Setia Membuka Lapak di Tengah Pasar yang Lengang, Perjuangan Pedagang Menghidupi Keluarga

realita.co
Ilustrasi foto sepinya pembeli di pasar Puspa Agro

SIDOARJO – Di balik megahnya bangunan Pasar Induk Puspa Agro yang pernah digadang-gadang sebagai pasar agrobisnis terbesar di Jawa Timur, tersimpan kisah perjuangan para pedagang yang kini harus berjuang keras melawan sepinya pembeli.

Salah satunya adalah Candra dan sang istri, pedagang yang telah bertahun-tahun menggantungkan hidup dari aktivitas perdagangan di kawasan pasar tersebut. Setiap hari, ia tetap datang membuka lapaknya dengan harapan ada pembeli yang datang. Namun kenyataan yang dihadapi jauh dari harapan.

Baca juga: Pasar Puspa Agro Nyaris Mangkrak, Sepi bak Gedung Berhantu

Lorong-lorong pasar yang dahulu ramai kini lebih sering terlihat lengang. Banyak kios tutup dan ditinggalkan pemiliknya karena tidak mampu bertahan menghadapi minimnya transaksi. Kondisi itu membuat pendapatan para pedagang terus menurun dari waktu ke waktu.

"Kalau dulu sehari bisa dapat pelanggan banyak, sekarang kadang sampai menjelang malam belum tentu ada yang beli. Tapi saya tetap harus buka karena ini satu-satunya sumber penghasilan keluarga," ujar pria tersebut dengan nada lirih.

Meski penghasilan semakin tidak menentu, ia mengaku tidak memiliki banyak pilihan. Kebutuhan rumah tangga, biaya pendidikan anak, hingga berbagai kebutuhan sehari-hari tetap harus dipenuhi. Karena itu, ia memilih bertahan meski keuntungan yang diperoleh sering kali tidak sebanding dengan biaya operasional yang harus dikeluarkan.

Baca juga: Dikonfirmasi Soal Rekomendasi Penutupan Pasar Puspa Agro, Anggota DPRD Jatim 'Saling Lempar'

Setiap bulan, ia harus memutar otak agar kebutuhan keluarga tetap tercukupi. Bahkan tidak jarang hasil berdagang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok. Situasi tersebut membuat beban hidup semakin berat, terlebih ketika jumlah pelanggan terus berkurang.

Menurutnya, salah satu penyebab sepinya aktivitas perdagangan adalah akses menuju pasar yang sering mengalami kemacetan. Kondisi tersebut membuat banyak pembeli maupun distributor memilih mencari alternatif tempat berbelanja yang lebih mudah dijangkau.

Meski demikian, harapan belum sepenuhnya padam. Di tengah ketidakpastian yang dihadapi, ia dan pedagang lainnya masih berharap adanya perhatian serius dari pemerintah maupun pengelola untuk menghidupkan kembali denyut ekonomi Pasar Puspa Agro.

Baca juga: Sepi Pengunjung, Pasar Puspa Agro di Bawah Naungan PT JGU Direkomendasikan Ditutup karena Dinilai Bebani APBD Jawa Timur

"Saya hanya ingin pasar ini ramai lagi seperti dulu. Kalau pembeli kembali datang, kami bisa bekerja dengan tenang dan kebutuhan keluarga juga bisa terpenuhi," katanya.

Baginya, membuka lapak setiap hari bukan sekadar mencari keuntungan. Aktivitas itu adalah bentuk perjuangan seorang kepala keluarga yang berusaha tetap berdiri di tengah kondisi yang semakin sulit. Di antara kios-kios yang mulai kosong dan suasana pasar yang kian sepi, ia memilih bertahan, menjaga harapan agar suatu hari Puspa Agro kembali hidup dan menjadi tempat mencari nafkah yang layak bagi ribuan pedagang yang menggantungkan masa depannya di sana. Tyan

Editor : Redaksi

Politik & Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru