Oleh Ridwan Sank (Founder Niteni Serat Diri/Tiktok: @Ridwan Sank)
Akhirnya, setelah sekian lama diam, Gibran Rakabuming Raka buka suara. Ia mengatakan sesuatu yang terdengar logis. Sesuatu yang terdengar masuk akal. Sesuatu yang membuat banyak orang mengangguk.
Baca juga: Skandal Ijasah SMA Gibran, Pakar: Interogasi Semua Pimpinan KPU 2024 lalu!
"Kalau saya nggak lulus SMA, kan saya nggak mungkin bisa kuliah. Saya kan kuliah sampai S1 juga di Singapura."
Sobat… dalam ilmu komunikasi NLP (Neuro Linguistic Programming) kalimat seperti ini disebut "presupposition" pernyataan yang mengandung asumsi tersembunyi. Dan asumsi itu berbunyi: "Karena saya kuliah, maka saya pasti lulus SMA."
Mari kita bedah dengan Milton Model Ericksonian.
PERTAMA: PATTERN INTERRUPT — MEMBALIKKAN KERANGKA
Sobat… Gibran mengatakan: "Kalau saya nggak lulus SMA, saya nggak mungkin bisa kuliah."
Dalam NLP, ini disebut "cause-effect", hubungan sebab-akibat yang dibangun secara artifisial. Ia ingin kita percaya bahwa kuliah adalah bukti lulus SMA.
Mari kita balik dengan pattern interrupt.
Pertanyaannya bukan "apakah Gibran bisa kuliah?"
Pertanyaannya adalah: "Apakah ijazah SMA-nya ada?"
Jika ijazah itu ada, tunjukkan. Selesai. Tidak perlu berdebat. Tidak perlu berteori. Tidak perlu berfilsafat.
Tapi sobat… sampai hari ini, ijazah itu tidak pernah muncul.
KEDUA: MIND READING — MEMBACA APA YANG TIDAK DIKATAKAN
Sobat… Gibran mengatakan: "Saya kan kuliah sampai S1 juga di Singapura."
Dalam Milton Model, ini disebut "mind reading", mengklaim sesuatu tanpa bukti yang cukup.
Yang ia katakan: Saya kuliah S1 di Singapura.
Yang ia tidak katakan: Di kampus mana? Jurusan apa? Tahun berapa? Dengan dokumen apa?
Dan dalam sidang MK, Kemendikdasmen mengaku hanya menerima certificate of attendance, bukan ijazah. Atase KBRI Australia menegaskan program pathway tidak setara SMA. KBRI Singapura tidak menemukan dokumen apa pun.
Sobat… ini bukan "saya kuliah". Ini adalah "saya hadir di kelas". Dan hadir di kelas bukan lulus SMA.
KETIGA: DOUBLE BIND — DUA PILIHAN YANG KEDUANYA MEMBUKTIKAN
Sobat… dalam NLP, ada teknik yang disebut "double bind" menciptakan dua pilihan yang keduanya menguntungkan posisi kita.
Baca juga: Soal Ijazah Gibran, Istana: Bukan Tidak Ada tapi Belum Ditemukan
Pilihan pertama: Jika Gibran punya ijazah SMA, tunjukkan. Maka selesai.
Pilihan kedua: Jika Gibran tidak punya ijazah SMA, maka ia harus mengakui.
Tidak ada pilihan ketiga.
Tidak ada "saya kuliah jadi saya lulus SMA". Karena kuliah dan lulus SMA adalah dua hal yang berbeda.
KEEMPAT: EMBEDDED COMMAND — PERINTAH YANG TERSEMBUNYI
Sobat… dalam kalimat Gibran, ada perintah tersembunyi yang tidak ia sadari.
"Kalau saya nggak lulus SMA, kan saya nggak mungkin bisa kuliah."
Perintah tersembunyinya: "Percayalah pada saya."
Dan dalam Milton Model, ini disebut "embedded command" perintah yang disisipkan dalam kalimat untuk memengaruhi bawah sadar pendengar.
Tapi sobat… bawah sadar publik sudah kebal. Mereka sudah terlalu sering dibohongi. Mereka sudah terlalu sering dijanjikan. Dan mereka sudah terlalu sering kecewa.
Sobat… mari kita bicara dengan logika sederhana.
Pasal 169 huruf r UU Nomor 7 Tahun 2017 mensyaratkan calon presiden dan wakil presiden berpendidikan paling rendah tamat SMA atau sederajat. Bukan S1. Bukan S2. Bukan S3. Tapi SMA.
Jika Gibran memiliki S1, maka ia seharusnya memiliki ijazah SMA. Karena S1 adalah kelanjutan dari SMA. Tidak ada S1 tanpa SMA.
Baca juga: Soal Ijazah Gibran, Jimly Tuding MK Cari Aman
Tapi sobat… MK sendiri menyatakan tidak menemukan bukti ijazah SMA. Dan Bivitri Susanti menegaskan: "MK berkesimpulan, ijazah SMA Gibran memang tidak ada."
Sobat… kuliah bukan ijazah. Dan hadir bukan lulus.
"Jika ijazah SMA itu ada, mengapa tidak pernah muncul?"
Dan dalam Milton Model, ini disebut "the question that answers itself", pertanyaan yang menjawab dirinya sendiri.
"Sing bisa maca tandha, bakal slamet; sing ora bisa maca tandha, bakal keteter."
Eling lan Waspada. Memayu Hayuning Bawana.
Editor : Redaksi