KEDIRI (Realita) - Setelah mengudara selama hampir enam dekade, Radio Wijang Songko (RWS) FM 99 MHz resmi mengakhiri siarannya pada Selasa (31/3).
Keputusan ini menjadi momen emosional, tidak hanya bagi manajemen dan kru, tetapi juga bagi ribuan pendengar setia yang selama ini menjadikan RWS sebagai teman sehari-hari.
Baca juga: Awasi Program MBG, Pemkot Kediri Gandeng Lintas Sektor dan Kejaksaan
RWS yang berada di bawah naungan PT Radio Siaran Wijang Songko telah berdiri sejak 1968, bermula dari frekuensi AM dengan nama Radio Pattimura.
Seiring perkembangan teknologi, stasiun radio ini beralih ke FM pada era 1990-an dan akhirnya menetap di 99 FM sejak 2017. Selama 58 tahun perjalanan, RWS dikenal sebagai radio infotainment dan humor yang dekat dengan masyarakat Kediri dan sekitarnya.
Penanggung jawab usaha sekaligus Kepala Studio RWS, Lindawati, mengungkapkan bahwa keputusan untuk menghentikan siaran bukanlah hal yang mudah.
“Pertimbangan ini sudah cukup lama, sejak masa pandemi Covid-19. Hingga akhirnya diputuskan bahwa per 1 April RWS tidak mengudara. Faktor utamanya karena pimpinan kami yang memegang kepemilikan tunggal kini telah berusia 83 tahun dan memutuskan untuk pensiun,” ujarnya.
Meski demikian, Lindawati menegaskan bahwa penutupan ini bukan akhir dari segalanya. Ia menyebut RWS hanya ‘berjeda’ dan masih menyimpan harapan untuk kembali mengudara di masa mendatang.
Baca juga: Cuaca Ekstrem di Kota Kediri Picu 17 Pohon Tumbang, Satu Nyangkut Kabel di Tosaren
“Kami tidak benar-benar berpisah. Ini hanya jeda. Harapan untuk kembali tetap ada, dan kami mohon pendengar setia menunggu kami,” tambahnya.
Selama perjalanannya, RWS menghadirkan beragam program yang lekat di hati pendengar, mulai dari ‘Selamat Pagi RWS’, ‘Hello Dangdut’, ‘Warung Campursari’, hingga program malam ‘Pak Piket’ yang menemani pekerja shift malam. Koordinator Bidang Program sekaligus penyiar, Asti Wibowo, menyebut setiap program memiliki pendengarnya masing-masing.
“Sejak pagi hingga malam, selalu ada yang menunggu siaran kami. Radio ini menjadi teman aktivitas, dari bangun tidur sampai menjelang istirahat,” katanya.
Baca juga: Festival Musik Patrol Kota Kediri: Lestarikan Tradisi, Bidik Status Ikon Lebaran Tahunan
Di balik layar, RWS juga dikenal sebagai ‘rumah’ bagi para penyiar dan kreator. Budaya kekeluargaan yang kuat serta kebebasan berekspresi melahirkan berbagai karakter ikonik seperti Lek Dul, Temon, Ginuk, hingga Gembrot. Tak sedikit pula jurnalis dan pekerja media yang memulai kariernya dari radio ini.
Momen siaran terakhir RWS pun diwarnai haru dari para pendengar. Salah satunya Tata, pendengar setia asal Pare, yang sengaja datang langsung ke kantor RWS di Jalan Kilisuci. Ia mengaku telah mendengarkan RWS selama lima tahun terakhir.
“Kalau di rumah sendirian, RWS itu teman. Dari pagi sampai sore selalu nyala. Jadi hari ini rasanya kehilangan,” ungkapnya.
Meski siaran telah berhenti, kenangan tentang RWS dipastikan tetap hidup di hati para pendengarnya. Sebuah radio yang telah menemani berbagai peristiwa, dari keseharian warga hingga momen-momen besar di Kediri, kini pamit. Namun seperti yang disampaikan manajemen, ini bukanlah akhir melainkan jeda, sebelum suatu hari nanti suara RWS kembali mengudara.nia
Editor : Redaksi