SURABAYA (Realita)— Pagi belum sepenuhnya ramai ketika aktivitas masyarakat mulai bergerak. Di tengah hiruk-pikuk kota, berbagai persoalan kerap luput dari sorotan: petani yang membutuhkan kepastian pasar, anak muda yang mencari ruang berkembang, pelaku UMKM yang berjuang mempertahankan usaha, hingga masyarakat yang berharap suaranya benar-benar sampai ke meja pengambil kebijakan.
Di ruang-ruang itulah perjalanan Dr. Lia Istifhama, S.H.I., S.Sos., S.Sos.I., M.E.I., atau yang akrab disapa Ning Lia, menemukan konteksnya.
Perempuan kelahiran Surabaya, 12 Februari 1984, itu kini bukan hanya dikenal sebagai senator. Sebelum duduk di DPD RI, ia melewati perjalanan panjang sebagai akademisi, aktivis sosial, organisator, penulis, advokat, serta terlibat dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan.
Kini, ia membawa mandat 2.739.123 pemilih Jawa Timur ke Senayan.
Angka itu besar. Namun, angka juga membawa tanggung jawab.
Sebab, di balik setiap suara terdapat harapan agar seorang wakil rakyat tidak hanya hadir ketika membutuhkan dukungan, tetapi tetap hadir setelah suara diberikan.
Tiga Kampus dan Rasa Ingin Tahu
Ada bagian menarik dalam perjalanan pendidikan Ning Lia.
Pada 2002, ia disebut menempuh tiga program sarjana sekaligus. Masing-masing Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Airlangga, Fakultas Muamalah atau Hukum Islam di IAIN Sunan Ampel yang kini menjadi UIN Sunan Ampel Surabaya, serta Fakultas Dakwah di STID Taruna Surabaya.
Tiga bidang tersebut mempertemukannya dengan tiga perspektif berbeda.
Ilmu sosial membawanya memahami dinamika masyarakat. Hukum Islam mempertemukannya dengan persoalan norma dan keadilan. Sementara ilmu dakwah mengajarinya bagaimana gagasan disampaikan kepada masyarakat.
Perjalanan akademiknya kemudian berlanjut. Ia menyelesaikan Magister Ekonomi Islam di UIN Sunan Ampel pada 2013 sebelum melanjutkan pendidikan doktoral.
Ia juga pernah menempuh pendidikan pesantren di Pondok Pesantren Al-Haqiqi Surabaya.
Pendidikan tersebut pada akhirnya tidak sekadar menjadi deretan gelar di belakang nama.
Ia menjadi modal untuk membaca persoalan dari berbagai sudut.
Dari Lingkungan NU ke Ruang Publik
Ning Lia tumbuh dalam keluarga yang memiliki akar kuat di lingkungan Nahdlatul Ulama Jawa Timur.
Ia merupakan putri KH Maskur Hasyim dan Hj. Aisyah. KH Maskur Hasyim dikenal sebagai salah satu tokoh senior NU Jawa Timur.
Ning Lia juga merupakan keponakan Khofifah Indar Parawansa.
Namun, perjalanan menuju Senayan tidak hanya bertumpu pada latar belakang keluarga.
Sebelum masuk ke lembaga legislatif, ia membangun aktivitas melalui organisasi dan kegiatan sosial.
Ia pernah menjadi Ketua DPD Perempuan Tani HKTI Jawa Timur periode 2019–2024. Ia juga tercatat sebagai Sekretaris MUI Jawa Timur periode 2020–2025 dan Ketua Bidang KORMI Jawa Timur periode 2023–2028.
Keterlibatannya juga tercatat dalam Forum Silaturahmi Doktor Indonesia Jawa Timur serta sejumlah organisasi di lingkungan NU.
Ruang geraknya menjadi beragam: masyarakat pertanian, organisasi keagamaan, akademisi, komunitas olahraga hingga kelompok sosial.
Dari berbagai ruang tersebut, persoalan masyarakat terlihat tidak pernah berdiri sendiri.
Ekonomi bersentuhan dengan pendidikan. Pendidikan berhubungan dengan kesempatan anak muda. Kebudayaan dapat berkembang menjadi ekonomi kreatif. Semuanya pada akhirnya membutuhkan kebijakan.
Ketika Suara Masyarakat Masuk ke Senayan
Pemilu 2024 menjadi titik penting dalam perjalanan politik Ning Lia.
Ia maju sebagai calon anggota DPD RI dari Jawa Timur tanpa kendaraan partai politik dan memperoleh 2.739.123 suara.
Perolehan tersebut membuatnya tercatat sebagai anggota DPD RI perempuan nonpetahana dengan suara tertinggi secara nasional.
Namun, kemenangan itu bukan garis akhir.
Justru di sinilah pekerjaan dimulai.
