Lulusan Luar Negeri Ramai-Ramai Bela Gibran

realita.co
Monic dan Anthony. Foto: Istimewa

Putusan MK yang menyatakan tidak menemukan bukti ijazah setara SMA milik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali menjadi sorotan.

Kali ini, sejumlah orang yang pernah menempuh pendidikan melalui jalur luar negeri buka suara.

Baca juga: Membedah Jawaban Gibran  "Kalau Saya Enggak Lulus SMA, Saya Enggak Mungkin Bisa Kuliah"

Mereka membantah anggapan bahwa seseorang tidak mungkin melanjutkan pendidikan ke jenjang sarjana tanpa memiliki ijazah SMA.

Founder Tes Bakat Indonesia, Monic Christian, mengaku dirinya juga tidak memiliki ijazah SMA.

Monic mengatakan, dirinya menempuh pendidikan melalui jalur pathway sebelum melanjutkan ke jenjang S1.

“Makanya aku umur 20 tahun udah lulus,” kata Monic dalam video yang diunggah di media sosial.

Menurutnya, sistem pendidikan di sejumlah negara memang memungkinkan siswa menempuh jalur pendidikan berbeda dari sistem sekolah nasional Indonesia.

Ia mencontohkan kurikulum Cambridge yang memungkinkan siswa melanjutkan pendidikan melalui program pathway.

Siswa dapat mengambil Certificate IV, kemudian diploma, sebelum melanjutkan ke perguruan tinggi.

“Dari diploma kalau kuliah ke Australia bisa langsung masuk tingkat dua, dan lulus S1 dalam waktu dua tahun aja,” ujarnya.

Monic juga menjelaskan bahwa kuliah di satu negara tetapi memperoleh gelar dari universitas di negara lain bukan sesuatu yang asing.

Menurutnya, hal itu dapat terjadi karena adanya kerja sama antar universitas atau program pendidikan lintas negara.

“Jangankan seperti itu, Universitas Indonesia aja ada kerjasama loh sama Australia,” katanya.

Baca juga: Skandal Ijasah SMA Gibran, Pakar: Interogasi Semua Pimpinan KPU 2024 lalu!

Senada dengan Monic, kader PSI Anthony Norman Lianto juga membagikan pengalamannya menempuh pendidikan di luar negeri.

Anthony mengaku menyelesaikan pendidikan dasar hingga SMP di Indonesia.

Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan melalui Certificate IV dan Diploma di Melbourne.

Ia kemudian mengambil Diploma of Arts di Monash College, sebelum melanjutkan pendidikan hingga jenjang Bachelor dan Master Degree di Australia.

Anthony menilai jalur pathway bukanlah sesuatu yang baru dalam sistem pendidikan internasional.

“Pathway itu bukan kursus dan juga bukan bimbel, juga bukan sekolah bahasa,” kata Anthony.

Baca juga: Soal Ijazah Gibran, Istana: Bukan Tidak Ada tapi Belum Ditemukan

Ia juga menyebut pernah ada pelajar Indonesia yang menempuh jalur pathway melalui sejumlah institusi pendidikan di Australia.

Anthony bahkan menyinggung aturan mengenai persyaratan pendidikan dalam pencalonan kepala daerah yang menurutnya sudah ada sebelum Gibran maju dalam kontestasi politik.

Menurutnya, aturan tersebut tidak dibuat khusus untuk Gibran.

“Jadi bukan karena ada Mas Gibran lalu aturan ini muncul,” ujarnya.

Ia juga menyebut adanya kepala daerah di Pulau Jawa yang pernah menempuh jalur pathway sebelum melanjutkan pendidikan ke universitas di Australia.

Namun, menurut Anthony, jalur pendidikan tersebut tidak pernah menjadi persoalan.tri

Editor : Redaksi

Politik & Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru