SURABAYA (Realita)- Indonesia dan India mempercepat penguatan kemitraan ekonomi dengan menitikberatkan pada integrasi sistem keuangan, perdagangan, dan investasi di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global. Kedua negara memandang kolaborasi ini sebagai strategi menjaga stabilitas pertumbuhan dan memperkuat posisi Global Selatan.
Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, menyebut hubungan Indonesia–India memiliki bobot strategis karena melibatkan dua negara dengan populasi terbesar pertama dan keempat dunia. Menurut dia, kebijakan ekonomi yang diambil kedua negara akan berimplikasi luas terhadap rantai pasok dan arsitektur ekonomi global.
“Dalam situasi persaingan geopolitik yang kian tajam, kemitraan ekonomi India dan Indonesia menjadi semakin relevan,” kata Sandeep dalam keterangan tertulis, Senin, 26 Januari 2026.
Salah satu fokus utama kerja sama adalah integrasi sistem pembayaran dan pendalaman pasar keuangan. India dan Indonesia menargetkan penyambungan sistem pembayaran digital Unified Payments Interface (UPI) dengan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) pada 2026.
Integrasi ini diharapkan menurunkan biaya transaksi lintas negara dan mendorong perdagangan serta pariwisata bilateral. Selain itu, kedua negara juga mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan serta membuka peluang kolaborasi pasar modal. Langkah ini dipandang sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada dolar Amerika Serikat di tengah volatilitas nilai tukar global.
Dari sisi perdagangan, India menegaskan komitmennya untuk menyelesaikan revisi Perjanjian Perdagangan Barang ASEAN–India (AITIGA). Revisi ini dinilai penting untuk meningkatkan akses pasar, menyeimbangkan neraca perdagangan, serta memperkuat integrasi rantai pasok antara India dan Asia Tenggara. India juga membuka peluang pembahasan perjanjian perdagangan bilateral dengan Indonesia.
Kerja sama investasi turut menjadi sorotan. Sejumlah perusahaan farmasi India menyatakan kesiapan membangun fasilitas produksi di Indonesia, sejalan dengan agenda hilirisasi dan penguatan industri kesehatan nasional. Di sektor layanan kesehatan, kemitraan Rumah Sakit Apollo India dan Mayapada diproyeksikan dapat menekan devisa keluar akibat pengobatan ke luar negeri.
Sandeep juga menyinggung bergabungnya Indonesia ke dalam BRICS pada Januari 2025 sebagai langkah strategis memperluas akses Indonesia ke sumber pembiayaan dan kerja sama global. India, yang akan memegang keketuaan BRICS pada 2026, menyatakan kesiapan menyambut Indonesia dalam agenda penguatan ketahanan ekonomi, inovasi, dan keberlanjutan.
“India dan Indonesia memiliki kepentingan bersama untuk membangun arsitektur ekonomi yang lebih inklusif dan multipolar,” ujar Sandeep.
Menurut dia, penguatan kerja sama ekonomi bilateral akan menjadi fondasi bagi pencapaian visi Indonesia Emas 2045 dan India Maju 2047 di tengah dinamika global yang semakin kompleks.yudhi
Editor : Redaksi