Lebih dari Rp 10 Ribu Pengungsi Anak Hilang di Eropa

JAKARTA (Ralita) - Sebuah riset baru-baru ini mengungkap korban anak-anak pengungsi yang dinyatakan hilang di Eropa. Faktanya lebih dari 10 ribu pengungsi dan imigran balita hilang dari rombongannya di Eropa, pihak kepolisian Uni Eropa melalui Biro Europol mencurigai bila mereka telah dibius dan dimasukkan ke dalam jaringan pekerja seks atau perdagangan manusia. Europol mengkonfirmasi ke Aljazeera, Senin (1/2) kebanyakan pengungsi yang hilang di rentang usia 18-24 bulan.

"Usia tersebut sangatlah rentan bagi anak kecil untuk hilang dan tidak terdaftar dalam sistem pendaftaran dengan otoritas negara tempat mereka singgah di Eropa," ujar Kepala Biro Imigrasi Uni Eropa Brian Donald.

Donald mengaku tidak habis pikir bagaimana cara menemukan jumlah yang terbilang tidak masuk akal ini, di mana separuh dari total telah hilang di Italia, imbuhnya kepada kelompok pengamat.

"Mungkin tidak semua dari mereka menjadi eksploitasi kriminal, mungkin saja beberapa hanya terpisah dari pengawasan keluarga, namun begitu kita memang tidak tahu di mana mereka (yang hilang) saat ini, bersama siapa, dan sedang apa," pungkas Donald.

Sejauh ini otoritas kriminal Benua Biru sejak pertengahan 2014 mencatat adanya peningkatan terhadap eksploitasi pengungsi. Kelompok pengamat melaporkan pada Europol bila ada temuan bukti hubungan antara jaringan penyelundup yang membawa orang masuk ke Eropa dan bandit perdagangan manusia yang mengincar imigran untuk dijadikan pekerja seks dan budak. dsr