JAKARTA - Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu bicara soal banyaknya tantangan ekonomi yang dihadapi Indonesia saat ini.
Ia menyebutnya ada empat guncangan atau krisis secara bersamaan.
Baca juga: Indonesia–India Dorong Integrasi Keuangan dan Perdagangan di Tengah Ketidakpastian Global
Meskipun guncangan yang terjadi saat ini levelnya berbeda dengan kondisi pada tahun 1965-1996 yang membutuhkan perubahan mendasar dari segi tatanan perekonomian Indonesia.
Mari Elka menilai hal ini perlu menjadi perhatian pemerintah.
"Kita menghadapi bukan hanya satu guncangan atau satu krisis, atau satu disrupsi. Kita menghadapi empat krisis atau guncangan pada saat yang bersamaan. Satu saja sudah akan membuat kita harus berpikir dalam bagaimana kita harus melakukan respons. Tapi kalau empat pada saat yang bersamaan, apa lagi," ujar Mari Elka dalam acara Memorial Lecture Edisi Khusus 100 Tahun Frans Seda di Universitas Atma Jaya, Jakarta Selatan, Kamis (1/10/2026).
Mari Elka mengatakan guncangan pertama berasal dari kondisi eksternal berupa ketidakpastian ekonomi global. Mulai dari kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) serta ketegangan perdagangan antara AS dan China.
Baca juga: Ada Sekitar 80 Ribu Pengangguran Terbuka di Malang
Kedua yakni konflik di Selat Hormuz yang berdampak terhadap bergejolaknya harga minyak dunia.
"Dan kelihatannya ini akan berkepanjangan. Harga minyak tinggi akan berkepanjangan dengan segala dampaknya termasuk ke fiskal kita," ujar Wakil Luhut Binsar Pandjaitan di DEN tersebut.
Tantangan ketiga yakni adanya tantangan yang terjadi di dalam negeri. Di antaranya bagaimana meningkatkan daya saing ekonomi serta mengatasi ketimpangan antarwilayah.
Baca juga: Pria Lompat dari Lantai 5 Tunjungan Plaza, Polisi: Diduga Motif Ekonomi
Tantangan berikutnya yakni bonus demografi. Mari mengatakan sekitar setengah penduduk Indonesia berada pada usia produktif atau usia muda, sehingga menjadi potensi besar bagi pertumbuhan ekonomi. Namun, kata Maria Elka, potensi tersebut dapat berubah menjadi persoalan apabila tidak diimbangi dengan penciptaan lapangan kerja yang memadai.
"Jadi penciptaan lapangan pekerjaan dengan pendapatan yang layak itu menjadi salah satu tantangan kita, termasuk itu juga menyebabkan berkurangnya middle class kita. Dan masih banyak lagi yang menjadi tantangan kita di dalam negeri, tapi juga ada kesempatan," terangnya.ik
Editor : Redaksi