GAMELEIRA (Realita)- Sebuah kamera pengawas merekam momen eksekusi José Eduardo Amarilha Misiano da Silva, 33 tahun, pada Kamis pagi (11/11), di pintu keluar Pusat Pidana Agroindustri Gameleira, di daerah pedesaan Campo Grande.
Korban sedang menjalani hukuman atas pencurian dan akan menjalani hari pertamanya bekerja di luar unit tersebut.
Baca juga: Ditjenpas pindahkan 100 napi risiko tinggi asal Sumut ke Nusakambangan
Rekaman menunjukkan eksekusi berlangsung hanya beberapa meter dari gerbang penjara. Sebuah mobil Fiat Siena putih menghampiri korban yang sedang pergi bersama narapidana lain, dan penumpang di kursi depan keluar sambil melepaskan tembakan.
Pria berkerudung biru itu menembak korban, selanjutnya Ia kemudian kembali ke mobil. Penumpang di kursi belakang, mengenakan balaklava merah, keluar sambil membawa senapan laras ganda kaliber 12, dan menembak José yang sudah terkapar.
Gambar menunjukkan pengemudi keluar dari mobil, dan penembak kedua berlari ke arah kendaraan yang pintunya terbuka. Setelah beberapa meter, penembak keluar dari mobil dan menembak korban yang terjatuh lagi.
Para narapidana yang bersama korban melarikan diri akibat insiden penembakan itu.
José Eduardo menjalani hukuman atas pencurian dan diizinkan bekerja minggu ini. Hari ini seharusnya menjadi hari pertamanya di luar penjara, menjalani shiftnya. Kejahatan itu terjadi sekitar pukul 06.30 pagi saat ia meninggalkan penjara. Para penembak melepaskan setidaknya 23 tembakan.
Baca juga: 6000 Narapidana Melarikan Diri dari Penjara Pas Hari Natal
Korban ditembak enam kali di dada. Petugas pemadam kebakaran, Polisi Sipil, Polisi Militer, dan Tim Forensik datang ke tempat kejadian perkara.
José berasal dari Ponta Porã, 313 kilometer dari Campo Grande, dan memiliki riwayat penadah barang curian, kepemilikan senjata api ilegal, pencurian yang memenuhi syarat, serangan senjata api, perdagangan narkoba, dan menjadi bagian dari anggota geng kriminal.
Pada tahun 2020, ia ditangkap bersama seorang rekannya karena menyandera seorang pengemudi taksi daring yang menolak mengangkut 200 paket ganja dari Ponta Porã ke ibu kota. Layanan tersebut seharusnya menghasilkan sejumlah uang, tetapi ketika ia menolak, pengemudi tersebut diancam akan dibunuh dan diculik oleh keduanya. Saat itu, José mengakui bahwa ia setuju untuk terlibat dalam kejahatan tersebut karena ia harus membayar utang kepada sebuah geng kriminal.
Saat ini Tim GOI (Kelompok Operasi dan Investigasi) sedang mencari pelaku penembakan.
Baca juga: 48 Narapidana Kategori Risiko Tinggi dari 7 Lapas Jatim Dipindah ke Nusakambangan
Editor : Redaksi