90 Pelajar Depok Diberangkatkan ke Barak Militer, Orang Tua Lepas dengan Penuh Haru

realita.co
Sejumlah pelajar SMP di Depok saat menaiki mobil TNI untuk berangkat ke Markas Divisi 1 Kostrad, Cilodong, Sabtu (31/5/2025). (Foto: Istimewa)

DEPOK (Realita) - Sebanyak 90 pelajar Kota Depok telah resmi diberangkatkan untuk mengikuti program pendidikan semi militer gelombang pertama di Markas Divisi 1 Kostrad, Cilodong, pada Sabtu (31/5/2025).

Keberangkatan para pelajar ini disambut penuh haru oleh para orang tua yang turut hadir dalam acara pelepasan di halaman Balai Kota Depok.

Baca juga: Pendaftaran Program Barak Militer di Depok Diminati, Kuota Naik Dua Kali Lipat

Tangis haru dan doa mengiringi keberangkatan para siswa SMP tersebut yang akan digembleng selama 10 hari ke depan untuk mengikuti pembinaan karakter dan bela negara tersebut.

Program ini merupakan inisiatif Pemerintah Kota (Pemkot) Depok yang selaras dengan visi Gubernur Jawa Barat untuk membentuk generasi muda yang lebih disiplin, tangguh, dan berkarakter.

Tidak lagi sekadar teori di dalam kelas, kini para pelajar juga mendapatkan latihan fisik dan penguatan nilai-nilai kebangsaan di lingkungan militer.

Menurut Wali Kota Depok, Supian Suri, konsep pembinaan kali ini jauh lebih mendalam.

"Tadinya kita hanya di ruangan, narasumber gitu, tetapi seiring waktu programnya Pak Gubernur (Jabar) bagaimana meningkatkan kedisiplinan anak-anak kita," terang Supian.

Supian Suri mengungkapkan bahwa program ini dibiayai penuh oleh APBD Kota Depok tahun 2025.

Awalnya, kuota hanya disediakan untuk 50 peserta, namun karena tingginya minat dari masyarakat, alokasi anggaran diperluas hingga mencakup 90 pelajar.

"Jadi kalau cerita anggaran, ini anggaran dari Pemerintah Kota Depok yang di tahun 2025, hanya saja kemarin pagu kita hanya untuk 50 orang kuota," ujar Supian.

Tercatat ada 378 pelajar yang mendaftar, namun dalam gelombang pertama ini hanya 100 orang yang lolos seleksi administratif, dan akhirnya 90 pelajar benar-benar berangkat mengikuti program tersebut.

Supian menegaskan bahwa keikutsertaan para pelajar ini bersifat sukarela.

"Jadi kita gak memaksa orang ditarik, dipaksa untuk ikut gak, ini bener-bener keikhlasan dari orang tua, komitmen orang tua mengizinkan anaknya bersama kami selama 10 hari kedepan dan tentunya ini juga anak-anaknya bersedia," beber Supian.

Supian juga menyatakan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

"KPAI menyampaikan beberapa rekomendasi, ya kami memahami apa yang menjadi kekhawatiran, tapi kami meyakini, pertama proses ini adalah proses yang sebetulnya tidak berbeda dengan mereka belajar mengajar di sekolah," ungkap Supian

"Artinya jam belajar mereka tidak terkurangi, tidak digantikan dengan yang lain. Hanya saja waktu yang selama ini mungkin di luar jam belajar mereka itu memanfaatkan buat yang lain, kita masuk di sana," imbuh Supian.

Peserta gelombang pertama ini mayoritas berasal dari jenjang SMP, dengan usia antara 13 hingga 15 tahun.

Selama 10 hari di markas Kostrad Cilodong, mereka akan mendapat pelatihan.

"Nah nanti untuk yang SMA mungkin kita pisah, khusus yang SMA. Kalau seandainya nanti kita akan berencana untuk gelombang kedua ya, karena banyak yang mendaftar dari SMA," ucap Supian.

Salah satu orang tua peserta, Ida, warga Pancoran Mas, mengaku sangat bersyukur dengan adanya program ini.

Ida berharap anak laki-lakinya yang duduk di kelas 8 SMP ini bisa lebih bertanggung jawab setelah menjalani program tersebut.

"Susah banget emang diaturnya. Anak saya cowok, kelas 8 SMP. Saya sempat juga kemarin tuh terakhir dia punya kejadian nabrak dua mobil, dibawa ke polsek kan gitu. Saya bilang nitip sama pak polisi, pak polisi saya saya nitip ini aja anak saya, nggak bisa," ujar Ida.

Kini, melalui program ini, Ida berharap anaknya bisa berubah.

"Bisa mandiri, bisa lebih baik lagi, tanggung jawab. Ya gak mengulangi lagi perbuatan yang lalu-lalu, pokoknya bisa lebih baik lagi deh," tukas Ida. Hry

Editor : Redaksi

Politik & Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru