Saat Ibu Menjadi Kunci Kesiapsiagaan Bencana di Keluarga

Reporter : Redaksi
Ibu-ibu PKK Kelurahan Manukan Kulon mengikuti edukasi kesiapsiagaan bencana dan praktik membuat Tas Siaga Bencana dalam kegiatan PKM FBS UNESA di Balai RW 02, Surabaya, Rabu, 12 Agustus 2026.

SURABAYA (Realita)— Saat bencana datang, keluarga sering kali menjadi tempat pertama untuk saling menyelamatkan. Karena itu, kemampuan mengenali risiko dan menyiapkan langkah darurat tidak cukup hanya dimiliki pemerintah atau petugas kebencanaan. Pengetahuan tersebut perlu tumbuh dari rumah.

Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) mengajak ibu-ibu PKK di Kelurahan Manukan Kulon, Kecamatan Tandes, Surabaya, memperkuat kesiapsiagaan bencana berbasis keluarga.

Baca juga: Prodi Kedokteran Gigi Unesa Perkuat Peran Kader dalam Edukasi Kesehatan Gigi dan Mulut Ibu Hamil

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk “Literasi Kebencanaan Berbasis Keluarga: Edukasi Kesiapsiagaan Bencana untuk Ibu PKK Manukan Kulon” itu berlangsung di Balai RW 02, Rabu, 12 Agustus 2026.

Ketua Tim PKM, Silvy Cinthia Adelia, mengatakan perempuan memiliki posisi strategis dalam membangun kesiapsiagaan keluarga. Perempuan, menurut dia, tidak hanya berperan dalam pengelolaan rumah tangga, tetapi juga dalam perencanaan dan pengambilan keputusan ketika keluarga menghadapi situasi darurat.

“Melalui kegiatan ini, tim PKM FBS UNESA berupaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana melalui penguatan literasi, mitigasi bencana, kesiapsiagaan, dan perencanaan,” kata Silvy, Kamis, 13 Agustus 2026.

Literasi kebencanaan, kata dia, tidak berhenti pada kemampuan mengenali jenis dan risiko bencana. Pengetahuan itu harus diterjemahkan menjadi tindakan, baik sebelum, ketika, maupun setelah bencana terjadi.

Dalam kegiatan tersebut, materi utama disampaikan narasumber dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya. Peserta memperoleh pemahaman mengenai jenis-jenis bencana yang mungkin terjadi, potensi risiko di kawasan perkotaan, serta langkah yang dapat dilakukan ketika menghadapi kondisi darurat.

Suasana kegiatan dibuat interaktif. Selain menerima materi, peserta berdiskusi dan berbagi pengalaman mengenai potensi risiko di lingkungan tempat tinggal mereka. Mereka juga diajak menyusun langkah kesiapsiagaan yang dapat diterapkan bersama anggota keluarga.

Salah satu kegiatan yang menarik perhatian peserta adalah praktik membuat Tas Siaga Bencana. Ibu-ibu PKK diajak mengenali berbagai perlengkapan yang penting disiapkan untuk menghadapi keadaan darurat.

Baca juga: UNESA Dorong Integrasi Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran PJOK

Tas tersebut menjadi contoh sederhana bahwa kesiapsiagaan dapat dimulai dari rumah. Perlengkapan penting yang sudah disiapkan sebelumnya dapat membantu keluarga lebih cepat bertindak ketika harus menghadapi situasi yang tidak terduga.

“Melalui kegiatan tersebut, FBS UNESA menegaskan peran perguruan tinggi dalam memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” ujar Silvy.

Menurut dia, keluarga merupakan unit terkecil masyarakat yang memiliki peran penting dalam membangun ketangguhan menghadapi bencana. Keluarga yang memiliki literasi kebencanaan diharapkan mampu merespons situasi darurat dengan lebih cepat dan tepat.

“Keluarga yang memiliki literasi kebencanaan yang baik diharapkan tidak hanya mampu merespons bencana secara lebih cepat dan tepat, tetapi juga turut membangun lingkungan Manukan Kulon yang lebih aman, tangguh, dan berkelanjutan,” kata Silvy.

Baca juga: Unesa Jadi Tuan Rumah Pertemuan Asipena, Dorong Kolaborasi Inovasi Pendidikan

Kegiatan ini juga dikaitkan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 11 tentang kota dan komunitas yang inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan.

Penguatan kapasitas warga menghadapi bencana menjadi salah satu unsur penting dalam membangun komunitas perkotaan yang tangguh. Upaya tersebut juga membutuhkan kerja bersama.

Karena itu, PKM FBS UNESA turut mendukung SDG 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, BPBD, dan masyarakat.

Bagi warga Manukan Kulon, edukasi tersebut bukan sekadar kegiatan satu hari. Pengetahuan mengenai risiko bencana dan kebiasaan menyiapkan kebutuhan darurat diharapkan dapat dibawa pulang dan diterapkan dalam kehidupan keluarga sehari-hari.yudhi

Editor : Redaksi

Politik & Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru