Kepala Dinas di Jember Pingsan Saat Didemo soal Pasar Tanjung, Massa Tetap Bertahan

JEMBER (Realita) - Aksi demonstrasi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jember bersama pedagang dan masyarakat Pasar Tanjung di depan Kantor Pemerintah Kabupaten Jember, Selasa (15/9/2026), berlangsung tegang.

Massa mendesak Pemkab Jember segera membenahi tata kelola Pasar Tanjung yang dinilai semrawut dan belum mampu menjawab persoalan pedagang.

Aksi tersebut diwarnai perdebatan antara massa dengan sejumlah pejabat Pemkab Jember.

Ketegangan semakin meningkat ketika massa meminta kepastian langkah pemerintah terkait dugaan praktik pungutan liar, premanisme, penataan pedagang, hingga persoalan pengelolaan Pasar Tanjung.

Koordinator aksi GMNI Jember, Abdul Aziz Al-Fajri, menilai persoalan Pasar Tanjung tidak bisa dipandang hanya sebagai persoalan fisik bangunan.

Menurutnya, pasar tersebut merupakan ruang ekonomi masyarakat yang menyangkut kehidupan pedagang dan para pekerja yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas perdagangan.

“Pasar Tanjung bukan hanya sekadar bangunan. Di sana ada kehidupan dan penghidupan. Karena itu, seluruh tata kelola dan kompleksitas Pasar Tanjung harus menjadi tanggung jawab Pemerintah Kabupaten Jember,” tegas Abdul Aziz.

Dalam dialog tersebut, Asisten Perekonomian Pemkab Jember, Ratno Sembodo, menyampaikan permohonan maaf karena Bupati Jember Muhammad Fawait tidak hadir secara langsung menemui massa. Ratno mengatakan, bupati menugaskan sejumlah pejabat untuk menerima dan menindaklanjuti aspirasi GMNI, pedagang, serta masyarakat.

Ratno menyebut Pemkab Jember tetap memberikan perhatian terhadap persoalan Pasar Tanjung. Pemerintah daerah, kata dia, tengah menyiapkan penyelesaian mulai dari langkah jangka pendek hingga rencana revitalisasi total pasar.

Untuk solusi jangka pendek, Pemkab Jember mengklaim telah menyiapkan lokasi di lantai dua Pasar Tanjung yang dapat ditempati sekitar 69 pedagang. Lokasi tersebut disebut disediakan secara gratis untuk pedagang yang saat ini berjualan di lantai bawah maupun kawasan jalan sekitar pasar.

“Kita sudah siapkan tempat gratis di lantai dua untuk 69 pedagang. Penyelesaiannya adalah melalui ruang dialog yang transparan, akuntabel, dan melibatkan seluruh unsur,” kata Ratno.

Sementara untuk jangka menengah dan panjang, Pemkab Jember menargetkan revitalisasi total Pasar Tanjung. Tahun ini pemerintah daerah disebut akan menyelesaikan detail engineering design atau DED, sedangkan pembangunan fisik ditargetkan mulai tahun depan.

Ratno mengatakan, revitalisasi tersebut dirancang untuk mengubah Pasar Tanjung menjadi pasar tiga lantai yang lebih modern dan mampu menampung ribuan pedagang.

Pemerintah menilai langkah tersebut penting karena bangunan Pasar Tanjung yang telah berusia puluhan tahun dinilai membutuhkan pembenahan menyeluruh.

Namun, penjelasan mengenai revitalisasi tahun depan justru mendapat sorotan massa. Mereka menilai pedagang membutuhkan solusi yang dapat dirasakan sekarang, bukan hanya janji pembangunan fisik pada tahun berikutnya.

“Manusia maksimal tidak makan berapa hari, Pak? Kalau ini diteruskan, mati semua pedagangnya, Pak,” sergah salah satu peserta aksi saat mempertanyakan solusi jangka pendek Pemkab Jember.

Perdebatan kemudian berlanjut ketika Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan Jember, Sartini, menjelaskan langkah yang telah dilakukan instansinya. Ia menyebut dinas telah membersihkan area lantai dua Pasar Tanjung dan kawasan utara yang dikenal sebagai Patehan sebagai bagian dari upaya menata pedagang.

Sartini juga mengatakan pihaknya telah melakukan edukasi dan dialog kepada pedagang agar bersedia menempati lokasi yang telah disiapkan. Namun, massa menilai langkah tersebut belum menyelesaikan akar persoalan karena kondisi di lapangan masih memunculkan keresahan.

Desakan massa kemudian mengarah pada permintaan komitmen konkret dari Sartini sebagai kepala dinas. Massa menolak sekadar mendengar penjelasan atau permintaan maaf dan meminta adanya kepastian penyelesaian persoalan Pasar Tanjung.

“Kami tidak butuh minta maaf. Kami butuh komitmen Anda sebagai Kepala Dinas Koperasi Perdagangan untuk mengatasi, mempercepat dan menyelesaikan persoalan Pasar Tanjung. Rakyat butuh keberpihakan, butuh keadilan,” tegas peserta aksi.

Ketegangan semakin terasa ketika massa terus mempertanyakan kepastian waktu penyelesaian persoalan pedagang. Di tengah situasi tersebut, Sartini tiba-tiba pingsan saat berada dalam forum dialog dengan massa.

Petugas Satpol PP yang berada di lokasi langsung memberikan pertolongan kepada Sartini. Ia kemudian dibawa masuk ke dalam Kantor Pemkab Jember untuk mendapatkan penanganan. Belum ada keterangan lebih lanjut mengenai kondisi Sartini setelah kejadian tersebut.

Sementara itu, aksi demonstrasi tidak langsung berakhir setelah Sartini dibawa masuk. Massa GMNI bersama pedagang tetap bertahan di depan Kantor Pemkab Jember dan meminta pejabat pemerintah memenuhi tuntutan mereka.

“Rakyat itu butuh keberpihakan, butuh keadilan. Kami tidak butuh kata maaf dari Anda,” tegas massa dalam aksi tersebut.rdy

Editor : Redaksi

Berita Terbaru