JEMBER (Realita) – Pertumbuhan ekonomi di sejumlah daerah di Jawa Timur mengalami perlambatan pada kuartal II 2026. Namun, kondisi berbeda terjadi di Kabupaten Bondowoso yang justru mencatat kenaikan pertumbuhan ekonomi dibandingkan kuartal sebelumnya.
Kepala OJK Jember Aris Budiman mengatakan, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada kuartal II berada di level 5,72 persen, turun dibandingkan kuartal I yang mencapai 5,96 persen. Kondisi serupa juga terjadi secara nasional, dengan pertumbuhan ekonomi kuartal II sebesar 5,29 persen, dibandingkan 5,61 persen pada kuartal sebelumnya.
Baca juga: Gus Fawait Buka Dialog dengan Pedagang Pasar Tanjung, Satgas Gabungan Segera Bergerak
Dari lima kabupaten yang menjadi wilayah pengawasan OJK Jember, yakni Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Lumajang, dan Situbondo, hanya Bondowoso yang mencatat pertumbuhan positif secara kuartalan.
“Yang fenomenal itu Bondowoso. Nasional turun, Jawa Timur turun, lima kabupaten juga turun, tetapi Bondowoso naik dari 5,42 menjadi 5,83 persen,” kata Aris, Rabu (23/09/2026).
Kinerja tersebut sekaligus membuat Bondowoso menjadi salah satu daerah yang mampu menjaga momentum pertumbuhan ketika daerah lain mengalami perlambatan.
Aris bahkan menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Bondowoso atas capaian tersebut.
Sementara itu, Jember yang sebelumnya menjadi daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi pada kuartal I, mengalami perlambatan dari 6,35 persen menjadi 5,90 persen.
Posisi pertumbuhan tertinggi pada kuartal II kemudian ditempati Banyuwangi, meski juga mengalami penurunan dari 6,14 persen menjadi 6,09 persen.
Lumajang turut mengalami perlambatan, dari 5,89 persen pada kuartal I menjadi 5,68 persen pada kuartal II. Sedangkan Situbondo mencatat penurunan paling besar sekaligus menjadi daerah dengan pertumbuhan terendah, dari 5,50 persen menjadi 5,24 persen.
“Situbondo ini yang paling turun dan paling rendah, dari 5,50 menjadi 5,24 persen. Mudah-mudahan dengan beberapa program yang dilakukan pada kuartal III, pertumbuhannya bisa naik lagi,” ujar Aris.
Baca juga: Temui Pedagang Pasar Tanjung Jember, Gus Fawait Siapkan Revitalisasi Total Rp250 Miliar
Untuk Jember, Aris melihat masih terdapat peluang perbaikan pada kuartal III. Sejumlah kegiatan dan agenda ekonomi yang berlangsung pada kuartal tersebut dinilai baru akan tercermin dalam perhitungan pertumbuhan ekonomi berikutnya.
“Jember kemungkinan nanti kuartal III akan naik karena beberapa event di Jember mulai dari JFC, martabak dan lainnya itu ada di kuartal III,” jelasnya.
Menurut Aris, struktur ekonomi di wilayah kerja OJK Jember secara umum masih ditopang oleh sektor pertanian, kehutanan dan perikanan.
Setelah itu terdapat industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, konsumsi, serta informasi dan komunikasi. Banyuwangi menjadi daerah dengan struktur yang sedikit berbeda karena sektor perdagangan berada di posisi kedua, setelah pertanian.
Di sisi lain, OJK Jember bersama Bank Indonesia dan Lembaga Penjamin Simpanan terus memperkuat sinergi untuk menjaga stabilitas sistem keuangan daerah.
Baca juga: Penataan Jalan Pasar Tanjung Jember Tak Bisa Asal Gusur, Gus Fawait Minta Waktu Seminggu
Kolaborasi tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga stabilitas sistem keuangan melalui penguatan sektor riil dan pembiayaan.
Aris mengatakan, salah satu fokus kebijakan OJK saat ini adalah mendorong pengembangan UMKM, penguatan pasar modal, serta pengembangan ekonomi digital. OJK juga terus memperkuat regulasi di sektor keuangan, termasuk terkait konglomerasi keuangan, pasar modal, derivatif, dan bursa karbon.
Pengembangan ekonomi daerah juga diarahkan berdasarkan karakteristik masing-masing wilayah. Bondowoso, misalnya, didorong melalui pengembangan komoditas kopi. Lumajang diarahkan pada sektor pariwisata, sementara Situbondo dikembangkan melalui potensi pariwisata dan perikanan di kawasan Pasir Putih.
“Untuk Jember, kita harapkan pengembangan ekonominya melalui sistem ekonomi di pondok pesantren,” pungkas Aris.rdy
Editor : Redaksi