Sosok 6 Ilmuwan Nuklir Iran Tewas dalam Serangan Israel: Mehdi Tehranchi hingga Fereydoun Abbasi

Reporter : Redaksi
Tangkap layar YouTube Al Jazeera English pada 13 Juni 2025, memperlihatkan dua ilmuwan nuklir Iran, Mohammad Mehdi Tehranchi (kiri) dan Fereydoun Abbasi (kanan) yang tewas dalam serangan Israel, Jumat (13/6/2025).

JAKARTA (Realita) - Enam ilmuwan nuklir Iran tewas dalam serangan udara yang dilakukan oleh Israel pada Jumat (13/6/2025).

Dua di antaranya merupakan tokoh penting dalam program nuklir Iran.

Baca juga: Ayah dan Putranya Tewas  Ditembak saat Jalan Kaki di Israel

Lebih dari 200 jet tempur Angkatan Udara Israel menyerang lebih dari 100 target strategis, termasuk fasilitas nuklir, instalasi militer, dan infrastruktur penting di seluruh Iran, termasuk situs utama pengayaan uranium di Natanz.

Militer Israel mengklaim telah berhasil merusak struktur bawah tanah fasilitas Natanz, termasuk aula pengayaan bertingkat yang berisi sentrifugal, ruang kelistrikan, dan infrastruktur pendukung lainnya.

Bangunan tempat tinggal sejumlah ilmuwan juga dilaporkan mengalami kerusakan parah.

Sosok 6 Ilmuwan Nuklir Iran yang Terbunuh

Kantor berita Iran Tasnim mengidentifikasi dua korban, Mohammad Mehdi Tehranchi dan Fereydoun Abbasi, sebagai ilmuwan nuklir paling senior di antara para korban.

Mereka adalah:

1. Mohammad Mehdi Tehranchi

Tehranchi adalah seorang fisikawan teoretis yang menjabat sebagai Presiden Universitas Islam Azad.

Ia masuk dalam Daftar Entitas Departemen Perdagangan AS pada Maret 2020, karena dianggap bertindak "bertentangan dengan kepentingan keamanan nasional atau kebijakan luar negeri AS."

2. Fereydoun Abbasi

Abbasi adalah mantan Kepala Organisasi Energi Atom Iran (AEOI) dan mantan anggota parlemen Iran.

Ia meraih gelar doktor di bidang fisika nuklir dan sebelumnya bekerja untuk Kementerian Pertahanan Iran.

Ia pernah lolos dari upaya pembunuhan pada 2010 yang menewaskan ilmuwan Majid Shahriari.

3. Abdolhamid Minouchehr

Minouchehr merupakan doktor teknik nuklir sekaligus Dekan Fakultas Teknik Nuklir di Universitas Shahid Beheshti.

Baca juga: Rektor UI Serukan Reformasi DK PBB dan Dukungan Nyata untuk Palestina

Ia dikenal lewat risetnya untuk meningkatkan efisiensi dan keselamatan pembangkit listrik tenaga nuklir.

4. Ahmad Reza Zolfaghari

Profesor teknik nuklir di Universitas Shahid Beheshti.

5. Amir Hossein Faghihi

Anggota fakultas teknik di Universitas Shahid Beheshti, mantan wakil presiden AEOI, serta mantan kepala Institut Penelitian Sains dan Teknologi Nuklir.

6. Motallebzadeh

Ilmuwan nuklir yang menjadi korban dalam serangan tersebut bersama istrinya.

Kerusakan Situs Nuklir Iran: Natanz Terdampak, Fordow dan Isfahan Masih Utuh

Serangan besar-besaran Israel ke Iran pada Jumat (13/6/2025) yang menewaskan sejumlah ilmuwan nuklir ternama, tidak serta-merta melumpuhkan seluruh infrastruktur nuklir Iran.

Baca juga: Pemukim Ilegal israel Kembali Serbu Masjid Al-Aqsha

Menurut analisis citra satelit terbaru, sebagian besar fasilitas utama dilaporkan tidak mengalami kerusakan besar.

Pakar menyebut hanya kompleks nuklir Natanz yang menunjukkan tanda-tanda kerusakan, sedangkan Fordow dan Isfahan tampak masih utuh.

"Kami tidak melihat kerusakan mencolok di Fordow atau Isfahan. Ada kerusakan di Natanz, tetapi belum ada bukti bahwa situs bawah tanah di sana hancur," kata David Albright, pakar nuklir dari Institut Sains dan Keamanan Internasional.

Albright menyatakan, penilaiannya didasarkan pada citra satelit terbaru yang tersedia hingga pukul 11.20 waktu Teheran.

Ia menambahkan, serangan drone mungkin telah menargetkan terowongan menuju fasilitas bawah tanah, atau bahkan serangan siber yang tidak meninggalkan jejak visual.

Situs Natanz merupakan fasilitas pengayaan uranium utama Iran, terdiri atas pabrik pengayaan bawah tanah yang luas serta fasilitas pengayaan percontohan di atas tanah.

Menurut Albright, ribuan sentrifugal berada di dalam fasilitas bawah tanah Natanz. Jika pasokan listrik terputus, sistem akan beralih ke baterai cadangan secara otomatis.

Meski begitu, potensi kerusakan tetap ada, terutama jika sistem cadangan gagal mempertahankan kestabilan operasional.rin

Editor : Redaksi

Politik & Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru