Membangun Literasi Cuaca Maritim di Karimunjawa melalui Inovasi MAWAS ITB

realita.co
Menuju petang terlihat banyak nelayan di tepi pelabuhan rakyat Karimunjawa tengah sibuk mempersiapkan peralatan memancing cumi di kapalnya masing-masing.

MENUJU petang terlihat banyak nelayan di tepi pelabuhan rakyat Karimunjawa tengah sibuk mempersiapkan peralatan memancing cumi di kapalnya masing-masing. Tiap kapal diisi oleh 1 atau 2 orang sebelum berangkat ke perairan timur.

Di tengah kesibukan, sesekali para nelayan ramah menyapa turis yang sekedar mengabadikan momen di pelabuhan rakyat. Dalam sebuah perbincangan, pola melaut nelayan mengalami perubahan dalam komoditas tangkapan.

“Sekarang ini banyak cumi mas, ikan lagi sulit. Coba mas cari di pasar, mahal ikan harganya karena memang sedikit”. Lebih lanjut, salah seorang nelayan mengaku bahwa cuaca yang sulit diprediksi turut berpengaruh terhadap hasil tangkapan. 

Merespon keluhan kelompok nelayan yang disampaikan oleh Kepala Desa karimunjawa, ITB (Institut Teknologi Bandung) mengirimkan tim ahli yang diketuai oleh Dr. Eng. Faruq Khadami untuk menyelesaikan isu yang merisaukan nelayan.

Melalui observasi dan komunikasi dengan perwakilan kelompok masyarakat Karimunjawa, tim kemudian merancang sebuah teknologi yang diberi nama MAWAS (Marine Automatic Weather Station).

Sebuah set perangkat keras dipasangkan di pelabuhan rakyat untuk memantau gejala-gejala cuaca lokal seperti kecepatan angin, pasang surut, maupun tinggi gelombang laut. Untuk memudahkan akses informasi sampai ke tangan nelayan, MAWAS juga terhubung ke sistem berbasis website yang dapat dipantau sewaktu waktu secara real time. 

Tim ITB juga berkunjung ke SMK N 1 Karimunjawa untuk memberikan edukasi teknologi kepada siswa sekolah dan juga guru-guru. Harapannya adalah bahwa teknologi yang sudah dikembangkan dan ditanamkan dapat dimanfaatkan oleh semua kalangan termasuk akademisi muda dan mendorong inovasi-inovasi yang tumbuh dari SMK untuk meningkatkan kualitas potensi di Karimunjawa.

Siswa-siswi tampak sangat antusias dan penasaran dengan teknologi yang belum pernah mereka lihat sebelumnya karena SMK masih berfokus pada komoditi perikanan budidaya dan tangkap belum menyentuh aspek teknologi meteorologi. 

Sebelum kembali menuju Bandung, tim menyempatkan diri untuk menerima aspirasi dari kelompok masyarakat terkait dukungan akademis. Umumnya masyarakat menyuarakan terkait perencanaan dan pengelolaan Karimunjawa sebagai desa wisata menuju pariwisata yang berkelanjutan.

Tingginya jumlah kunjungan berbanding lurus dengan tingkat perekonomian, namun juga berpengaruh apda daya dukung kawasan terhadap kualitas ekologi dan juga jumlah air bersih layak pakai yang tersedia. 
 

Editor : Redaksi

Politik & Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru