjata tajam (sajam), handphone, alat pukul atau roti kalung.
Mashudi, Plt Kepala Satpol PP Kota Mojokerto menambahkan, operasi penertiban tersebut rutin digelar. "Setiap ada pelanggaran akan dilakukan penertiban, tidak harus saat razia saja. Mereka kita berikan pembinaan dan diminta menyanyikan lagu Indonesia Raya. Rata-rata tidak bawa membawa identitas," jelasnya. ujeck
Dikirim dari ponsel cerdas BlackBerry 10 saya dengan jaringan Indosat.