MALANG – Wisata, UMKM, dan sumber daya pangan. Tiga hal ini sebenarnya sudah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Desa Mangunrejo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Persoalannya bukan pada ketiadaan potensi, melainkan bagaimana potensi tersebut dikelola dan diperkenalkan secara lebih serius agar dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Hal inilah yang mendorong Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)-Bahari Kelompok 29 Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Brawijaya untuk turun langsung dan berkolaborasi bersama masyarakat Desa Mangunrejo. Berbagai program disusun berdasarkan potensi dan kebutuhan masyarakat, mulai dari pengembangan wisata, digitalisasi UMKM, hingga edukasi ketahanan pangan.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan KKN-PKM Bahari Kelompok 29 mendapatkan pendampingan dari Agus Dwi Sulistyono, S.Si., M.Si. selaku Dosen Pembimbing KKN. Pendampingan dilakukan untuk memastikan program yang dirancang mahasiswa dapat berjalan sesuai kebutuhan masyarakat sekaligus memberikan manfaat yang dapat terus dikembangkan setelah masa KKN berakhir.
Program kerja yang dilaksanakan mencakup pengembangan wisata melalui pemasangan sign board Garuda Termangun, digitalisasi UMKM melalui pendampingan pembuatan QRIS dan pendaftaran lokasi usaha pada Google Maps, serta edukasi ketahanan pangan melalui praktik aquaponik dan pemanfaatan ikan sebagai sumber pangan bergizi.
“Kami berusaha menghadirkan program yang sesuai dengan potensi dan kebutuhan masyarakat Mangunrejo. Harapannya, program yang kami jalankan tidak hanya selesai ketika KKN berakhir, tetapi dapat terus dimanfaatkan dan dikembangkan oleh masyarakat,” ujar Dharma Bayu Farazi, Ketua KKN PKM-Bahari Kelompok 29 FPIK Universitas Brawijaya, Jumat, 14 Agustus 2026.
Memperkuat Identitas Wisata Garuda Termangun
Salah satu program yang dilakukan mahasiswa adalah mendukung pengembangan potensi wisata Desa Mangunrejo melalui pemasangan sign board wisata Garuda Termangun.
Sebanyak tiga titik di Desa Mangunrejo kini telah dilengkapi sign board Garuda Termangun. Keberadaan papan penanda tersebut tidak hanya berfungsi sebagai petunjuk arah bagi masyarakat dan pengunjung, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat identitas destinasi wisata desa.
Pemasangan pada beberapa titik strategis diharapkan dapat membantu masyarakat maupun wisatawan menemukan lokasi wisata dengan lebih mudah. Di sisi lain, keberadaan sign board juga menjadi media visual untuk memperkenalkan Garuda Termangun sebagai salah satu potensi wisata yang dimiliki Desa Mangunrejo.
Program ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam memperkuat branding destinasi wisata sehingga keberadaan Garuda Termangun semakin dikenal, tidak hanya oleh masyarakat Desa Mangunrejo, tetapi juga oleh masyarakat dari luar wilayah desa.
UMKM Mulai Terhubung dengan Ekosistem Digital
Pengembangan potensi desa tidak berhenti pada sektor pariwisata. Mahasiswa juga menyasar pelaku UMKM melalui program digitalisasi usaha.
Program ini diarahkan untuk membantu pelaku UMKM beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang semakin menjadi bagian penting dalam aktivitas ekonomi. Dua kegiatan utama yang dilakukan adalah pendampingan pembuatan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) sebagai alternatif pembayaran non-tunai dan pendaftaran lokasi usaha pada Google Maps.
Pendampingan QRIS memberikan kesempatan kepada pelaku UMKM untuk menyediakan alternatif pembayaran yang lebih praktis bagi konsumen. Sementara itu, pendaftaran lokasi usaha pada Google Maps membantu meningkatkan keterjangkauan usaha secara digital sehingga konsumen dapat menemukan lokasi usaha dengan lebih mudah melalui pencarian internet.
Digitalisasi sederhana tersebut diharapkan menjadi langkah awal bagi UMKM Desa Mangunrejo untuk memperluas jangkauan pasar. Dengan lokasi usaha yang dapat ditemukan secara digital dan tersedianya pilihan pembayaran non-tunai, pelaku UMKM memiliki bekal untuk memberikan pelayanan yang lebih sesuai dengan kebutuhan konsumen saat ini.
Dalam prosesnya, mahasiswa tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga melakukan pendampingan secara langsung sehingga pelaku UMKM dapat memahami dan mempraktikkan penggunaan teknologi tersebut.
Mengenalkan Ketahanan Pangan melalui Aquaponik
Aspek ketahanan pangan juga menjadi perhatian dalam kegiatan KKN PKM-Bahari Kelompok 29. Edukasi ketahanan pangan dilakukan melalui sosialisasi dan praktik pembuatan sistem aquaponik ikan lele dan kangkung di SD Negeri 01 Mangunrejo.
Program tersebut diselaraskan dengan visi sekolah dalam penguatan edukasi ketahanan pangan. Siswa diperkenalkan dengan konsep aquaponik, yaitu sistem yang mengintegrasikan budidaya ikan dan tanaman dalam satu sistem yang saling mendukung.
Kegiatan tidak hanya dilakukan melalui penyampaian materi di dalam kelas. Siswa juga dilibatkan secara langsung dalam praktik merakit instalasi aquaponik dengan menggunakan ikan lele dan kangkung sebagai komponen utama.
Melalui praktik tersebut, siswa memperoleh pengalaman langsung mengenai bagaimana sumber daya yang tersedia dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan pangan. Mereka juga diperkenalkan pada prinsip efisiensi pemanfaatan air dan keterkaitan antara budidaya ikan dengan tanaman.
