MALANG – Perubahan iklim, degradasi habitat, pencemaran perairan, dan penurunan stok ikan menjadi tantangan yang menuntut strategi pengelolaan perikanan dan kelautan semakin adaptif. Merespons persoalan tersebut, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB) menyelenggarakan The 7th International Conference on Fisheries and Marine Research (ICoFMR) 2026 pada Sabtu (10/10/2026) secara daring melalui Zoom Meeting. Mengusung tema “Adaptive Fisheries and Marine Management Strategies for Sustainable Blue Economy”, konferensi ini diikuti oleh 94 peserta dari kalangan akademisi, peneliti, mahasiswa, dan pemangku kepentingan bidang perikanan dan kelautan.
ICoFMR 2026 menjadi forum untuk membahas bagaimana pengelolaan sumber daya perikanan dan kelautan dapat merespons perubahan lingkungan tanpa mengabaikan kepentingan sosial dan ekonomi masyarakat. Melalui pendekatan berbasis data ilmiah, inovasi teknologi, dan kolaborasi lintas disiplin, konferensi ini mendorong pengembangan strategi yang mampu mengintegrasikan keberlanjutan ekosistem dengan pemanfaatan sumber daya perairan secara bertanggung jawab. Pendekatan tersebut menjadi bagian penting dalam mendorong ekonomi biru (blue economy) yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga daya dukung lingkungan untuk jangka panjang.
Untuk memperluas perspektif pembahasan, ICoFMR 2026 menghadirkan empat pembicara utama dari berbagai negara, yaitu Prof. Dr. Sutee Wangtueai dari Thailand, Assoc. Prof. Zuhao Zhu dari China, Prof. Dr. Edi Susilo dari Indonesia, serta Prof. Dr. Murni Marlina Binti Abd Karim dari Malaysia. Kehadiran para pakar tersebut memberikan ruang pertukaran pengetahuan mengenai berbagai isu strategis, mulai dari inovasi pengelolaan sumber daya, keberlanjutan produksi perikanan, konservasi ekosistem, hingga transformasi menuju ekonomi biru yang berkelanjutan.
Selain sesi pleno, konferensi dilengkapi dengan presentasi paralel yang membahas beragam bidang keilmuan. Topik yang diangkat meliputi agribisnis dan sosial ekonomi perikanan, teknologi pengolahan dan pascapanen, ekologi laut dan adaptasi perubahan iklim, teknologi penangkapan ikan berkelanjutan, konservasi sumber daya perairan, serta sistem akuakultur berkelanjutan. Keragaman pembahasan tersebut menegaskan bahwa tantangan sektor perikanan dan kelautan tidak dapat diselesaikan melalui satu pendekatan saja, melainkan membutuhkan integrasi ilmu pengetahuan, teknologi, kebijakan, dan kebutuhan masyarakat.
Baca juga: ESTUARY ROOTS: Mahasiswa FPIK UB Tanam Mangrove, Perkuat Ekosistem Pesisir Malang Selatan
Pembahasan mengenai konservasi dan pemanfaatan sumber daya perairan dalam ICoFMR 2026 sejalan dengan Sustainable Development Goal (SDG) 14: Ekosistem Lautan, yang menekankan perlindungan ekosistem laut serta pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan. Diskusi tentang sistem produksi perikanan yang berkelanjutan dan kontribusinya terhadap ketersediaan pangan juga berkaitan dengan SDG 2: Tanpa Kelaparan, sedangkan pembahasan adaptasi terhadap perubahan iklim merepresentasikan SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim. Di sisi lain, pengembangan ekonomi biru yang memperhatikan keberlanjutan sumber daya dan kesejahteraan pelaku sektor perikanan memiliki relevansi dengan SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.
Penyelenggaraan konferensi internasional ini juga memperkuat jejaring akademik lintas negara melalui pertemuan para peneliti, akademisi, dan praktisi dalam satu forum ilmiah. Pertukaran gagasan serta pemaparan hasil penelitian membuka peluang pengembangan kolaborasi riset dan inovasi yang dapat menjawab kebutuhan sektor perikanan dan kelautan. Upaya tersebut merepresentasikan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, melalui penguatan kerja sama internasional dan pertukaran pengetahuan sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan.
Melalui ICoFMR 2026, FPIK UB menegaskan perannya sebagai ruang pengembangan ilmu pengetahuan dan kolaborasi internasional untuk menjawab tantangan pengelolaan sumber daya perikanan dan kelautan. Konferensi ini diharapkan dapat memperluas jejaring penelitian, memperkaya perspektif akademik, serta mendorong lahirnya gagasan dan rekomendasi ilmiah yang mendukung pengelolaan sumber daya perairan secara adaptif, inklusif, dan berkelanjutan.
Editor : Redaksi