SURABAYA (Realita)– Di tengah tantangan ekonomi dan kebutuhan akan kemandirian warga di tingkat akar rumput, Pemerintah Kota Surabaya memilih jalur kolektif: koperasi. Bukan koperasi konvensional, melainkan koperasi kelurahan yang kini menyongsong era digital. Nama programnya: Koperasi Merah Putih.
Sejak 10 Juni 2025, sebanyak 153 Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) resmi terbentuk dan telah memiliki akta hukum. Ini bukan sekadar angka, melainkan wujud nyata tekad Surabaya untuk membangun kemandirian ekonomi dari kampung-kampung. Di balik pembentukannya, ada semangat gotong royong dan inovasi yang menyatu.
Baca juga: Pembebasan Lahan Kampung Taman Pelangi Rampung, Proyek Flyover Segera Dibangun
“153 koperasi ini bukan hanya berdiri untuk formalitas. Kami ingin mereka benar-benar hidup, jadi solusi ekonomi di wilayahnya masing-masing,” ujar Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan (Dinkopdag) Surabaya, Febrina Kusumawati, Kamis (31/7/2025).
Yang menarik, KKMP tidak dibiarkan berjalan sendiri. Pemerintah Kota menyuntikkan pendekatan digital sebagai sistem pendamping. Melalui sistem daring yang dikembangkan Dinkopdag, koperasi-koperasi ini bisa melaporkan stok, kendala, hingga mengajukan kebutuhan usaha secara real-time.
“Kalau manual, kami pasti kewalahan. Dengan sistem digital, kami bisa tahu mana koperasi yang jalan, mana yang macet. Bahkan kalau stok beras belum laku, kami bisa bantu carikan jalan keluar,” jelas Febrina.
Dengan sistem ini, transparansi dan efisiensi menjadi kata kunci. Laporan keuangan, permintaan bahan baku, hingga kendala logistik semua tercatat dalam satu dasbor. Tak hanya mempercepat respon, tetapi juga mendekatkan layanan pemerintah ke jantung ekonomi warga.
Namun, koperasi bukan sekadar jual beli. Sebelum benar-benar beroperasi, Dinkopdag meminta kelurahan dan kecamatan untuk melakukan pemetaan potensi wilayah. Ini langkah penting agar koperasi tidak hanya mengikuti tren, tapi benar-benar menjawab kebutuhan lokal.
“Kalau wilayahnya kuat di produksi kue, ya itu dulu yang dikembangkan. Baru kemudian masuk ke layanan lain seperti PPOB atau suplai beras,” ujar Febri.
Sederhana tapi tepat sasaran. Karena dari sanalah koperasi bisa bertumbuh dimulai dari apa yang dimiliki warga, dan berkembang untuk menjawab apa yang dibutuhkan warga lainnya.
Baca juga: Baru Beroperasi, Satgas Premanisme dan Mafia Tanah Surabaya Terima Puluhan Aduan
KKMP juga berperan sebagai jembatan antara pelaku usaha mikro dan akses ke bahan baku atau permodalan. Misalnya, UMKM pembuat kue yang kesulitan bahan pokok seperti beras, bisa bergabung sebagai anggota koperasi, lalu dibantu mencarikan pemasok terpercaya.
“Bahkan koperasi juga bisa jadi penyalur elpiji 3 kilogram, atau beras murah dengan harga produsen. Jadi koperasi bukan hanya milik pengurusnya, tapi menjadi alat bantu warga sekitar,” imbuh Febri.
Di balik pembentukan 153 koperasi itu, ada kolaborasi lintas sektor. Mulai dari camat, lurah, hingga notaris dari Ikatan Notaris Indonesia yang membantu proses legalitas. Tiga koperasi yang telah eksis sebelumnya direvitalisasi, sementara 150 koperasi lainnya dibentuk dari nol, lengkap dengan susunan pengurus baru.
“Alhamdulillah semua sudah berakta hukum. Tapi kami tidak berhenti di sana. Kami juga siapkan pelatihan manajemen, keuangan, hingga strategi usaha,” ucap Febri.
Baca juga: Bayar Parkir Non-tunai Ditolak Jukir, Wali Kota Eri: Laporkan ke Satgas Anti-Preman
Pelatihan ini menyasar pengurus koperasi dan pelaku UMKM yang tergabung dalam KKMP. Tujuannya, mereka tak hanya bisa berdagang, tapi juga mengelola organisasi secara sehat dan berkelanjutan.
Ke depan, Dinkopdag menargetkan agar seluruh koperasi Merah Putih aktif dan mandiri. Bukan hanya bertahan hidup, tapi mampu tumbuh menjadi penggerak roda ekonomi masyarakat kelurahan.
“Kami ingin 153 koperasi ini menyala semua. Jadi bukan sekadar dibentuk, tapi benar-benar hidup, hadir, dan tumbuh bersama masyarakat,” pungkas Febri dengan semangat.
Di tengah megahnya pembangunan kota, langkah Surabaya untuk memulai dari kampung-kampung adalah pengingat: bahwa kekuatan ekonomi sejati lahir dari komunitas yang kuat, terorganisir, dan saling percaya.yudhi
Editor : Redaksi