JEMBER (Realita) - Refleksi satu tahun kepemimpinan Bupati Jember, Muhammad Fawait, menjadi momentum penting untuk menegaskan arah kebijakan pemerintah daerah ke depan.
Dalam forum refleksi yang digelar terbuka, di Pendapa Wahyawibawagraha, Jumat, (20/02/2026), Gus Fawait menyoroti dinamika politik yang mewarnai perjalanan pemerintahannya selama setahun terakhir.
Menurutnya, dinamika tersebut merupakan hal lumrah dalam sistem demokrasi. Namun ia menegaskan, situasi politik tidak boleh mengganggu stabilitas pemerintahan dan pelayanan publik yang menjadi hak masyarakat.
“Dinamika itu biasa dalam demokrasi. Yang tidak boleh terganggu adalah pelayanan kepada rakyat,” ujarnya.
Gus Fawait menyampaikan, sejak awal masa kepemimpinannya ia memilih fokus bekerja ketimbang merespons polemik politik yang berkembang. Ia menilai kepala daerah harus mampu menjaga ritme birokrasi agar tetap profesional, terukur, dan berorientasi pada hasil.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga kesinambungan program yang telah berjalan. Stabilitas birokrasi, menurutnya, adalah fondasi utama agar pelayanan publik tidak tersendat hanya karena perubahan kepemimpinan.
“Saya memilih bekerja dan memastikan birokrasi tetap stabil. Tugas kami adalah memastikan masyarakat tetap terlayani dengan baik,” tegasnya.
Tahun 2025, lanjutnya, merupakan fase adaptasi dan konsolidasi. Pada masa transisi tersebut, ia tidak melakukan perombakan besar-besaran di tubuh organisasi perangkat daerah (OPD). Seluruh kepala OPD diberi ruang untuk menunjukkan kapasitas dan kinerja masing-masing.
Langkah itu diambil sebagai bentuk komitmen menjaga profesionalisme aparatur serta memberi kesempatan evaluasi berbasis kinerja, bukan semata pertimbangan politik. Namun, memasuki 2026, ia menilai fase tersebut telah berakhir dan kini saatnya memasuki tahap pembuktian.
“Kalau 2025 adalah pemanasan, maka 2026 adalah tahun pembuktian. Kita harus berlari, bukan lagi berjalan,” tegasnya.
Memasuki tahun pembuktian, Pemerintah Kabupaten Jember memfokuskan agenda pada percepatan investasi dan penyempurnaan regulasi tata ruang. Reformulasi tata ruang dinilai penting untuk memberi kepastian hukum bagi investor sekaligus menjaga keseimbangan pembangunan.
Selain itu, penguatan layanan publik melalui optimalisasi Mall Pelayanan Publik di sejumlah wilayah menjadi prioritas. Pemkab ingin memastikan akses layanan administrasi lebih cepat, transparan, dan terintegrasi.
Baca juga: Gus Fawait Paparkan Capaian Fundamental Selama Satu Tahun Memimpin Jember
“Kita ingin regulasi jelas, tata ruang rapi, dan pelayanan publik semakin mudah. Investor datang, masyarakat merasakan dampaknya,” ujarnya.
Langkah strategis lain yang ditekankan adalah aktivasi kembali Bandara Jember. Menurut Gus Fawait, konektivitas menjadi kunci dalam membuka peluang ekonomi baru dan memperluas akses pasar bagi pelaku usaha lokal.
Ia menilai keberadaan bandara bukan sekadar infrastruktur transportasi, melainkan instrumen penting untuk menarik investor dan menggerakkan sektor pariwisata serta perdagangan. Dengan konektivitas yang lebih baik, perputaran ekonomi diharapkan meningkat signifikan.
“Bandara harus hidup kembali. Ini bukan sekadar soal penerbangan, tetapi membuka pintu ekonomi dan lapangan kerja bagi masyarakat Jember,” katanya.
Baca juga: Peta Cinta Putus Antrean Adminduk, Permohonan Cetak KTP di Kecamatan Jember Mulai Landai
Di sisi lain, Gus Fawait juga menyoroti pentingnya sinergi antara eksekutif dan legislatif. Ia menegaskan hubungan dengan DPRD harus dibangun dalam semangat kolaborasi dan fungsi kontrol yang sehat.
Perbedaan pandangan dalam proses politik dinilainya sebagai bagian dari mekanisme demokrasi. Namun, ia mengingatkan bahwa tujuan akhir seluruh elemen pemerintahan tetap sama, yakni meningkatkan kesejahteraan masyarakat Jember.
“Perbedaan itu wajar. Tapi tujuan kita satu, bagaimana rakyat Jember hidup lebih sejahtera,” ujarnya.
Baca juga: Jember Tembus Opini Kualitas Tertinggi Ombudsman, Gus Fawait Tegaskan Tak Boleh Puas Diri
Dalam refleksi tersebut, Gus Fawait turut menyampaikan pesan personal tentang komitmennya memimpin daerah kelahirannya. Ia menyebut jabatan sebagai amanah yang harus dijaga dengan kerja nyata, bukan sekadar retorika.
Ia mengaku meninggalkan banyak hal untuk mengabdi di tanah kelahiran. Baginya, kepemimpinan bukan hanya soal jabatan administratif, tetapi panggilan moral untuk membawa perubahan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Saya ini anak desa. Saya meninggalkan banyak hal untuk mengabdi di tanah kelahiran. Amanah ini harus dijaga dengan kerja nyata,” pungkas Gus Fawait. (R-dy).
Editor : Redaksi