SURABAYA - Saat sebagian besar warga Surabaya masih terlelap, aktivitas di Pasar Kembang, Jalan Pasar Kembang, Kecamatan Tegalsari, sudah mulai bergerak. Sekitar pukul 01.00 WIB, pedagang mulai berdatangan dan menata dagangannya. Memasuki pukul 03.00 WIB, suasana pasar semakin ramai dan mencapai puncaknya sekitar pukul 04.00 WIB.
Aroma jajanan tradisional pun memenuhi kawasan pasar. Klepon, putu, lemper, nagasari, onde-onde, kue lapis, risoles hingga dadar gulung berjajar di lapak pedagang. Tak hanya warga yang mencari sarapan, banyak pembeli datang membawa keranjang dan wadah untuk kulakan dalam jumlah banyak.
Baca juga: PT WSG Buka Kronologi Pengaduan Ika, Sempat Bingung Kini Capai Kesepakatan Kerja
Pasar Kembang bukan sekadar tempat berburu jajanan untuk konsumsi pribadi. Sejumlah pembeli membeli dalam jumlah besar untuk dijual kembali di warung, toko kue, kantin, tempat kerja, hingga memenuhi pesanan secara online. Aktivitas jual beli berlangsung cepat sejak dini hari.
Kuncoro, Kepala Pasar Kembang Surabaya, mengatakan saat ini terdapat sekitar 190 pedagang yang berjualan jajanan di kawasan tersebut. Menurutnya, aktivitas perdagangan dimulai sekitar pukul 01.00 WIB, mulai ramai pukul 03.00 WIB, dan mencapai puncak keramaian sekitar pukul 04.00 WIB.
“Pedagang mulai beraktivitas sekitar pukul 01.00 WIB. Mulai ramai sekitar pukul 03.00 WIB dan puncaknya pengunjung datang sekitar pukul 04.00 WIB,” kata Kuncoro.
Menurut Kuncoro, keberadaan ratusan pedagang tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga Pasar Kembang tetap dikenal sebagai salah satu pusat jajanan tradisional di Kota Surabaya. Karena itu, PT Pasar Surya mempertahankan zona khusus bagi pedagang jajanan pasar.
“PT Pasar Surya mempertahankan zona khusus area jajanan pasar. Ini menjadi salah satu upaya agar keberadaan pedagang jajanan tradisional tetap terjaga,” ujarnya.
Tak hanya menyediakan tempat berdagang, pengelola juga mendorong pedagang meningkatkan kualitas usaha. PT Pasar Surya bekerja sama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal di bawah Kementerian Agama untuk membantu pedagang memperoleh sertifikasi halal. Kerja sama dengan perbankan juga dilakukan guna membuka akses kredit lunak sebagai tambahan modal usaha.
Baca juga: Tarik PKL Pasar Tumpah ke Dalam Pasar, PT Pasar Surya Gratiskan Sewa Stan 3 Bulan
Pengelola juga menggandeng Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah dan Perdagangan (Diskopdag) untuk memberikan sosialisasi kepada pedagang, terutama terkait produk dan cara pengemasan yang baik. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu jajanan tradisional tetap memiliki daya saing.
Kuncoro menjelaskan, menjaga keberadaan jajanan tradisional tidak cukup hanya dengan mempertahankan lapak pedagang. Mutu makanan, variasi produk, kebersihan hingga kemampuan mengikuti perkembangan zaman juga harus diperhatikan agar jajanan tradisional tidak kalah bersaing dengan makanan modern.
“Kami memberikan masukan kepada himpunan pedagang agar mutu jajanan tetap dipertahankan, jenisnya semakin bervariasi dan kebersihan terus dijaga. Jangan sampai produk jajanan tradisional kalah atau beralih ke jajanan modern,” jelasnya.
Persoalan regenerasi pedagang juga menjadi perhatian. Menurut Kuncoro, sebagian pedagang jajanan tradisional saat ini sudah berusia lanjut. Karena itu, pengelola mendorong adanya penerus agar aktivitas perdagangan jajanan tradisional di Pasar Kembang tidak berhenti pada satu generasi. Promosi melalui media sosial juga terus dilakukan untuk memperkenalkan pasar tersebut kepada masyarakat lebih luas.
Baca juga: Dari Bahu Jalan ke Lantai 2, PKL Kuliner Pucang Anom Siap Bikin Pasar Makin Hidup
Salah satu pembeli, Maria Ulfa, mengatakan Pasar Kembang memudahkan masyarakat mendapatkan berbagai jenis jajanan tradisional dalam satu lokasi. Banyaknya pilihan dan harga yang relatif terjangkau menjadi alasan pasar tersebut tetap diminati.
“Di sini pilihannya banyak. Kalau mencari jajanan tradisional, tinggal datang dan bisa memilih sesuai selera. Harganya juga relatif terjangkau,” ujar Maria.
Menurut Maria, keberadaan Pasar Kembang penting untuk menjaga jajanan tradisional agar tidak hilang di tengah semakin banyaknya pilihan makanan modern. Dengan aktivitas yang dimulai sejak dini hari, pasar tersebut tidak hanya menjadi pusat transaksi bagi pedagang dan pembeli, tetapi juga menjadi salah satu ruang yang menjaga warisan kuliner Surabaya tetap hidup dari generasi ke generasi. tyan
Editor : Redaksi