Untuk Tujuan Damai, Iran Resmi Punya Nuklir

WINA (Realita) - Setelah perundingan dengan enam negara barat, dengan dipimpin Amerika Serikat, Iran Akhirnya berhasil memiliki Nuklir. Dalam perundingan di kota Wina Austria, Iran mengaku menggunakan kesempatan ini untuk keperluan damai.

Iran dan enam negara Barat dipimpin Amerika Serikat, berhasil menuntaskan perjanjian terkait teknologi nuklir di Kota Wina, Austria, hari ini, Selasa (14/7). Iran, negara mayoritas Syiah, diizinkan memiliki teknologi nuklir untuk tujuan damai. Sanksi ekonomi yang sejak tiga tahun terakhir menimpa Negeri Para Mullah itu dicabut.

"Semua kerja keras selama beberapa waktu ini terbayar sudah," kata salah satu sumber diplomat Iran yang tidak disebut namanya kepada Kantor Berita Reuters.

Kepastian lebih detail terkait poin-poin negosiasi yang disetujui, akan dibacakan oleh Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif bersama Kepala Bidang Luar Negeri Uni Eropa Federica Mogherini. Jumpa pers itu digelar di Kota Wina, Austria, sore ini.

Negosiasi ini digelar antara Iran dengan enam negara berpengaruh dunia, yakni Amerika Serikat, China, Inggris, Prancis, Jerman, dan Rusia.

Proses perundingan sempat dikhawatirkan buntu. Tapi Menteri Luar Negeri AS, John Kerry, jadi pihak yang paling gigih menggelar rapat maraton bersama diplomat Iran. Perjanjian ini diklaim Presiden Barack Obama sebagai keberhasilan negaranya menjaga stabilitas Timur Tengah lewat jalan damai.

Satu-satunya pihak yang tidak senang dengan kabar itu adalah Israel. Negeri Zionis ini selalu khawatir Iran diam-diam membangun rudal berhulu ledak nuklir yang bisa menjangkau negaranya.

Ketika melawat ke AS dua bulan lalu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mendesak oposisi Obama agar membatalkan perjanjian ini di masa depan.

"Iran akan mendapat hadiah besar. Ini kesalahan besar sejarah," ujarnya seperti dikutip Reuters, saat berpidato di Ibu Kota Tel Aviv siang tadi waktu setempat.

Merujuk naskah perjanjian awal, Iran bersedia mengurangi persediaan fasilitas pengayaan uranium hingga 98 persen. Dengan demikian, negara Syiah kaya minyak itu dipastikan tidak memiliki bahan baku senjata nuklir. Selain itu, pemerintah Iran juga bersedia diperiksa badan internasional Energi Atom (IAEA) saban tahun.

Sebagai ganti atas sikap kooperatif itu, Iran tidak lagi dikenakan sanksi ekonomi, baik oleh AS, Inggris, maupun Jerman. Iran memiliki reaktor nuklir terbesar di Kota Arak, yang menurut laporan PBB sudah mampu mengurai uranium ke level 20 persen, tahap awal membuat bom. ret