JAKARTA (Realita)- Cagar Budaya Batu Penggilingan di Jalan Kali Buaran, Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur, kembali ramai. Festival Batu Penggilingan IV digelar selama 2 hari, 22-23 Agustus 2026, menggabungkan pelestarian sejarah, budaya Betawi, pemberdayaan UMKM, hingga kepedulian lingkungan.
Festival dihadiri Wali Kota Jakarta Timur Munjirin dan sejumlah tokoh juga hadir, Syahroni Anggota DPRD DKI Komisi B PAN, Surya Utama alias Uya Kuya Anggota DPR RI Komisi IX, Astrid Khairunisha Anggota DPRD DKI Komisi E PAN, dan Ismail Ali Anggota DPRD DKI Komisi C PAN.
Baca juga: Warga Mojorejo Sambut Antusias Bantuan Beras 30 Kg dari Pemerintah
Kehadiran tamu disambut palang pintu, tradisi Betawi sebagai simbol penghormatan dan upaya menjaga identitas budaya.
Selain pertunjukan seni Betawi, festival menghadirkan bazar 30 pelaku UMKM. Warga juga mendapat layanan pembuatan Kartu TransJakarta gratis.
Yang berbeda tahun ini, panitia mengangkat isu lingkungan dan kompetisi warga:
1. Lomba penataan lingkungan sepanjang Kali Buaran
2. Lomba baris-berbaris 20 perwakilan PPSU kelurahan se-Jakarta Timur
3. Lomba pemilahan sampah diikuti seluruh RT di RW 07.
Wali Kota Munjirin mengapresiasi festival yang sudah tahun keempat. Menurutnya festival bukan hanya soal budaya, tapi instrumen dorong perubahan kawasan dan ekonomi.
"Hal-hal seperti ini untuk menghidupkan budaya, kesenian, UMKM perlu figur-figur seperti Bang Roni untuk menghidupkan daerah itu agar lebih hidup," ujar Munjirin.
Ia meminta jajaran kecamatan dan kelurahan menata Kali Buaran secara menyeluruh.
"Tadi saya berjalan ke sini, sisi sini sudah enak dipandang, tapi sisi sebelah sana belum. Saya minta Pak Camat, dalam tahun ini yang seberang juga harus seperti yang di sini," katanya.
Munjirin juga berharap festival tiap tahun punya inovasi baru, khususnya keterkaitan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Baca juga: Sarapan Bersama Petugas Kebersihan, Wali Kota Batu Tegaskan Komitmen Perhatikan Pekerja Lapangan
Uya Kuya menilai Penggilingan berubah signifikan 10-12 tahun terakhir. Ia mendorong kawasan ini jadi pusat budaya dan ekonomi.
"Festival Batu Penggilingan juga harus tetap ada yang kelima. Kampung Penggilingan bisa lebih maju lagi," ujarnya.
Syahroni menyebut konsep festival sengaja dibuat beda tiap tahun agar ada dampak nyata.
Lomba baris-berbaris untuk disiplin PPSU. Lomba sampah untuk biasakan warga memilah dari sumber.
Ia juga soroti potensi UMKM dan petani Cakung. "Kalau bisa untuk MOU agar sayurannya bisa dibeli untuk konsumsi di MBG. Jadi nanti hidup perekonomian di sini," ujarnya.
Ketua Panitia Ustaz Muhammad Sehu, M.Pd. menegaskan misi utama festival adalah memperkenalkan sejarah. Batu Penggilingan berkaitan dengan proses penggilingan tebu dan produksi gula masa lalu.
Baca juga: Perlindungan Pekerja Rentan, Wali Kota Batu Serahkan Santunan Rp74 Juta kepada Ahli Waris
"Tujuan Festival Batu Penggilingan dari pertama sampai sekarang sebetulnya sama, yaitu melestarikan budaya dan memperkenalkan kepada masyarakat apa itu Batu Penggilingan," kata Muhammad Sehu.
Ia berharap kegiatan pemilahan sampah bisa berkelanjutan setelah festival selesai.
Festival ini didukung Pemkot Jakarta Timur, Jakarta Entrepreneur, Sudin PPKUKM, Bank DKI, TransJakarta, PAM Jaya, dan lainnya.
Bagi warga, Festival Batu Penggilingan bukan sekadar agenda tahunan. Ini momentum mengingat sejarah, menjaga budaya Betawi, menggerakkan ekonomi, dan membangun kepedulian lingkungan.(Ang)
Editor : Redaksi