Tradisi Sedekah Bumi, Desa Salen Gelar Kesenian Ujung

MOJOKERTO (Realita) - Ruwah desa atau biasa disebut sebagai tradisi sedekah bumi, di sejumlah desa di Kabupaten Mojokerto terus diperingati saat jelang bulan suci ramadhan. Seperti yang dilakukan Desa Salen, Kecamatan Bangsal, Selasa (16/5/2017). Pihak pemerintah Desa Salen mengelar kesenian Ujung (saling memukul dengan rotan) diatas panggung.
Ujung sendiri merupakan kesenian tradisional peninggalan jaman Majapahit, yang masih dilestarikan warga Desa Salen hingga era modern ini.
Wiwik Nurhayati, Kades Salen mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan tradisi leluhur yang merupakan kearifan budaya lokal Desa Salen, yang sudah turun temurun dari warisan nenek moyang.
"Kita ini menghidupkan lagi tradisi peninggalan nenek moyang kita. Untuk peserta Ujung sekitar 100 orang, bukan hanya dari lokal warga Salen, namun banyak juga dari luar desa Salen," kata Wiwik di ruang kerjanya.
Seluruh peserta yang naik panggung untuk Ujung, panitia menyiapkan imbalan uang. Tak sedikit dari para perangkat desa maupun tamu dari Muspika menyawer kepada para pemain Ujung. Uang yang sudah disiapkan penyawer diberikan kepada peserta Ujung dengan disisipkan diatas telingga.
Sementara untuk mengiringi pertandingan Ujung, panitia menyiapkan seperangkat gamelan yang terus mengalun hingga pertandingan Ujung selesai.
Widodo, salah satu sesepuh ujung Desa Salen menambahkan dalam pertunjunkan Ujung, para pemain dituntut bisa saling beradu taktik dan strategi. Bukan hanya sekadar memukul.
Menurutnya, untuk mengayunkan rotan ke arah punggung lawan, dibutuhkan kecepatan dan ketepatan saat menyerang maupun ketika menangkis. "Terlebih, dua pemain diatas panggung harus bertelanjang dada dan saling berhadap-hadapan serta saling bergantian memukul menggunakan jalin (batang rotan)," ungkapnya.
Dalam pertandingan Ujung itu, dipandu oleh penengah yang bertindak sebagai Kemlandang (wasit) dari tetua desa. Sebagai tugasnya dalam pertunjukan Ujung Kemlandang memiliki wewenang mengatur dan menjaga arena panggung agar tetap berirama dan tetap dalam rytme permainan.
Kendati saling memukul dengan rotan, senyum lebar tetap terpancar dari wajah para pemain. Sebagai penyemangat bagi peserta, tetua sambil menaburkan beras kuning bercampur uang koin dari bokor yang dibawanya, hal itu membawa suasana semakin dan tenang.
Tak sedikit, peserta Ujung harus mengalami luka memar yang terlihat di punggung maupun perutnya. Namun, para peserta tak terlihat kesakitan. Sebagai imbalan, peserta mendapatkan uang Rp 15 ribu.
Kendati imbalan yang diberikan panitia tidak sebanding dengan memar yang dialami, namun itu tidak menyurutkan nyali peserta yang menunggu antrian pertunjukan mencambuk dan dicambuk di atas panggung.
"Di jaman dahulu, kesenian ujung merupakan sebuah tradisi leluhur untuk meminta hujan saat musim kemarau panjang. Namun sekarang ini ujung lebih menjadi sebuah kesenian yang mempertunjukan atraksi yang cukup membuat kita tercengang. Tentunya kesenian seperti inilah yang harus tetap dijaga agar tetap menjadi kekayaan budaya yang harus dilestarikan," pungkas Widodo. ujeck