Unik, Sambut Musim Tanam Warga Ponorogo Gelar Tradisi 'Nikah Air'

realita.co
Dua mempelai air dituangkan kedalam Embung Beji sebagai perwujudan penyatuan dari prosesi nikah air Desa Carangrejo.

PONOROGO (Realita)- Warga Desa Carangrejo, Kecamatan Sampung, Ponorogo, menggelar tradisi unik yang dikenal sebagai "Boyong Basuki Trito Pagesangan". Ritual ini dilaksanakan untuk menyambut musim tanam atau yang dalam kalender Jawa disebut Mongso Labuh.

Tradisi yang populer disebut "Pernikahan Air" ini dilangsungkan di dua lokasi berbeda, yaitu di Dam Sumorobangun, Desa Biting, Kecamatan Badegan, dan di Embung Beji, Desa Carangrejo, Kecamatan Sampung, pada Jumat (31/10/2025).

Baca juga: Gratifikasi Proyek RSUD Ponorogo, KPK Limpahkan Berkas Tersangka Sucipto ke JPU

Sebelum prosesi pernikahan air dimulai, warga terlebih dahulu melakukan ritual sakral. Mereka menyembelih seekor kambing di Dam Sumorobangun lokasi pertama prosesi ini. Organ dalam kambing, seperti hati, jantung, ginjal, paru-paru, lambung (babat), dan usus, kemudian dilarung ke sungai.

Setelah ritual persembahan, warga berkumpul di bantaran sungai untuk melakukan syukuran. Mereka membawa puluhan ambeng (nasi tumpeng) yang berisikan ayam panggang, lalu menyantapnya bersama dalam suasana kebersamaan.

Mempelai Air Diarak Puluhan Kilometer

Usai syukuran, para tokoh masyarakat mengambil air dari aliran Sungai Sumorobangun. Air ini ditampung dalam dua kendil (wadah air dari tanah liat). Kedua kendil berisi air inilah yang kemudian diarak menempuh jarak sekitar 22,1 kilometer menuju Embung Beji, Desa Carangrejo, sebelum air tersebut dituangkan sebagai simbol penyatuan.

Kepala Desa Carangrejo, Kecamatan Sampung, Kamsun, menjelaskan bahwa tradisi nikah air ini adalah ritual turun-temurun yang telah berjalan selama 200 tahun dan selalu digelar warga desanya setiap musim tanam tiba.

Baca juga: 30 Hektar Tanaman Padi Mati Akibat Banjir, Pemkab Ponorogo Baru Lakukan Pendataan

“Jadi, sekarang air Sumorobangun dan Embung Beji ini ‘dikawinkan’ sebagai wujud nguri-nguri (melestarikan) upaya leluhur kami untuk membuat desa kami gemah ripah loh jinawi (makmur dan subur),” ujarnya.

Menurut legenda, kesulitan pangan pernah melanda Desa Carangrejo karena sawah mereka mengering akibat ketiadaan sumber air. Keluhan warga itu sampai ke telinga leluhur desa, Mbah Doplang, yang konon masih kerabat Keraton Solo.

Mbah Doplang kemudian bersemedi di Setono Pangon, Bukit Sedayu, dan mendapat wangsit. Ia lalu menarik tongkat dari Sungai Sumorobangun hingga ke Carangrejo. Bekas tarikan tongkat Mbah Doplang inilah yang kemudian menjadi sungai kecil, cikal bakal irigasi sawah warga.

Baca juga: Digugat Perdata Nasabah, BRI Diputus Bersalah di PN Ponorogo

Dari Panen Sekali Setahun Menjadi Tiga Kali

Salah satu petani Carangrejo, Muh Mukhlis Amirudin, membenarkan kisah tersebut. Ia bercerita, dulunya petani Carangrejo hanya mampu panen sekali setahun karena sawah mereka hanya mengandalkan air hujan (tadah hujan).

“Dulu, irigasi Mbah Doplang ini yang menjadi satu-satunya irigasi petani di sana. Konon katanya, sebelum Mbah Doplang membuat irigasi, petani hanya satu kali panen setahun. Setelah ada irigasi itu, sumber air makin mudah dan petani kini bisa panen padi sampai tiga kali setahun,” pungkasnya.znl

Editor : Redaksi

Politik & Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru