PARIGI (Realita)- Aspal jalanan di Kilometer 8 Kebun Kopi, Parigi Moutong, menjadi saksi bisu atas tragedi memilukan yang merenggut nyawa seorang mahasiswi.
Naila (19), yang tengah dalam perjalanan pulang ke kampung halamannya di Desa Ginunggung, Kabupaten Tolitoli, tak pernah sampai ke tujuan.
Baca juga: Pencipta Game Terkenal Tewas Dalam Kecelakaa
Di dalam tasnya, tersimpan mukena baru dan baju koko putih bertuliskan “Buat papa mama tersayang ???? Sebuah hadiah sederhana, namun sarat makna, yang seharusnya diberikan kepada orang tuanya saat tiba di rumah. Namun, takdir berkata lain.
Perjalanan mudik yang seharusnya membawa kebahagiaan berubah menjadi duka mendalam. Kendaraan yang ditumpangi Naila dan rekannya mengalami kecelakaan tragis.
Naila meninggal di tempat, sementara rekannya mengalami luka parah—dengan kondisi kaki yang dikabarkan putus.
"Dia anak yang baik, sangat sayang sama orang tuanya," ujar seorang kerabat dengan suara tercekat menahan tangis.
Baca juga: Macet Horor di Cikuasa Atas Merak, Seorang Sopir Logistik Dievakuasi Ambulance
Warga sekitar yang pertama kali tiba di lokasi hanya bisa menggelengkan kepala, tak percaya dengan apa yang mereka saksikan. Hamid Maddusila, salah satu warga yang ikut mengevakuasi korban, mengungkapkan bahwa jenazah Naila langsung ditangani oleh Unit Laka Lantas Polres Parimo.
Kabar duka ini dengan cepat menyebar di media sosial. Doa-doa mengalir dari banyak orang, bahkan dari mereka yang tidak mengenal Naila secara pribadi.
"Semoga husnul khatimah. Bayangkan, hadiah untuk orang tua, tidak sempat diberikan," tulis seorang warganet, menggambarkan kesedihan yang dirasakan banyak orang.
Baca juga: Lalai Saat Berkendara, Shania Lorensa Dituntut 2,5 Tahun Penjara
Di Desa Ginunggung, keluarga Naila tengah mempersiapkan pemakamannya.
Mukena dan baju koko putih itu, mungkin akan tetap diberikan—bukan untuk dipakai, melainkan sebagai kenangan terakhir dari seorang anak yang begitu mencintai orang tuanya.
Sementara itu, di Kilometer 8 Kebun Kopi, jejak tragedi masih membekas. Jalanan yang biasanya menjadi jalur mudik penuh harapan, kini menjadi pengingat betapa hidup bisa berubah dalam sekejap.to
Editor : Redaksi