MALANG – Sebanyak 1.000 tukik dilepasliarkan menuju habitat alaminya dalam kegiatan Sea Trail 2026 yang diselenggarakan Kementerian Lingkungan Hidup Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (BEM FPIK UB) di Pantai Bajulmati, Desa Gajahrejo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang, pada Minggu (30/8/2026). Mengusung tema “Empowering the Community: Sea Turtle Release and Education Program”, kegiatan ini memadukan aksi konservasi dengan edukasi untuk menumbuhkan kepedulian terhadap keberlanjutan populasi penyu dan kelestarian ekosistem laut.
Sea Trail 2026 melibatkan Kementerian Lingkungan Hidup BEM FPIK UB dan dihadiri oleh 17 staf ahli serta tiga Badan Pengurus Harian. Melalui kegiatan ini, mahasiswa berupaya menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan tidak cukup dilakukan melalui aksi simbolis, tetapi perlu disertai pemahaman ilmiah dan keterlibatan berbagai pihak. Pelepasliaran tukik menjadi momentum untuk memperkenalkan tantangan yang dihadapi penyu sekaligus mengajak peserta memahami pentingnya menjaga habitat alami satwa laut tersebut.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sambutan Pak Sutari, Ketua Yayasan Konservasi Penyu Jawa Timur, yang hadir sebagai narasumber dalam sesi bertajuk “Pulang Menuju Samudra”. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Sekolah Alam yang menghadirkan Mbak Tientus sebagai pemateri. Dalam sesi tersebut, peserta memperoleh pengetahuan mengenai biologi dan ekologi penyu, siklus hidupnya, serta berbagai upaya konservasi untuk menjaga keberlangsungan populasi. Diskusi dan sesi tanya jawab turut membuka ruang bagi peserta untuk memperdalam pemahaman mengenai ancaman terhadap penyu dan peran manusia dalam mengurangi tekanan terhadap kehidupan satwa tersebut.
Setelah sesi edukasi dan pengarahan teknis, kegiatan mencapai puncaknya melalui pelepasliaran 1.000 tukik dari kolam penangkaran Yayasan Konservasi Penyu Jawa Timur menuju habitat alaminya. Pengalaman tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk terlibat langsung dalam salah satu bentuk aksi konservasi pesisir. Namun, perjalanan tukik menuju laut hanyalah awal dari proses bertahan hidup yang panjang. Keberhasilan konservasi tidak hanya ditentukan oleh jumlah tukik yang dilepasliarkan, tetapi juga oleh kondisi habitat, tingkat gangguan manusia, dan keberlanjutan upaya perlindungan pada setiap tahap siklus hidup penyu.
Dalam sesi edukasi, Pak Sutari menjelaskan pentingnya menjaga populasi penyu sejak fase tukik hingga dewasa karena satwa tersebut memiliki peran ekologis yang berbeda sesuai jenis dan pola makannya. Penyu belimbing, misalnya, memangsa ubur-ubur, sedangkan penyu hijau dewasa umumnya mengonsumsi lamun dan alga. Sementara itu, penyu sisik memakan berbagai organisme di ekosistem terumbu karang, termasuk spons. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa penyu merupakan bagian penting dari hubungan ekologis di laut, sehingga perlindungannya turut berkaitan dengan terjaganya fungsi ekosistem secara keseluruhan.
Meski memiliki peran ekologis penting, penyu masih menghadapi berbagai ancaman, mulai dari kerusakan habitat peneluran, pencemaran, gangguan aktivitas manusia di kawasan pesisir, hingga perubahan iklim. Setelah menetas dan bergerak menuju laut, tukik harus menghadapi berbagai tantangan untuk bertahan hidup. Pada penyu, kemampuan mendeteksi medan magnet bumi turut berperan dalam orientasi dan navigasi pada tahap kehidupan tertentu. Kondisi ini memperlihatkan eratnya hubungan antara kelangsungan hidup penyu dan kualitas lingkungan pesisir, sehingga perlindungan habitat serta pengurangan berbagai gangguan menjadi bagian penting dari upaya konservasi jangka panjang.
Melalui Sea Trail 2026, mahasiswa FPIK UB tidak hanya terlibat dalam aksi pelepasliaran, tetapi juga berperan menyampaikan pengetahuan ilmiah kepada masyarakat melalui pendekatan edukatif. Upaya tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goal (SDG) 14: Ekosistem Lautan, khususnya perlindungan keanekaragaman hayati laut dan penguatan upaya konservasi spesies. Kegiatan ini juga mencerminkan semangat SDG 4: Pendidikan Bermutu melalui pembelajaran langsung di lapangan yang menghubungkan pengetahuan biologi dan ekologi dengan persoalan lingkungan nyata.
Sebagai bagian dari aktivitas kemahasiswaan, Sea Trail turut menjadi wujud penerapan Tri Dharma Perguruan Tinggi, terutama dalam membangun kepedulian dan kontribusi terhadap persoalan lingkungan. Keterlibatan mahasiswa dalam edukasi dan aksi konservasi menunjukkan bahwa perguruan tinggi dapat menjadi ruang pembelajaran sekaligus penggerak partisipasi masyarakat dalam menjaga keberlanjutan sumber daya alam.
Baca juga: ESTUARY ROOTS: Mahasiswa FPIK UB Tanam Mangrove, Perkuat Ekosistem Pesisir Malang Selatan
Melalui kegiatan ini, Kementerian Lingkungan Hidup BEM FPIK UB berharap kesadaran terhadap pelestarian penyu dapat terus tumbuh dan diwujudkan dalam perilaku yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. Pelepasliaran 1.000 tukik menjadi pengingat bahwa masa depan penyu tidak hanya bergantung pada upaya penyelamatan saat ini, tetapi juga pada konsistensi perlindungan habitat, edukasi publik, dan keterlibatan berbagai pihak. Dengan menggabungkan pengetahuan dan aksi nyata, mahasiswa FPIK UB mendorong tumbuhnya kepedulian bersama untuk menjaga keberlanjutan kehidupan laut bagi generasi mendatang.
Editor : Redaksi