Pengesahan Anggota Baru PSHT Diwarnai Bentrokan

MOJOKERTO (Realita) - Pengesahan atau wisuda warga baru tahun 2016 Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Mojokerto, diciderai dengan adanya insiden tindak kriminal yang diduga dilakukan dari salah satu anggota PSHT.

Insiden kekerasan itu menimpa, Andi Maulana warga Desa Kebonagung, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto. Saat itu, pemuda berusia 21 tahun ini, sedang asyik ngopi bersama rekannya di salah satu warung desa setempat.

Tanpa ada firasat sebelumnya, tiba-tiba dibacok salah satu orang diduga dari anggota perguruan pencak silat SH Terate yang sedang melintas, Sabtu, (15/10) sekira pukul 23.30 WIB. Akibatnya, korban mengalami luka robek di bagian dagu dan hidung.

Sementara itu, sejumlah warga yang berada di sekitar lokasi kejadian spontan menolong Andi dan melarikan ke Puskesmas Puri untuk mendapatkan perawatan medis.

Sejumlah sumber warga lokasi menyebutkan, arak-arakan rombangan PSHT dari Kota Mojokerto ini bertujuan mendatangi kegiatan Pengesahan Warga Baru PSHT yang digelar di kantor Balai Desa Wiyu, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto.

Diluar dugaan, pasca kejadian tersebut, ratusan warga Desa Puri memadati tepi Jalan Raya. Sempat terjadi bentrok antara warga dan anggota PSHT yang sedang melintas. Dari bentrok itu, sedikitnya tiga sepeda motor yang diduga milik anggota PSHT dijungkir balikkan warga hingga salah satu motor masuk ke parit. Tak lama setelah sejumlah anggota kepolisian tiba di lokasi bentrok untuk meredam kemarahan warga. Sedangkan motor yang diduga milik anggota PSHT itu kemudian diamankan di Polsek Puri.

Kepada Wartawan, Sandi, salah satu warga Desa Puri menuturkan , saat terjadi bentrok antara warga dengan anggota PSHT, dirinya sempat melihat dan mendengar polisi melakukan tembakan peringatan ke udara untuk membubarkan massa. "Setelah adanya tembakan udara, kemudian massa banyak yang berlari ke arah utara (kembali ke arah Kota Mojokerto)," jelasnya.

Sebelum terjadinya bentrok di Puri, sejumlah anggota PSHT juga sempat terjadi perselisihan di perbatasan Mojokerto utara. Tak ayal, sejumlah anggota Polres Mojokerto Kota yang sedang bertugas melakukan penghadangan terhadap konvoi PSHT agar tidak melewati jalur dalam kota.

Ribuan anggota PSHT yang berasal dari luar Mojokerto sempat dikumpulkan oleh anggota Polres Mojokerto Kota di Taman Brantas Indah (TBI) sebelum melanjutkan perjalanan menuju Balai Desa Wiyu. Rute perjalanan konvoi PSHT, dialihkan melalui Jalan By Pass Mojokerto, kemudian di Simpang Lima Kenanten, rombongan belok kiri menuju arah Mojosari. Kemudian, rombongan melanjutkan perjalanan melalui Jalan Raya Puri, Dlanggu, Gondang menuju Desa Wiyu.

Pantauan Realita.co, di lokasi kejadian, Minggu dini hari, sekitar pukul 03.15 WIB, rombongan PSHT dari Balai Desa Wiyu meninggalkan lokasi kegiatan. Rombongan tersebut dikawal polisi sepanjang jalan untuk mengantisipasi kejadian-kejadian yang tidak diinginkan.

Ratusan anggota Polres Mojokerto juga melakukan pengamanan disekitar lokasi acara pengesahan dan menetapkan status siaga satu untuk wilayah Kecamatan Puri. Sejumlah pejabat Polres Mojokerto juga turut turun ke lokasi bentrok sejak (15/10) malam. Sedikitnya satu kompi anggota Sat Sabhara disiagakan di lokasi untuk mengantisipasi bentrok susulan.

AKBP Boro Windu Danandito, Kapolres Mojokerto mengatakan, hingga Minggu (16/10) pagi, di wilayah Kecamatan Puri sangat kondusif hingga seluruh anggota PSHT pulang ke kediaman masing-masing. "Alhamdulillah semuanya kondusif, tidak ada bentrok antar warga dan PSHT lagi," kata Boro disela-sela pengamanan konvoi PSHT.

Sekedar diketahui, dalam pengamanan kegiatan pengesahan warga baru PSHT di balai Desa Wiyu, Pacet. Sebanyak 196 personil Polres Mojokerto, dari Kodim 20 personil, Dishub 10 personil. Sedangkan dari pengamanan internal SH Terate (Pamshter) 50 pendekar. Jadi total pengamanan kegiatan tahunan PSHT tersebut hanya berjumlah 286 orang. ujek