Lestarikan Sumber Air Hutan Welirang dengan Program Nabung Banyu

MOJOKERTO (Realita) - Upaya penyelamatan sumber air di Kawasan Hutan Welirang dengan cara mengalakan program 'Nabung Banyu' mulai digalakan. Konsep Nabung Banyu yang dilakukan Yayasan Lingkungan Hidup Seloliman (YLHS) bekerja sama dengan PT Multi Bintang Indonesia (MBI).

Konsep Nabung Bayu yang mulai dijalankan dengan cara penghijauan dan pemberdayaan masyarakat berbasis edukasi lingkungan untuk penyelamatan air gunung. Apalagi di Kawasan Hutan Gunung Welirang masuk dalam kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo. Tahura merupakan area strategis yang memiliki lima sub Daerah Aliran Sungai (DAS) utama. Dengan seluas 50 ribu hektar yang terdiri dari hutan konservasi, hutan lindung dan produksi ini menopang 60 persen atau setara 23 juta penduduk Jawa Timur.

Selain itu, sumber air dari gunung welirang ini menjadi tumpuhan masyarakat baik di hulu dan hilir DAS di berbagai sektor seperti pertanian, industri, pariwisata dan sektor bisnis lainnya. Namun berjalannya waktu, kondisinya saat ini mulai ada penurunan debit air secara umum yang disebabkan oleh perubahan tata guna lahan yang kurang tepat serta kebakaran hutan.

Menurut Direktur Hubungan Koorperasi PT MBI, Bambang Britono, kegiatan Nabung Banyu merupakan kegiatan konservasi mata air di wilayah Mojokerto dan sekitarnya. "Khususnya di area hulu sungau melalui reboisasi dan pemberdayaan masyarakat tepi hutan Gunung Welirang, Desa Claket, Kecamatan Pacet," kata Bambang, dalam sambutannya di kawasan Hutan Welirang, Sabtu (10/12/2016).

Menurutnya, wilayah tersebut berada dalam pengelolaan Tahura Raden Soerjo. Nabung banyu terdiri dari dua kegiatan umum yakni di hulu berupa penanaman atau reboisasi dan di hilir berupa edukasi masyarakat tentang lingkungan. Ada sebanyak 10 ribu tanaman endemik seperti beringin, kemiri, kluwek, bambu, nam-nam dan lainnya.

Sedangkan untuk penghijauan, sebanyak 20 ribu bibit yang bernilai ekonomis bagi masyarakat seperti bisbol, alpukat dan matoa ditanam di lahan seluas 10 hektar di kawasan Tahura Raden Soerjo. Selain penanaman untuk meningkatkan penyerapan air dan kapasitas debit mata air di Desa Claket, kegiatan di hilir dilengkapi dengan edukasi masyarakat.

"Seperti pengolahan sampah, meningkatkan kesadaran lingkungan hingga pendampingan sekolah berbudaya lingkungan atau yang lebih dikenal dengan Sekolah Adiwiyata. Program Nabung Banyu juga memberikan dampak positif secara ekonomi yakni pengembangan kewirausahaan," bebernya.

Dengan penghijauan itu, bisa memberikan alternatif tambahan penghasilan bagi warga desa. Pihaknya juga telah menyiapkan 20 unit green house juga dibangun di Desa Claket dan lima unit green house di Desa Sendi serta pula kedai hijau yang menampung hasil produksi organik. Tujuannya, jika penghasilan warga meningkat, maka kegiatan perambahan hutan akan berkurang.

"Serta memupuk keberlanjutan usaha pertanian dan meningkatkan produktifitas usaha non-kayu. Kegiatan ini merupakan komitmen salah satu program keberlanjutan Multi Bintang dalam perlindungan sumber daya air. Kami berharap program baik yang di hulu dan hilir dapat berkesinambungan dan berdampak pada ketersediaan air," ujarnya.

Selain berdampak pada ketersediaan air yang berkelanjutan bagi masyarakat, juga keseimbangan ekosistem dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Keberlanjutan telah menjadi strategi prioritas dan bagian dari ketersediaan operasional bisnis PT MBI dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat, lingkungan dan investor.

"Multi Bintang berkomitmen menjaga ekosistem sumber daya air karena air merupakan bagian dari strategi produksi kami. Mudah-mudahan dengan kegiatan ini, semua sadar akan pentingnya air bagi kehidupan. Kami berharap tidak saja didukung masyarakt sekitar tapi juga perusahaan lain yg ingin mengembalikan ekosistem," harapnya.

Suroso, Direktur YLHS, menambahkan penurunan debit air di kawasan Tahura Raden Soeryo juga semakin diperburuk dengan adanya perubahan iklim global seperti pola musim kemarau dan hujan yang tidak teratur. "Melalui program ini, diharapkan bisa memiliki dampak bagi keberlanjutan sumber mata air dan juga masyarakat baik di hulu dan di hilir," urainya.

Sementara itu, Suyatno mewakili UPT Tahura Raden Soerjo menyambut baik program Nabung Banyu. "Khususnya dalam upaya konservasi di wilayah Tahura Raden Soerjo yang melibatkan berbagai stakeholder terkait, termasuk kalangan swasta," pungkasnya. ujeck