Ekstrakurikuler Tata Boga SMPN 5 Surabaya Jadi Wadah Life Skill PDBK, dari Bolu hingga Gorengan

SURABAYA – Ekstrakurikuler tata boga di SMP Negeri 5 Surabaya menjadi salah satu wadah pengembangan keterampilan bagi Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (PDBK). Melalui kegiatan memasak, para siswa tidak hanya belajar membuat makanan, tetapi juga dilatih memiliki keterampilan yang dapat berguna dalam kehidupan sehari-hari.

Kepala SMP Negeri 5 Surabaya, Nurul Yaqin, mengatakan pemilihan memasak sebagai kegiatan ekstrakurikuler berawal dari komunikasi dengan para siswa mengenai keterampilan yang mereka minati. Dari sejumlah pilihan, memasak menjadi salah satu kegiatan yang paling banyak diminati siswa PDBK.

“Awalnya kami konfirmasi ke anak-anak, kira-kira mereka ingin ekstrakurikuler apa. Ternyata yang mereka sukai adalah memasak, sehingga memasak kami berikan sebagai life skill untuk anak-anak PDBK,” ujar Nurul Yaqin, Rabu (30/9/2026).

Kegiatan tersebut dilaksanakan secara rutin setiap satu minggu sekali, tepatnya pada hari Rabu. Berbagai makanan dibuat dalam kegiatan tersebut, mulai dari bolu, martabak, donat hingga aneka gorengan. Menu yang dibuat juga tidak selalu ditentukan oleh guru, tetapi dapat berasal dari usulan para siswa.

Menurut Nurul, kegiatan ekstrakurikuler tata boga tersebut telah berjalan sejak 2018. Meski siswa terus berganti setiap tahun, sekolah kembali melihat minat dan kemampuan siswa untuk menentukan kegiatan yang sesuai.

Dengan demikian, keterampilan yang diberikan dapat menyesuaikan kebutuhan dan ketertarikan mereka.

Untuk modal awal kegiatan, sekolah memanfaatkan sebagian dana insentif guru pendamping inklusi yang kemudian disisihkan sebagai modal kegiatan memasak. Dari kegiatan tersebut, siswa belajar mulai dari menyiapkan bahan, mengolah makanan hingga menghasilkan produk yang siap dikonsumsi maupun dijual.

Hasil masakan siswa kemudian dipasarkan secara sederhana di lingkungan sekolah. Produk tersebut dijual kepada siswa maupun bapak dan ibu guru. Harganya pun relatif terjangkau, mulai dari Rp2.000 hingga Rp3.000, tergantung jenis makanan dan modal yang digunakan.

Guru pendamping PDBK, Diah Puspasari, mengatakan kegiatan tersebut memberikan banyak pengalaman bagi siswa. Selain mengetahui cara memasak dan membuat kue, beberapa keterampilan yang dipelajari bahkan dipraktikkan kembali oleh siswa di rumah.

“Lebih banyak sukanya karena anak-anak jadi tahu bagaimana cara memasak dan membuat kue. Kadang-kadang keterampilan itu juga mereka praktikkan di rumah,” kata Diah.

Diah berharap keterampilan yang diperoleh melalui ekstrakurikuler tersebut dapat menjadi bekal bagi siswa ketika mereka dewasa. Bahkan, sejumlah siswa sudah memiliki keinginan untuk memanfaatkan kemampuan memasak sebagai peluang usaha dari rumah. Selain membuat makanan untuk dijual, siswa juga sesekali diajak memasak makanan berat bersama setelah kegiatan tertentu, seperti setelah ulangan.

Dalam kegiatan itu, mereka menyiapkan nasi, membeli lauk dan sayuran, kemudian memasaknya bersama-sama tanpa dijual. Bagi sekolah, kegiatan tata boga tersebut bukan sekadar belajar memasak, tetapi juga menjadi sarana melatih kemandirian, kerja sama, kreativitas, serta keterampilan hidup bagi PDBK. tyan

Editor : Redaksi

Berita Terbaru