Dari Limbah Ikan Jadi Pangan Fungsional, Dosen FPIK UB Angkat Potensi Fish Protein Hydrolysates di INCOBIFS 2026 

MALANG – Kepala, kulit, sisik, tulang, hingga jeroan ikan kerap dipandang sebagai hasil samping bernilai rendah dari industri pengolahan perikanan. Padahal, di balik bagian-bagian yang sering terbuang tersebut tersimpan protein dan berbagai komponen yang berpotensi dikembangkan menjadi bahan pangan fungsional hingga produk farmasi bernilai tinggi. 

Potensi tersebut menjadi salah satu gagasan yang diangkat dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB), Rahmi Nurdiani, Ph.D., dalam International Conference on Biotechnology and Food Sciences (INCOBIFS) 2026. Dalam forum ilmiah internasional tersebut, Rahmi membawakan materi bertajuk “Unlocking the Potential of Fish Protein Hydrolysates: From Seafood Processing Waste to Next-Generation Functional Foods and Pharmaceuticals.” 

Selain sebagai akademisi FPIK UB, Rahmi hadir mewakili Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI). Partisipasinya menjadi bagian dari upaya memperkuat pengembangan ilmu dan inovasi pengolahan hasil perikanan, terutama untuk mendorong pemanfaatan sumber daya perikanan secara lebih efisien dan berkelanjutan. 

Salah satu persoalan yang disoroti adalah masih rendahnya pemanfaatan hasil samping pengolahan ikan. Dalam paparannya, Rahmi menjelaskan bahwa hanya sekitar 25–60 persen dari bobot ikan yang umumnya dimanfaatkan sebagai fillet untuk konsumsi langsung. Artinya, masih terdapat proporsi biomassa yang besar dari kepala, kulit, sisik, tulang, dan jeroan yang berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. 

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah Fish Protein Hydrolysates (FPH) atau hidrolisat protein ikan. FPH dihasilkan melalui proses enzymatic hydrolysis, yakni pemecahan protein menggunakan enzim proteolitik pada kondisi suhu dan pH yang dikendalikan. 

Proses tersebut menghasilkan peptida berukuran lebih kecil yang lebih mudah dicerna dan dapat memiliki berbagai sifat fungsional maupun aktivitas biologis. Dengan teknologi yang tepat, protein yang semula berada dalam hasil samping pengolahan ikan dapat dikembangkan menjadi bahan baku dengan nilai ekonomi dan manfaat yang lebih tinggi. 

Potensi FPH salah satunya terlihat pada pengembangan pangan fungsional. Hidrolisat protein ikan memiliki sejumlah karakteristik seperti kemampuan emulsifikasi, pembentukan busa, menahan air, hingga menahan minyak yang dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki karakteristik suatu produk pangan. 

Dalam paparannya, Rahmi menunjukkan salah satu contoh pemanfaatan FPH yang berasal dari kepala ikan parrotfish (Chlorurus sordidus) pada yoghurt probiotik. Penambahan FPH sebesar 0,15 persen mampu menurunkan tingkat syneresis dari 53,53 persen menjadi 30,6 persen sekaligus meningkatkan karakteristik fisik dan kestabilan produk. 

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa bagian ikan yang sebelumnya berpotensi menjadi hasil samping industri justru dapat dikembangkan menjadi bahan fungsional bagi produk pangan generasi berikutnya. 

Dari Pangan Fungsional Menuju Biofarmasi 

Potensi FPH tidak berhenti pada industri pangan. Rahmi juga memaparkan pengembangan peptida dengan berat molekul rendah yang menunjukkan aktivitas biologis dan berpotensi diarahkan untuk pengembangan nutraceutical hingga biofarmasi. 

Perkembangan teknologi turut membuka peluang untuk mempercepat proses pencarian peptida potensial. Melalui pendekatan in silico, peneliti dapat melakukan penyaringan sekuens protein secara virtual untuk mengidentifikasi kandidat peptida dengan fungsi biologis tertentu sebelum kandidat tersebut dilanjutkan ke tahapan pengujian laboratorium. 

Pendekatan tersebut memungkinkan penelitian bergerak lebih terarah dalam menemukan komponen bioaktif yang memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut. 

Lebih jauh, Rahmi memperkenalkan konsep Integrated Blue Biorefinery, yakni pendekatan pengolahan terpadu yang memandang biomassa perikanan bukan hanya berdasarkan produk utamanya, tetapi sebagai sumber berbagai komponen bernilai tinggi. 

Dalam konsep ini, satu sumber biomassa perikanan dapat dimanfaatkan secara lebih menyeluruh untuk menghasilkan berbagai produk, mulai dari peptida fungsional, lipid laut yang kaya Omega-3, hingga hidroksiapatit yang dapat diperoleh dari tulang ikan. 

Pendekatan tersebut mengarah pada sistem produksi zero waste sekaligus memperkuat circular marine bioeconomy, yakni model ekonomi yang berupaya mempertahankan nilai sumber daya hayati laut selama mungkin melalui pemanfaatan kembali dan pengembangan produk bernilai tambah. 

Dengan demikian, inovasi pengolahan hasil perikanan tidak hanya berbicara mengenai bagaimana menghasilkan produk pangan, tetapi juga bagaimana ilmu pengetahuan dan teknologi dapat meningkatkan nilai setiap bagian sumber daya perairan sekaligus mengurangi beban limbah dari kegiatan pengolahan. 

Partisipasi Rahmi Nurdiani dalam INCOBIFS 2026 menunjukkan kontribusi akademisi FPIK UB bersama MPHPI dalam membawa isu pengolahan hasil perikanan menuju pendekatan yang semakin inovatif, sirkular, dan berkelanjutan. Pengembangan FPH sekaligus memperlihatkan bagaimana riset perikanan dapat menjembatani sektor pangan, kesehatan, lingkungan, dan ekonomi dalam satu rantai inovasi. 

Dari perspektif pembangunan berkelanjutan, gagasan tersebut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) 12: Responsible Consumption and Production, melalui upaya meningkatkan efisiensi pemanfaatan biomassa dan mengurangi hasil samping pengolahan perikanan. Pendekatan blue biorefinery juga berkaitan dengan SDG 9: Industry, Innovation and Infrastructure, melalui pengembangan inovasi dan teknologi pengolahan untuk menghasilkan produk bernilai tambah. 

Selain itu, pemanfaatan sumber daya perikanan secara lebih menyeluruh dan berkelanjutan turut memperkuat SDG 14: Life Below Water, khususnya dalam mendorong pemanfaatan sumber daya laut yang lebih bertanggung jawab. 

Melalui pengembangan teknologi seperti FPH dan Integrated Blue Biorefinery, hasil samping perikanan tidak lagi harus berakhir sebagai material bernilai rendah. Sebaliknya, inovasi berbasis riset membuka peluang untuk mengubahnya menjadi sumber pangan fungsional, senyawa bioaktif, dan berbagai produk bernilai tinggi sekaligus mendukung masa depan industri perikanan yang lebih efisien dan berkelanjutan. 

 
 

Editor : Redaksi

Berita Terbaru