MADIUN (Realita) - Saat banyak sekolah berlomba mengenalkan budaya populer, SDN Glonggong 04 Kabupaten Madiun justru menempuh jalan berbeda. Sekolah ini memilih kembali ke akar budaya dengan menanamkan nilai-nilai kearifan lokal melalui kesenian tradisional Dongkrek, yang dikemas dalam kegiatan ekstrakurikuler “Seni Dongkrek Sekar Jati.”
Program tersebut menjadi ruang pembelajaran budaya yang menyenangkan sekaligus wadah pembentukan karakter bagi para siswa.
Kepala SDN Glonggong 04, Suhartini, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa pengenalan seni tradisi sejak dini penting untuk menjaga jati diri bangsa.
“Melestarikan Dongkrek bukan sekadar menjaga pertunjukan seni, tapi juga mewariskan filosofi bahwa kebaikan selalu menang melawan kejahatan. Itulah pesan yang ingin kami tanamkan pada anak-anak,” ujarnya, Rabu (15/10/2025).
Menurutnya, seni Dongkrek sendiri berakar dari masyarakat Mejayan (Caruban) sejak abad ke-19. Pada masa lampau, kesenian ini digunakan sebagai ritual tolak bala untuk mengusir wabah dan roh jahat. Kini, Dongkrek berkembang menjadi pertunjukan yang memadukan tari, musik perkusi, dan nyanyian rakyat. Bunyi khas “krek-krek” dari kentongan menjadi asal nama “Dongkrek”.
Dalam pementasan, para penari mengenakan topeng berwajah menyeramkan untuk menggambarkan roh jahat, sedangkan tokoh Panji melambangkan kemenangan kebaikan.
Selain itu, nama “Sekar Jati” dipilih sebagai simbol makna mendalam. Dalam bahasa Jawa, sekar berarti bunga dan jati berarti sejati — melambangkan keindahan yang tumbuh dari ketulusan hati.
Lebih jauh, Suhartini, juga menuturkan bahwa ekstrakurikuler tersebut diikuti oleh siswa kelas III hingga VI dan digelar setiap minggu. Dalam latihan, siswa tidak hanya diajarkan menari dan memainkan alat musik tradisional, tetapi juga memahami nilai moral dan simbolik di balik setiap gerak serta peran.
Materinya mencakup:
Latihan gerak tari berdasarkan karakter tokoh,
Penguasaan alat musik tradisional seperti bedug kecil, kendang, dan kentongan,
Pemahaman filosofi dan simbol topeng Dongkrek,
Penanaman semangat gotong royong dan kebaikan.
Menurut Suhartini, kegiatan ini membawa banyak manfaat. Selain melestarikan warisan budaya daerah, siswa juga menjadi lebih kreatif, percaya diri, dan kompak dalam bekerja sama.
“Dongkrek bukan sekadar seni pertunjukan, tapi sarana membangun karakter. Anak-anak belajar menghargai budaya sendiri dan berani tampil di depan umum,” jelasnya.
Suhartini juga menambahkan, bahwa melalui langkah ini, SDN Glonggong 04 berharap dapat mencetak generasi muda yang bangga terhadap budaya lokal dan memiliki semangat nasionalisme tinggi.
"Dengan Moto sekolah “Bangga Berbudaya, Bangga Jadi Anak Indonesia” menjadi semangat yang dihidupkan di setiap kegiatan," tandas Suhartini.
Dengan dukungan guru, orang tua, dan masyarakat, Dongkrek kini tumbuh kembali di lingkungan pendidikan dasar — bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan warisan hidup yang menumbuhkan kebanggaan budaya di hati generasi muda Madiun.yat
Editor : Redaksi