Warga Perumahan Tambora Tuntut Kepastian Layanan Air Bersih PDAM

realita.co
Aksi menuntut kepastian pelayanan air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Lamongan, Sabtu (26/9/2026).

LAMONGAN (Realita)— Puluhan warga Perumahan Planet Green Tambora, Desa Tambakrigadung, Kecamatan Tikung, Kabupaten Lamongan, menggelar aksi menuntut kepastian pelayanan air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Lamongan, Sabtu (26/9/2026).

Aksi yang berlangsung sekitar pukul 14.00 WIB tersebut didominasi kaum ibu. Mereka berkumpul di depan pintu masuk Perumahan Planet Green Tambora dengan membawa sejumlah tuntutan terkait distribusi air bersih yang dinilai belum memenuhi kebutuhan warga.

Baca juga: Program Ketahanan Pangan Desa Kebunagung Disorot, 5 Sapi Tinggal 1 Ekor, Kandang Tak Kunjung Dibangun

Aksi berlangsung tertib dan mendapat pengamanan dari aparat kepolisian.

Koordinator aksi, Nusa Indah, mengatakan persoalan air bersih telah menjadi kebutuhan mendasar warga. Menurutnya, selama ini warga masih harus mengandalkan pembagian air dengan jumlah terbatas, sementara pelayanan air PDAM yang sebelumnya dijanjikan belum berjalan sebagaimana yang diharapkan.

"Yang pertama dibagikan 10 galon  untuk satu rumah. Itu pun hanya bagi warga yang mau mengambil. Bagi yang tidak mengambil, tidak mendapatkan," ujar Nusa Indah.

Ia menambahkan, pada pembagian berikutnya warga hanya mendapatkan jatah sekitar lima galon per hari dalam satu kali pembagian. Kondisi tersebut dinilai tidak sebanding dengan kebutuhan rumah tangga.

"Kita kan bayar untuk air mengalir, bukan untuk ngangsu," tegasnya.

Selain persoalan distribusi, warga juga mempertanyakan perubahan rencana jaringan pelayanan air PDAM yang sebelumnya disampaikan kepada mereka. Nusa Indah mengatakan warga merasa tidak memperoleh sosialisasi yang memadai mengenai perubahan tersebut.

Menurutnya, warga sebelumnya mendapat informasi bahwa pelayanan air akan diarahkan dari Kemendung. Namun, belakangan muncul informasi mengenai perubahan arah pelayanan menuju wilayah Veteran.

"Kalau memang ada perubahan, kenapa masyarakat tidak disosialisasi? Itu yang kami persoalkan. Kami yang membayar, tetapi perubahan kebijakan justru tidak disampaikan kepada warga," ujarnya.

Ia juga meminta agar fasilitas penampungan air dan jaringan pipa yang sebelumnya digunakan warga tetap dipertahankan sebagai solusi cadangan, terutama ketika musim penghujan.

"Kalau hujan, pipa dan waduk itu tetap bisa dimanfaatkan. Jangan sampai ditutup atau dihilangkan, karena itu menjadi cadangan ketika terjadi kendala distribusi," katanya.

Nusa Indah juga menyoroti persoalan biaya pemasangan jaringan air. Menurutnya, mayoritas penghuni perumahan merupakan masyarakat kelas menengah ke bawah sehingga tambahan biaya menjadi pertimbangan tersendiri.

"Mayoritas warga adalah pedagang makanan yang setiap hari membutuhkan banyak air. Kami berharap jangan sampai persoalan air justru semakin membebani masyarakat," ujarnya.
Dalam aksinya, warga meminta adanya kepastian secara tertulis mengenai penyelesaian persoalan air bersih tersebut. Mereka juga meminta pihak-pihak terkait memberikan kejelasan mengenai waktu pelaksanaan dan mekanisme pelayanan.

"Yang kami minta adalah kepastian tertulis. Jangan hanya nanti, nanti, dan nanti. Kalau tuntutan warga ini tidak dipenuhi, tentu kami akan menentukan langkah selanjutnya," tegas Nusa Indah.

Di lokasi yang sama, Developer Perumahan Planet Green Tambora, H. Kadimun, menanggapi aspirasi warga. Ia mengatakan seluruh masukan yang disampaikan warga menjadi perhatian pihak pengembang.

"Kita dengarkan semua masukan dari ibu-ibu. Sudah saya pikirkan dan jangan khawatir. Saya juga memikirkan warga Tambora," ujar Kadimun.

Ia meminta warga tidak mudah terprovokasi dan menyampaikan setiap persoalan secara langsung kepada pihak pengembang agar dapat dicarikan solusi bersama.

"Kalau ada apa-apa, langsung sampaikan kepada saya. Setiap hari saya ada di Tambora. Saya juga prihatin dan ikut dirugikan dengan kondisi seperti ini. Semoga nanti air di Tambora bisa lancar," katanya.

Kadimun juga mengajak warga tetap bersabar sembari pihak pengembang dan PDAM melakukan berbagai upaya untuk menyelesaikan persoalan distribusi air.
Menurutnya, penyelesaian persoalan tersebut membutuhkan proses dan koordinasi antara pengembang, warga, serta PDAM.

Di tengah aksi, pihak pengembang kemudian mengajak perwakilan warga untuk berdiskusi dan melakukan audiensi bersama. Pertemuan tersebut menghasilkan sejumlah kesepakatan tertulis antara koordinator aksi warga, Nusa Indah, dan developer Perumahan Planet Green Tambora, H. Kadimun.
Dalam surat kesepakatan tertanggal 26 September 2026 tersebut, terdapat sejumlah poin yang menjadi komitmen penyelesaian persoalan air bersih.

