SURABAYA (Realita)— Balutan warna merah yang elegan, aroma hidangan khas Nusantara, dan obrolan hangat para tamu menciptakan suasana eksklusif di Kayana Restaurant, Surabaya, Kamis (29/1/2026). Perayaan Imlek tahun ini terasa istimewa.
Bukan sekadar menandai pergantian tahun, tetapi menjadi ruang kebersamaan yang sarat kepedulian tempat karya, harapan, dan empati bertemu dalam suasana akrab.
Baca juga: Catat Tanggalnya, Pemkot Surabaya Gelar Kya-Kya Chunjie Fest 2025
Di tengah atmosfer hangat itu, Ellen Sulistyo, Owner Kayana Restaurant, menyambut tamu satu per satu dengan senyum khasnya. Sosok perempuan yang kerap dijuluki doktor resto ini dikenal piawai meramu konsep bisnis kuliner yang tak hanya berorientasi pada cita rasa, tetapi juga nilai sosial. Bagi Ellen, perayaan Imlek kali ini menjadi momentum berbagi sekaligus membuka akses pasar bagi kelompok yang selama ini kerap berada di pinggir arus ekonomi.
Melalui kolaborasi Kayana dan Bocorocco, Ellen menghadirkan bazar bertema berbagi sebagai bagian dari perayaan Imlek. Produk Bocorocco menjadi salah satu penopang utama kegiatan tersebut, dengan seluruh hasil penjualan disalurkan untuk mendukung aktivitas Yayasan 1001 Cahaya.
Yayasan 1001 Cahaya merupakan lembaga sosial yang bergerak dalam pemberdayaan penyandang disabilitas dan kelompok rentan melalui pengembangan karya kreatif. Dukungan Bocorocco dalam acara ini tidak hanya menghadirkan produk, tetapi juga membuka ruang pemasaran bagi karya-karya binaan yayasan, mulai dari batik, lukisan, hingga produk makanan.
Perayaan Imlek di Kayana kian bermakna dengan kehadiran Fatma Saifullah Yusuf, istri Menteri Sosial RI Saifullah Yusuf, yang selama ini dikenal aktif mendukung kegiatan Yayasan 1001 Cahaya. Kehadirannya mencerminkan peran strategis perempuan dalam menjembatani kepedulian sosial, kebijakan negara, dan dunia usaha.
“Imlek identik dengan kebersamaan. Di momen ini, kami ingin berbagi sekaligus membuka ruang bagi karya-karya yang membutuhkan dukungan agar bisa terus hidup,” ujar Ellen.
Di salah satu sudut ruangan, sepatu dan sandal kesehatan merek Bocorocco tersusun rapi. Produk yang dikenal nyaman dan fungsional itu berdampingan dengan tas, tumbler, jaket, hingga lukisan karya anak-anak berkebutuhan khusus. Meski bermerek Italia, sejak 2018 Bocorocco telah sepenuhnya dimiliki anak bangsa, dengan proses produksi dilakukan di Tangerang dan Solo.
Baca juga: Polres Batu Libatkan berbagai Unsur Amankan Perayaan Imlek Tahun 2025
Namun sorotan utama perayaan Imlek hari itu bukan semata pada produk bermerek, melainkan pada kisah di balik karya-karya yang dipamerkan. Sebagian besar merupakan hasil binaan Yayasan 1001 Cahaya—penyandang disabilitas dan kelompok rentan yang sebelumnya telah mengikuti pelatihan, termasuk program yang difasilitasi Kementerian Sosial.
Kementerian Sosial menegaskan bahwa keberlanjutan pasca pelatihan menjadi kunci utama dalam pemberdayaan.
“Bagi kami, pelatihan hanyalah langkah awal. Yang paling penting adalah memastikan karya mereka benar-benar hidup dan punya masa depan. Apa yang dilakukan Yayasan 1001 Cahaya, bersama pelaku usaha seperti Kayana dan dukungan Bocorocco, memberi ruang nyata bagi penyandang disabilitas dan kelompok rentan untuk terus berkarya dan berdiri di atas kaki sendiri,” tutur Fatma Saifullah Yusuf.
Fatma mengakui, tantangan terbesar para binaan justru muncul setelah pelatihan selesai. “Mereka bisa membuat produk yang bagus, tetapi pemasaran menjadi tembok besar. Di situlah kami mencoba menjembatani,” katanya.
Baca juga: Demi Keamanan dan Kenyamanan Wisatawan, Polres Batu Terjunkan Tourism Police
Di Surabaya, Yayasan 1001 Cahaya saat ini membina sekitar 10 pembatik. Pembinaan serupa juga dilakukan di Pasuruan, Jakarta, serta sejumlah wilayah di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Polanya berkelanjutan: karya para binaan diambil, didukung permodalan, lalu dipasarkan melalui berbagai kegiatan, termasuk bazar Imlek eksklusif di Kayana yang didukung Bocorocco.
Tak hanya bazar produk, perayaan Imlek ini juga diramaikan dengan sajian kuliner khas Nusantara, seperti nasi liwet, asinan, hingga aneka kue Imlek. Seluruh hasil penjualan makanan tersebut disumbangkan untuk mendukung kegiatan sosial Yayasan 1001 Cahaya.
Di tengah riuh obrolan dan kilatan kamera, perayaan Imlek di Kayana menghadirkan pesan sederhana namun kuat: kehangatan, kepedulian, dan peran perempuan mampu menjadikan bisnis sebagai jembatan kemandirian.
Di Kayana hari itu, Imlek tak hanya dirayakan dengan nuansa merah dan hidangan lezat, tetapi juga dengan keyakinan bahwa setiap karya sekecil apa pun layak mendapat panggung dan cahaya.yudhi
Editor : Redaksi