Penanggungan Jadi Primadona Mahasiswa dari 11 Negara Asing

MOJOKERTO (Realita)- Gunung Penanggungan yang terletak di Desa Tamiajeng, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto merupakan gunung yang selama ini diagungkan oleh penganut agama Hindu di negara India. Bahkan, penanggungan juga manjadi primadona bagi wisatawan mancanegara khususnya mahasiswa asing.

Seperti yang lakukan 40 mahasiswa asing dari 11 negara asing. Mereka melakukan kunjungan di Mojokerto dengan mengelar workshop di Ubaya Trade Center, Senin (25/07/2016). Selain workshop, para mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu ini, juga melakukan kunjungan di sejumlah situs cagar budaya khususnya candi-candi peninggalan Kerajaan Majapahit.

"Sangat luar biasa, sampai-sampai sekarang ini bisa menarik perhatian para pakar disiplin ilmu dari 11 negara sekaligus," ungkap arkeolog Ismail Lutfhfi, usai memberikan materi saat workshop kepada 40 mahasiswa Asing dari 11 negara.

Lutfhi membeberkan, sesuai retetrofleksi survei Gunung Penanggungan pertama kali dilakukan penelitian pada tahun 1815 adalah orang asing. Selanjutnya di abad ke dua juga dilakukan warga asing. "Baru di abad ke tiga, kita yang melakukan," tegasnya.

Bagi orang asing, lanjut Lutfhi, Gunung Penangggungan dari dulu kala hingga saat ini masih memiliki daya tarik tersendiri. "Kita sebagai pendukung budayanya sendiri harus punya tanggung jawab untuk mendayagunakan lebih maksimal lagi," kata pria yang khas dengan rambut putihnya.

Banyaknya situs berupa candi yang berjumlah mencapai ratusan, menjadi daya tarik bagi tim Ekspedisi Ubaya dalam melakukan pengkajian. Dengan terbuktinya kekayaan yang ada, akan menjadi tolak ukur para Mahasiswa asing dari berbagai disiplin ilmu ini.

"Yang pasti, penanggungan menjadi primadona. Apalagi dengan spektakuler dan kondisnya sangat menarik untuk dijadikan kajian. Baik itu sejarah, arsitektur maupun kearifan lokal," paparnya. Namun hal itu, tak lepas dari dukungan masyarakat luas pada umumnya serta masyrakat lokal sekitar penanggungan.

Masih menurut Lutfhi, tim ekspedisi akan terus melakukan pengembangan terkait kajian situs kepurbakalan yang sudah berhasil diinventarisasi. Tujuannya tak lain adalah untuk membentuk pola pikir cinta akan warisan nenek moyang atau orang terdahulu. "Harus ada pelestarian secara kontinuitas dan sustainible," tegasnya.

Dalam kajian yang sudah berlangsung empat tahun terakhir, pihaknya mengaku banyak menemukan keunikan situs di area Gunung Penanggungan. Yang mungkin tidak ditemukan di tempat-tempat lain. "Ada perbedaan pola seni dan peradaban di tempat ketinggian ini," sambung Lutfi.

Keelokan penanggungan juga terlihat dari puncak penanggungan dan puncak bayangan, serta bukit penyangga dengan arca-arca atau candi yang lebih spesifik. Sehingga, hal itu dianggap berbeda dibanding situs purbakala yang ditemukan di berbagai wilayah di Indonesia.

"Gunung ini juga memiliki fungsi yang khas, yakni sebagai fungsi religi," ujarnya. Seperti diketahui, gunung berketinggian 1.653 Mdpl cukup memiliki banyak potensi. Seperti potensi keilmuan (arkeolog), potensi budaya, dan masih banyak lainnya. ujek