Pasar Cari Jodoh, Janda ABG Menjamur

INDRAMAYU (Realita) - Jangan kaget jika berkunjung ke sekitar Pasar Jodoh, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Di sini, banyak wanita usia belasan sudah menjadi janda. Konon hal itu dikait-kaitkan dengan tradisi jaringan menjadi penyebab banyaknya janda di bawah umur. Jika di Kota Jakarta istilahnya di sebut “JAMUR’’ Janda di bawah umur.

"Keponakan saya aja ada 3 mas yang jadi janda. Usianya 16 tahunan," kata Eka warga Desa Parean.

Pengakuan soal banyaknya janda juga dibenarkan oleh Yuani, warga desa Parean Bulak. Dia mengatakan jika kebanyakan warga yang tinggal di sekitar Pasar Jodoh mayoritas menikah muda. Wanita-wanita itu kebanyakan menikah di usia 14 tahun. "Usia 14 tahun dan baru SMP di sini sudah menikah," kata Yuani.

Lalu bagaimana hubungannya dengan tradisi Jaringan? Eka mengatakan jika dia sempat mengalami tradisi jaringan sekitar 5 tahun lalu. Ajang mencari jodoh ini tadinya memang sakral, lantaran sejak lahir di Desa Parean Girang, tradisi ini memang diperuntukkan bagi mereka yang ingin membangun rumah tangga.

Namun seiring perkembangan zaman, tradisi itu justru diselewengkan hingga menabrak norma-norma masyarakat. Dia mencontohkan. Dulu, pasangan muda-mudi yang mendapat jodoh usai mengikuti tradisi jaringan, akan berlanjut ke pertunangan.

Namun ketika masa pertunangan itu, terjadi pergeseran makna. Biasanya wanita yang ikut jaringan berorientasi pada materi. Kejadian ini pernah dilihat langsung oleh Eka.

Ceritanya begini. Ketika itu temannya menemukan jodoh perjaka berprofesi sebagai nelayan. Sesuai tradisi jaringan baik wanita dan lelaki yang terikat pertunangan akan mengabdi bagi keluarganya hingga nanti menuju pernikahan.

Biasanya, keluarga lelaki akan memberikan uang jajan kepada wanita tunangan anaknya setiap bulan sesuai kesepakatan yang ditentukan. Sebagai imbalan, wanita itu akan memberikan bawaan berupa kebutuhan untuk lelaki calon suaminya.

Wanita itu datang ke keluarga lelaki dengan membawa bakul berisi kopi, gula dan segala jenis lainnya. Nanti wanitanya akan diberi uang sebagai balasan.

Namun seiring bergesernya waktu, uang pemberian itu harus melebihi barang yang dibawa. Jika tidak, pihak wanita bakal memutus sepihak ikatan pertunangan kepada keluarga lelaki. "Kalau yang dikasih uangnya dikit, bisa langsung ditinggal. Barang bawaannya dibawa lagi," kata Eka bercerita.

Jika merunut pada proses, sebetulnya, usai tradisi jaringan akan berlanjut ke dalam proses lamaran. Pada proses ini orangtua dari pihak laki-laki akan membayar sejumlah uang kepada pihak wanita. Selain itu ada tradisi membagi-bagikan sirih kepada tetangga sebagai isyarat bahwa si gadis sudah "diikat".

Dalam tradisi itu juga diwajibkan jika lelaki dan wanitanya harus mengabdi kepada calon mertua. Tradisi ini dalam kacamata masyarakat Indramayu disebut dengan sambatan. Eka pun mengakui jika pemuda pemudi yang menghadiri tradisi jaringan sekitar 10 tahun lalu niatnya hanya bersenang-senang. Jarang dari mereka yang benar-benar ingin mencari pendamping hidup.

"Mungkin karena itu di sini banyak janda," kata Eka yang sudah dua kali menikah ini.fh