Sebagai anggota DPD RI periode 2024–2029 dan anggota Komite III, Ning Lia memiliki mandat membawa kepentingan daerah ke tingkat nasional.
Dalam kegiatan reses dan dialog, ia bertemu dengan berbagai kelompok masyarakat, mulai dari anak muda, pelaku UMKM, organisasi keagamaan hingga komunitas sosial.
Suara masyarakat semestinya tidak berhenti menjadi catatan dalam agenda.
Suara itu harus bergerak menjadi aspirasi. Dari aspirasi menjadi pembahasan. Dan dari pembahasan diharapkan lahir kebijakan.
Di situlah fungsi seorang senator diuji.
Anak Muda dan Potensi yang Sering Terlewat
Perhatian Ning Lia juga diarahkan kepada generasi muda.
Dalam Grand Final Pemilihan Duta Wisata Raka-Raki Jawa Timur 2026, ia mendorong pemuda agar tidak sekadar menjadi duta yang mengenakan atribut daerah.
Mereka diharapkan menjadi penggerak yang mampu membawa seni, budaya, pariwisata dan ekonomi kreatif Jawa Timur ke tingkat internasional.
Gagasan itu berangkat dari persoalan sederhana.
Jawa Timur memiliki banyak potensi. Namun, potensi tanpa kemampuan mengemas dan memasarkannya akan sulit bersaing.
Di sinilah anak muda memiliki ruang untuk mengubah keadaan.
Mereka bukan sekadar konsumen budaya, tetapi dapat menjadi pencipta.
Bukan sekadar penonton pariwisata, tetapi dapat menjadi penggerak ekonomi.
Politik Tidak Selalu Harus Berbicara di Podium
Ada sisi lain Ning Lia yang membuat profilnya tidak hanya berada di ruang politik.
Ia menulis. Ia berkarya. Ia juga masuk ke dunia musik.
Novel Berkisah Tentang Hati menjadi salah satu karya yang dikaitkan dengan aktivitas kepenulisannya.
Sementara melalui lagu seperti “Cinta Tani” dan “Petani Bejo”, ia membawa tema sosial dan pertanian ke medium musik.
Pilihan tersebut menunjukkan bahwa pesan kepada masyarakat tidak selalu harus disampaikan melalui ruang politik formal.
Sebuah gagasan terkadang lebih mudah diterima ketika hadir dalam cerita.
Atau dalam lagu.
Atau melalui percakapan sederhana dengan masyarakat.
Dari “Senator Idola” hingga Pertanyaan Publik
Pada Agustus 2026, Ning Lia memperoleh penghargaan Radar Surabaya Awards 2026 sebagai “Senator Idola Masyarakat.”
Penghargaan itu menjadi bentuk apresiasi terhadap kiprahnya.
Namun, menjadi idola bukanlah akhir perjalanan.
Justru setelah predikat tersebut diterima, tuntutan publik semakin besar.
Masyarakat akan melihat apa yang dilakukan ketika lampu panggung padam.
Apa yang dibawa dari daerah ke Senayan.
Apa yang diperjuangkan untuk petani.
Apa yang dilakukan untuk UMKM.
Bagaimana anak muda diberi ruang.
Dan sejauh mana masyarakat benar-benar merasa memiliki wakil di tingkat nasional.
Popularitas dapat datang dari banyak hal.
Tetapi kepercayaan harus dirawat melalui kerja.
2,7 Juta Suara dan Lima Tahun Pembuktian
Ning Lia kini memiliki waktu hingga 2029 untuk menjalankan mandat tersebut.
Lebih dari 2,7 juta suara telah mengantarkannya ke Senayan.
Namun, suara itu bukan cek kosong.
Ia merupakan kontrak sosial yang tidak tertulis.
Masyarakat memilih karena percaya. Kepercayaan tersebut hanya dapat dijawab melalui kerja yang bisa dilihat, didengar dan, yang paling penting, dirasakan.
Perjalanan Ning Lia dari tiga kampus, organisasi sosial, dunia kepenulisan dan aktivitas kemasyarakatan hingga akhirnya duduk di Senayan menunjukkan bahwa politik dapat ditempuh melalui banyak pintu.
Namun setelah sampai di ruang kekuasaan, pintu yang paling penting justru tetap sama: pintu masyarakat.
Di sanalah seorang wakil rakyat kembali diuji.
Bukan semata berapa banyak gelar yang disandang.
Bukan seberapa sering namanya diberitakan.
Bukan pula berapa banyak penghargaan yang diterima.
Melainkan satu pertanyaan paling sederhana:
Apakah masyarakat yang dulu memberikan suaranya kini benar-benar merasakan manfaat dari keberadaannya?yudhi
Editor : Redaksi
URL : https://realita.co/baca-50464-ning-lia-menyusuri-jalan-panjang-dari-tiga-kampus-hingga-senayan