“Melalui kegiatan aquaponik ini, kami ingin mengenalkan ketahanan pangan dengan cara yang sederhana dan menyenangkan. Anak-anak tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi juga melihat dan mempraktikkan secara langsung bagaimana ikan dan tanaman dapat dibudidayakan dalam satu sistem,” kata Muhammad Farhan Fadhilah, salah satu mahasiswa KKN PKM-Bahari Kelompok 29.
Mengolah Ikan Menjadi Pangan Bergizi dan Bernilai Ekonomi
Sasaran edukasi ketahanan pangan tidak hanya anak-anak sekolah. Mahasiswa juga melibatkan ibu-ibu Desa Mangunrejo melalui sosialisasi manfaat konsumsi ikan sebagai sumber pangan bergizi yang dilanjutkan dengan praktik pembuatan berbagai kreasi olahan ikan.
Kegiatan diawali dengan penyampaian informasi mengenai pentingnya konsumsi ikan dan manfaatnya sebagai sumber protein. Setelah mendapatkan materi, peserta kemudian diajak melakukan praktik pengolahan ikan secara langsung.
Melalui kegiatan tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai pentingnya konsumsi ikan, tetapi juga mendapatkan pengalaman dalam mengolah ikan menjadi produk yang lebih variatif.
Keterampilan tersebut dapat diterapkan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Dalam jangka panjang, keterampilan mengolah ikan juga berpotensi dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi produktif apabila dikombinasikan dengan pengemasan, branding, dan pemasaran yang tepat.
“Harapannya, masyarakat semakin memahami pentingnya konsumsi ikan dan bisa melihat bahwa ikan juga dapat dikembangkan menjadi berbagai olahan yang menarik. Jadi manfaatnya bukan hanya untuk konsumsi keluarga, tetapi juga berpotensi menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi,” ungkap Natasya Kanabita Wibowo, salah satu mahasiswa KKN PKM-Bahari Kelompok 29.
KKN sebagai Ruang Belajar dan Kolaborasi
Bagi mahasiswa, rangkaian kegiatan di Desa Mangunrejo bukan sekadar menjalankan program kerja. Kegiatan tersebut menjadi ruang belajar untuk memahami kebutuhan dan potensi masyarakat sekaligus mengembangkan kemampuan komunikasi, kerja sama, dan gotong royong.
Pendampingan dosen turut menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Agus Dwi Sulistyono, S.Si., M.Si., selaku Dosen Pembimbing KKN, mendampingi mahasiswa dalam proses pelaksanaan program serta mendorong mahasiswa agar kegiatan yang dilakukan tetap berorientasi pada kebutuhan masyarakat dan memiliki peluang keberlanjutan.
“KKN bagi kami bukan hanya tentang menyelesaikan program kerja, tetapi bagaimana kami bisa hadir dan berbaur dengan masyarakat. Dari setiap kegiatan, kami belajar bahwa program yang sederhana pun dapat memberikan manfaat ketika dibuat berdasarkan kebutuhan dan dilaksanakan bersama masyarakat,” tutur Nanditha Aulia Immawan, salah satu mahasiswa KKN PKM-Bahari Kelompok 29.
Pendekatan kolaboratif menjadi salah satu kunci pelaksanaan kegiatan. Program tidak hanya melibatkan mahasiswa, tetapi juga pemerintah desa, sekolah, pelaku UMKM, ibu-ibu PKK, dan masyarakat umum. Sinergi antarpihak tersebut menjadi fondasi penting agar berbagai program yang telah dilakukan dapat terus dimanfaatkan setelah masa KKN berakhir.
Mendorong Keberlanjutan Program
Kepala Desa Mangunrejo, Suntoro, menyampaikan apresiasinya atas keterlibatan mahasiswa dalam mendukung pengembangan potensi desa.
“Kami berharap program yang telah dilaksanakan mahasiswa dapat terus dilanjutkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Terutama dalam pengembangan potensi wisata, digitalisasi UMKM, serta edukasi ketahanan pangan yang memang membutuhkan keterlibatan bersama,” ujarnya.
Dari pemasangan sign board wisata, pendampingan digitalisasi UMKM, hingga edukasi ketahanan pangan bagi siswa sekolah dan masyarakat, rangkaian program KKN PKM-Bahari Kelompok 29 menunjukkan bahwa pengabdian mahasiswa dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan yang saling melengkapi.
Pengembangan wisata diarahkan untuk memperkuat identitas dan daya tarik desa. Digitalisasi UMKM menjadi langkah awal untuk meningkatkan konektivitas usaha dengan konsumen. Sementara itu, edukasi aquaponik dan pemanfaatan ikan sebagai sumber pangan bergizi diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai ketahanan pangan.
Bagi mahasiswa KKN PKM-Bahari Kelompok 29, Mangunrejo bukan sekadar lokasi pengabdian yang akan ditinggalkan setelah laporan akhir selesai disusun. Desa ini menjadi ruang belajar dan ruang kolaborasi, sekaligus tempat untuk menghadirkan program yang diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Tiga titik sign board Garuda Termangun telah terpasang, sejumlah UMKM mulai terkoneksi dengan layanan digital, siswa telah mendapatkan pengalaman praktik aquaponik, dan masyarakat semakin mengenal manfaat serta potensi olahan ikan. Semuanya menjadi bagian dari langkah bersama untuk mendorong Desa Mangunrejo semakin dikenal, mandiri, dan berdaya.
PKM-Bahari FPIK UB Kelompok 29
Editor : Redaksi