Pertama, developer menyatakan bertanggung jawab atas pemenuhan fasilitas dan kebutuhan dasar warga hingga seluruh kewajiban pengelolaan kawasan perumahan diselesaikan dan/atau diserahkan kepada pemerintah daerah.

Baca juga: Ledakan Hebat Pabrik Bata Ringan Blesscon Renggut Satu Nyawa, Enam Pekerja Luka Bakar Serius

Kedua, developer berjanji memberikan keterbukaan dan transparansi mengenai proses pemasangan layanan PDAM, termasuk biaya, kerja sama dengan PDAM, serta mekanisme distribusi air kepada warga.

Ketiga, developer menjamin distribusi air PDAM berjalan lancar, merata, dan dapat dinikmati seluruh warga setiap hari secara adil.
Keempat, developer dan PDAM sepakat melakukan percepatan penyelesaian dengan target maksimal dua bulan sejak surat kesepakatan dibuat, sehingga distribusi air dapat kembali mengalir normal.

Kelima, apabila terjadi gangguan distribusi atau kondisi kekeringan, developer akan menyediakan bantuan air bersih yang memadai sebagai solusi sementara bagi warga terdampak.

Selain persoalan air, developer juga menyatakan bertanggung jawab memperbaiki kondisi lingkungan, khususnya jalan dan paving yang rusak akibat pekerjaan pemasangan jaringan PDAM. Perbaikan tersebut ditargetkan maksimal tiga bulan sejak surat kesepakatan dibuat.

Kesepakatan tersebut juga memuat komitmen untuk memasang kembali pipa air dan mengaktifkan pompa waduk sebagai solusi sementara hingga distribusi PDAM berjalan lancar dan merata.
Dengan demikian, saat musim hujan, air waduk tetap dapat dimanfaatkan warga.

Dalam kesepakatan itu juga disebutkan bahwa setelah pemasangan kembali pipa, tidak ada kenaikan abonemen dan tetap sebesar Rp7.000.

Apabila operasional Pokja Air tetap diambil alih, developer diwajibkan memberikan laporan rincian keuangan kepada RT/RW atau paguyuban setempat paling lambat setiap tiga bulan.

Sementara itu, tagihan air yang dibebankan kepada warga disebut digunakan untuk biaya operasional fasilitas perumahan, antara lain air bersih, penerangan, keamanan, dan kebersihan lingkungan.

Sementara itu, pihak PDAM Lamongan yang diwakili Kabag Manajemen, Sucipto, mengatakan pihaknya tetap berupaya memberikan pelayanan kepada warga Tambora.

Menurutnya, PDAM telah menyiapkan sejumlah sarana dan prasarana, termasuk rencana pembangunan water tank khusus untuk kawasan Tambora.

"PDAM juga sudah berusaha memberikan pelayanan. Beberapa sarana dan prasarana sudah disiapkan. Di sana ada profil tank kuning dan lokasi untuk pembangunan water tank khusus Tambora dengan kapasitas 60 meter kubik," jelas Sucipto.

Baca juga: Polisi Periksa Kades Sumberejo dan Ketua Poktan Banaran, Dugaan Ijon Alsintan Rp125 Juta Didalami

Ia mengatakan pembangunan fasilitas tersebut masih dalam proses dan diharapkan dapat mendukung pelayanan air bersih ke kawasan perumahan.

Terkait hasil audiensi dengan warga dan developer, Sucipto menegaskan PDAM tetap berkomitmen memberikan pelayanan terbaik melalui sejumlah langkah teknis yang sedang dilakukan.

"Kami tetap berkomitmen memberikan pelayanan yang terbaik dengan beberapa usaha. Mudah-mudahan usaha itu segera bisa terwujud," katanya.

PDAM juga akan melakukan uji skema distribusi air ke wilayah Tambora pada malam berikutnya. Menurut Sucipto, langkah tersebut dilakukan untuk memastikan distribusi dapat berjalan tanpa kendala pada jaringan perpipaan.

"Besok malam kebetulan ada pendistribusian ke wilayah Tambora. Kita akan menerapkan skema yang kemarin dan mudah-mudahan tidak terjadi lagi kendala pada sarana dan prasarana perpipaan," ujarnya.

Ia menjelaskan, distribusi air ke Tambora membutuhkan pengaturan aliran dengan menutup sejumlah valve di wilayah sekitar agar tekanan dan aliran air dapat lebih fokus menuju reservoir Veteran sebelum diteruskan ke wilayah Tambora.

"Prosesnya harus melalui penutupan valve di beberapa wilayah yang ada di sampingnya, sehingga air diharapkan bisa fokus ke reservoir Veteran, kemudian dipompa ke wilayah Tambora," jelasnya.

Di sisi lain, pihak developer Perumahan Planet Green Tambora menyatakan telah berkoordinasi dengan PDAM terkait penyelesaian persoalan tersebut.
Pihak developer mengatakan warga pada prinsipnya menunggu agar distribusi air dapat berjalan lancar. Menurutnya, koordinasi dengan PDAM akan terus dilakukan hingga pelayanan air benar-benar normal.

"Pengembang dan warga menunggu air bisa mengalir. Kita sudah koordinasi dengan PDAM dan akan terus berkomunikasi sampai pelayanan berjalan lancar," ujarnya.
Pihak developer juga menyebut terdapat sekitar 950 sambungan rumah (SR) di kawasan tersebut, meskipun jumlah itu disebut belum seluruhnya maksimal dalam pemanfaatan layanan.

Dengan adanya kesepakatan antara warga dan developer serta langkah teknis yang disiapkan PDAM, warga kini menunggu realisasi janji tersebut. Kepastian waktu dan kelancaran distribusi air menjadi hal utama yang masih harus dibuktikan di lapangan.

Reporter: M.Yusuf AL Ghoni

Editor : Redaksi

Politik & Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru